Menjemput Cinta Allah SWT

, Jurnalis
Sabtu 30 Mei 2020 07:31 WIB
Menjemput Cinta Allah (Foto: Shutterstock)
Share :

Pemimpin yang mencintai Allah SWT akan terus bekerja keras untuk menghilangkan kemiskinan dan ketidak adilan. Mereka tidak akan bisa tidur jika ruang amanahnya tidak dijalankan secara maksimal.

Lelahnya saat menjadi pemimpin terasa hilang, karena mengilhami bahwa Allah telah memerintahkan setiap pemimpin harus memanfaatkan otoritasnya untuk mensejahterakan rakyat, membumi hanguskan segala masalah masyarakat seperti kelaparan, pendidikan, kesehatan, kemiskinan dan masalah kehidupan bernegara lainnya.

Saat kita menjadi pendidik, (dosen, guru sekolah, guru ngaji) hanya diniatkan semata-mata merawat ilmu-NYA. Dampak dari ilmu yang kita berikan kemudian membuat setiap murid kita dapat memahami bahwa apa yang diberikan gurunya dan kemudian menjadi sebuah gerakan pengetahuan yang semat-mata untuk meyakini segala kebesaran dan keluasan Ilmu Allah.

Saat kita menjadi kader partai politik misalnya, senatiasa setia menjalankan mandat rakyat yang merupakan ciptaan-Nya. Menjadi kader partai tidak hanya sekadar berburu citra lalu mendapatkan kursi kekuasaan, tetapi dengan penuh keimanan mengekspresikan segala titah Allah SWT dengan berusaha menebar manfaat seluas-luasnya untuk manusia lain sebangsa setanah air. Menjemput cinta Allah dengan bermanfaat untuk seluruh umat, tanpa melihat agama, ras, golongan dan strata sosialnya.

Sungguh mulia sebagian besar dari kita, apabila saat beribadah di dunia dengan suka cita kecintaan pada Allah SWT Tuhan Yang Agung, memberikan persembahan total hanya pada-NYA. Ibarat orang yang sangat percaya dan cinta kepada orang lain, maka orang tersebut akan memberi apa saja yang diminta oleh orang yang dicintainya itu. Begitulah gambaran perlakuan Allah SWT kepada kita pada saat Dia sangat mencintai kita.

(Baca Juga: Ketika Kening Bertakwa, Lidah Memfitnah)

Walhasil, kunci kesuksesan hidup seseorang bukan hanya didasarkan pada kompetensi diri yang bersifat rasional-duniawiyah. Seluruh umat Islam harus mengilhami bahwa kompetensi diri yang bersifat ibadah-ukhrowiyah sangatlah utama.

Seorang mukmin (orang beriman) tidak akan hanya bergantung pada relasi yang baik dan kuat dengan orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Seorang muslim senantiasa meyakini bahwa yang terpenting dalam hidup adalah bergantung pada keberhasilan membangun relasi baik dan kuat dengan Sang Pengatur Alam yakni Allah SWT. Wallahu'alam bishowab.

Oleh : Hadiqun Nuha

(Ketua Bidang Keagamaan dan Pluralisme DKN Garda Bangsa/Pengurus PP Ikatan Sarjana Nahlatul Ulama)

(Muhammad Saifullah )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya