Harkitnas: Teks Alquran Legitimasi Kesetaraan Lelaki dan Perempuan

, Jurnalis
Rabu 20 Mei 2020 10:56 WIB
Kitab Suci Alquran
Share :

Tanggal 20 Mei Indonesia selalu memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), yang dilatarbelakangi berdirinya organisasi Budi Utomo 1908 yang menggagas nasionalisme. Kemudian Budi Utomo pun memiliki andil dalam pendidikan perempuan.

Dari sinilah lahirnya kebangkitan perempuan dengan membentuk Perkumpulan Wanita Utomo. Perkumpulan tersebut terjadi atas izin Abdul Kadir seorang tokoh Budi Utomo.

Dalam perspektif Islam, kebangkitan perempuan bisa ditelusuri dari kata Nahdlatul yang berasal dari kata نَهْضَة artinya adalah kebangkitan. Nahdlah menurut bahasa berarti kemampuan dan potensi untuk mencapai kemajuan sosial dan lainnya.

Kata tersebut di ambil dari kalimat mutiara kitab al-Hikam: “Janganlah kamu berteman dengan seseorang, yang perilakunya tidak membangkitkanmu dan ucapannya tidak menunjukkanmu ke jalan Allah.”

لاَتَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ حَالَهُ وَلَايَدُلَّكُ عَلَى اللّهِ مَقَالُهُ

Sedangkan an-Nisa berasal dari kata النساء yang artinya perempuan. Secara literal Nahdlatun Nisa memang bermakna kebangkitan kaum perempuan, yangmengarah kepada rasa persaudaraan atas dasar kesamaan jenis kelamin perempuan.

Namun, yang dimaksud di sini tidak terjebak pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan, artinya lebih ke persaudaraan atas solidaritas terhadap nasib dan perjuangan perempuan untuk menemukan kembali hak-hak kemanusiaan yang telah lama tercabut oleh sistem sosial yang diciptakan manusia.

Dalam Alquran, sebutan perempuan an-Nisa dipergunakan sebanyak 57 kali, sama dengan kata rajul atau rijal (Baqi: 871) atau al-untsa yang berpasangan dengan adz-dzakar yang disebut sepuluh kali (Baqi:118-119). Perimbangan penyebutan ini selintas mengindikasikan bahwa antara kedua jenis kelamin tersebut, sungguh pun memiliki perbedaan, tetap diperlakukan dan diperhatikan secara berimbang dan adil oleh Islam (SAS:244).

Kesetaraan (musawah) ini disebut berulang-ulang secara berdampingan dan berpasangan dalam Alquran, Q.S al-Ahzab ayat 35 yang artinya:

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Legitimasi teks Alquran atas kesetaraan laki-laki dan perempuan kemudian diperkuat dengan pernyataan Nabi Muhammad SAW yang menjadi spirit kebangkitan perempuan bahwa “surga berada di bawah telapak kaki ibu”. Ini bukan sekedar ungkapan tanpa makna, tapi benar-benar menempatkan perempuan pada posisi terhormat dan memiliki peran penting. Kemuliaan perempuan kemudian dipertegas lagi oleh Nabi Muhammad SAW dengan satu teks pernyataan dengan dua kali penyebutan untuk perempuan dan satu penyebutan untuk laki-laki.

Yang menarik dalam satu teks hadits penghormatan kepada perempuan itu, secara psikologis lebih kuat maknanya dan lebih komunikatif, karena disampaikan Nabi dalam bentuk dialog dengan seorang sahabat. Ada seorang sahabat datang kepada Nabi, lalu bertanya, “siapa manusia yang paling berhak dihormati? Nabi menjawab “ibumu”, kemudian siapa wahai Nabi?, “ibumu” jawab Nabi lagi, kemudian siapa lagi wahai Nabi? “bapakmu” jawab Nabi kemudian. (HR. Bukhari Muslim).

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya