ALLAH SWT mengutus para Nabi-Nya dengan tugas masing-masing. Namun, tugas utama para Nabi adalah untuk menyelamatkan umat manusia dari perbuatan mendustakan Allah SWT.
Begitu juga yang dilakukan Nabi Ilyas as. Menurut buku 'Kisah-Kisah 25 Nabi dan Rasul' karya Ali Nurfadhilah, Nabi Ilyas yang merupakan keturunan keempat Nabi Harun AS, besar di suatu wilayah yang kebanyakan dari mereka menyembah berhala yang disebut Ba'al. Patung tersebut dianggap sebagai Tuhan dan dapat mengabulkan segala keinginan manusia.
Nabi Ilyas AS yang mengetahui adanya praktik itu tak tinggal diam. Setiap hari dia mengajak kaumnya untuk meninggalkan penyembahan berhala dan meminta mereka untuk hanya menyembah Allah SWT.
Berkatalah Nabi Ilyas AS pada kaumnya, "Takutlah kalian kepada Allah SWT yaitu Tuhan kamu, yang menciptakan kamu, dan Tuhan dari nenek moyang terdahulu."
Tak jemu-jemu Nabi Ilyas AS menyerukan kalimat itu kepada kaumnya. Ia tak ingin kaumnya tersebut terus-terusan menyembah berhala. Namun, mereka membangkang dan mengejek Nabi Ilyas AS. Bahkan, para penyembah berhala ini berniat untuk membunuh Nabi Ilyas AS.
Allah SWT Maha Besar, niat kaum kafir itu selalu gagal, karena Allah tak akan membiarkan hamba-Nya yang shaleh dan ikhlas beramal dianiaya orang-orang kafir. Allah mengazab kaum durhaka tersebut dengan datangnya musim kemarau yang teramat panjang.
Azab tersebut membuat orang-orang kesulitan mendapatkan air, ladang pertanian mati tak bisa ditumbuhi tanaman apapun, bahkan ternak pun mati bergelimpangan.
Di situasi seperti ini, kaum kafir pun ingat kepada Nabi Ilyas AS. Mereka meminta Nabi Ilyas AS untuk menurunkan hujan supaya tanah kembali subur. Nabi Ilyas AS yang shaleh mengiyakannya tapi dengan syarat kaumnya itu mau ikut ke jalan yang diridhoi Allah SWT. Para penyembah berhala pun mengiyakannya.
Nabi Ilyas AS pun berdoa kepada Allah SWT agar diturunkan hujan yang besar sehingga negeri mereka subur makmur. Allah mengabulkan doa Nabi Ilyas. Tanah pertanian kembali seperti semula dan suasana tentram seperti sedia kala.
Bukannya bertaubat dan mengikuti ajaran Allah SWT yang disampaikan Nabi Ilyas AS, para kaum pendusta itu malah berbuat kedurhakaan. Mereka kembali memuja berhala dan melupakan Nabi Ilyas. Mereka mengingkari janji.
Mengetahui hal itu, Allah SWT langsung memberi azab yang teramat dahsyat dengan memberikan gempa bumi yang besar sehingga mereka mati bergelimpangan. Sedangkan Nabi Ilyas AS dan pengikutinya diselamatkan Allah SWT dari azab tersebut.
(Dewi Kurniasari)