Selain Syawal, Ini Puasa Sunah Lainnya yang Diajarkan Islam

, Jurnalis
Selasa 26 Mei 2020 14:31 WIB
Ilustrasi puasa. (Foto: Reuters)
Share :

UMAT Islam baru saja melalui bulan suci Ramadhan yang penuh berkah. Hari raya Idul Fitri pun sudah dijalani. Namun di depan mata sudah menanti sejumlah ibadah lainnya, baik yang bersifat wajib maupun sunah.

Di antara ibadah tersebut adalah puasa sunah. Berikut ini puasa-puasa sunah yang diajarkan dalam agama Islam, seperti dikutip dari Sindonews, Selasa (26/5/2020):

1. Puasa Syawal

Dari Abu Ayyub al Anshory bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ. ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّال. كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

"Barang siapa berpuasa Ramadhan, kemudian melanjutkan dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal, maka seperti ia berpuasa sepanjang tahun." (HR Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ بعَشْرةِ أَشْهُرٍ، وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَهُ بِشَهْرين، فَذَلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ

"Puasa pada bulan Ramadhan seperti berpuasa sepuluh bulan, dan puasa enam hari setelahnya seperti berpuasa selama dua bulan, maka yang demikian itu (jika dilakukan) seperti puasa setahun." (HR Ahmad)

Puasa Syawal sendiri tidak boleh dilakukan pada hari yang dilarang, yakni Idul Fitri. Puasa Syawal tidak diharuskan berurutan, akan tetapi lebih utama disegerakan demi kebaikan.

Jika ada kewajiban meng-qadha puasa Ramadhan, maka dianjurkan mendahulukan qadha lalu berpuasa Syawal enam hari sebagaimana hadis dari Abu Ayyub al Anshori tersebut.

2. Puasa hari Arafah bagi yang tidak sedang berhaji

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صِيَام ُيَوْمِ عَرَفَةَ أحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ. وَالسَّنَةَ الّتِي بَعْدَهُ

"Puasa pada hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang." (HR Muslim)

Adapun bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah haji, maka yang lebih utama adalah tidak berpuasa pada hari Arafah, sebagaimana yang diamalkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat.

3. Puasa hari Asyura (10 Muharam) dan sehari sebelumnya

Dari Abu Qotadah bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

"Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa setahun yang telah lalu." (HR Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُوْمَنَّ التَاسِعَ

"Sungguh jika aku masih hidup sampai tahun depan aku akan berpuasa pada hari yang kesembilan." (HR Muslim)

Adapun berpuasa pada hari kesebelas maka dalilnya sangat lemah, sehingga tidak bisa dijadikan sandaran.

4. Memperbanyak puasa pada bulan Syakban

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata:

فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ.

"Saya tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan tidaklah saya melihat Beliau memperbanyak puasa dalam suatu bulan seperti banyaknya Beliau berpuasa pada bulan Syakban." (HR Bukhari)

Mengkhususkan puasa atau amalan lainnya pada nisfu Syakban (pertengahan Syakban), maka hal ini tidak ada tuntunannya dalam syariat, karena dalil-dalil yang ada sangat lemah dan bahkan ada yang maudhu (palsu).

Hendaknya tidak berpuasa pada hari syak (hari yang meragukan apakah sudah masuk Ramadhan atau belum), yakni sehari atau dua hari pada akhir Syakban, kecuali bagi seseorang yang kebetulan bertepatan dengan puasa yang biasa dilakukannya dari puasa-pusa sunah yang disyariatkan semisal puasa dawud atau puasa Senin-Kamis.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya