Harkitnas: Teks Alquran Legitimasi Kesetaraan Lelaki dan Perempuan

, Jurnalis
Rabu 20 Mei 2020 10:56 WIB
Kitab Suci Alquran
Share :

Selanjutnya Ulama yang mewarisi nilai-nilai Nabi dalam mengawal kebangkitan perempuan, salah satunya KH Abdurrahman Wahid atau yang sering disapa Gus Dur. Beliau begitu banyak melahirkan pemikiran terkait kesetaraan dan keadilan gender serta perbaikan status dan posisi perempuan. Pandangannya yang fundamental, seperti menolak perilaku kekerasan terhadap perempuan dan membela nasib pekerja perempuan.

Gagasan-gagasan maupun keteladanannya (Gus Dur: 116-126) dalam kebangkitan perempuan diperankan dalam berbagai posisi yang diembannya, di antaranya sebagai ketum PBNU, Gus Dur mulai mewacanakan mengenai perempuan yang menjadi pemimpin dan juga perlunya kesehatan reproduksi bagi perempuan. Legitimasi peran politik perempuan secara formal diputuskan di Munas Alim Ulama tahun 1997 di Lombok.

Sebagai ketum Dewan Syuro PKB, Gus Dur mempunyai kiat tersendiri dengan mengkondisikan peraturan keterwakilan perempuan dengan merekrut SDM perempuan baik di struktur pengurus partai maupun di sayap organisasi.

Bahkan pada Muktamar PKB di Semarang pada 2005, memasukkan kebijakan kuota 30% di AD ART PKB dan memenuhi 30% di kepengurusan. Selain di struktur partai, dalam rekrutmen pimpinan fraksi maupun alat kelengkapan DPR RI beliau mendorong perempuan untuk menjadi ketua maupun sekretaris fraksi, juga komisi dan badan strategis lainnya di DPR.

Sebagai Presiden RI, dengan tegas mengeluarkan instruksi tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dan mengubah nomenklatur Kementerian Urusan Wanita menjadi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dengan misi yang kuat untuk membangun kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara melalui program pemerintah di seluruh aspek.

Sebagai seorang Ayah, Gus Dur dianugerahi empat puteri tapi tidak merasa perlu memiliki anak laki-laki, hal yang umum terjadi kemudian dijadikan alasan untuk berpoligami. Selain itu menurut pengakuan Ibu Sinta Nuriyah, setiap malam Gus Dur bangun mengganti popok bayi dan setelah sang bayi bersih baru diberikan kepadanya untuk disusui. Tindakan ini dinilai tabu pada saat itu, karena dipandang laki-laki turun derajat apabila mengerjakan hal tersebut, namun bagi Gus Dur segala tabu tidak dijadikan alasan untuk melakukan hal yang menurutnya benar.

Sebagai seorang suami, menurut penuturan Ibu Safarinah Sadli, Gus Dur selalu mendukung langkah dan perjuangan istrinya, Sinta Nuriyah. Hal ini dibuktikan setiap ada kegiatan yang ada hubungannya dengan isu-isu perempuan, misalnya launching buku Gus Dur selalu hadir dan berkontribusi dengan komentar-komentarnya di acara tersebut, hal yang tidak banyak dilakukan oleh suami yang sibuk. Selain itu Gus Dur setia menemani istrinya yang menggunakan kursi roda pasca kecelakaan, melakukan penelitian untuk menyelesaikan tugas thesis Sinta Nuriyah.

Itulah deretan lelaki yang ada di belakang lahirnya kebangkitan perempuan, bahwa mereka meyakini perjuangan perempuan adalah persoalan kemanusiaan.

Oleh : Ai Rahmayanti

Pengurus PP ISNU

(Muhammad Saifullah )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya