RAMADHAN dan hari raya Idul Fitri baru saja berlalu. Sejumlah umat Islam kini kembali beraktivitas seperti sedia kala, termasuk dalam hal ibadah.
Kaum Muslimin pun diimbau tidak mengendurkan pelaksanaan ibadah usai bulan suci dan Hari Kemenangan tersebut. Salah satunya adalah lanjut menunaikan ibadah puasa sunah di Bulan Syawal.
Adapun fadilah atau keutamaan yang bisa diraih umat Islam dari puasa Syawal adalah sebagai berikut, seperti dikutip dari Rumaysho, Selasa (26/5/2020):
1. Menggenapkan pahala puasa satu tahun penuh
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّأَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍكَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
"Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh." (HR Muslim)
2. Dapat menyempurnakan ibadah wajib
Amalan puasa Syawal bisa menyempurnakan kekurangan yang ada pada puasa wajib ketika Ramadhan sebagaimana sholat sunah rawatib yang menyempurnakan ibadah wajib.
3. Tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan
Apabila Allah Subhanahu wa ta'ala menerima amalan puasa Ramadhan seorang hamba, maka Beliau akan menunjukkan untuk melakukan amalan salih lain, di antaranya puasa enam hari di bulan Syawal.
Hal ini sebagaimana perkataan sebagian salaf:
مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُبَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِالسَّيِّئَةُ بَعْدَهَا
"Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya."
Ibnu Rajab menjelaskan hal tersebut dengan perkataan salaf lainnya:
"Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barang siapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barang siapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan."
4. Bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa ta'ala
Ibnu Rajab mengatakan, "Tidak ada nikmat yang lebih besar dari pengampunan dosa yang Allah anugerahkan."
Sampai-sampai Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam pun yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang banyak melakukan sholat malam.
Ini semua dilakukan dalam rangka bersyukur atas nikmat pengampunan dosa yang Allah Subhanahu wa ta'ala berikan.
Begitu pula di antara bentuk syukur karena banyaknya ampunan di bulan Ramadan, di pengujung bulan umat Islam dianjurkan banyak berdzikir dengan mengagungkan Allah Subhanahu wa ta'ala melalui bacaan takbir "Allahu Akbar".
Ini juga di antara bentuk syukur sebagaimana Allah berfirman:
وَلِتُكْمِلُواالْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَاهَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa kepada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS Al Baqarah: 185)
5. Menandakan ibadah terus-menerus dan bukan musiman
Amalan yang seseorang lakukan ketika Ramadhan tidaklah berhenti setelah bulan suci tersebut berakhir.
Amalan seharusnya berlangsung terus selama seorang hamba masih menarik napas kehidupan. Jadi, apabila seseorang segera melaksanakan puasa sehari setelah Idul Fitri, maka itu merupakan tanda bahwa ia begitu semangat untuk melaksanakan puasa, tidak merasa berat dan tidak ada rasa benci.
(Hantoro)