Toleransi (dalam bahasa Arabnya “tasamuh”) telah banyak diajarkan dan dipraktikkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya. Rasulullah SAW paham betul bahwa masyarakat Arab yang menjadi obyek dakwahnya terdiri dari berbagai suku.
Apalagi di lingkungan bangsa Arab sendiri, sikap kesukuan sangat tinggi, yang terdiri dari banyak kabilah. Salah satu contohnya adalah bagaimana Nabi Muhammad SAW mampu bergaul dan berhubungan secara sosial dengan tetangganya yang beragama Yahudi di Madinah.
Bahkan suatu kali ada seorang Yahudi meninggal dunia yang dibawa oleh para kerabatnya untuk dimakamkan. Pada saat yang sama, Nabi SAW dan para sahabat sedang duduk-duduk.
Mengetahui ada jenazah orang Yahudi sedang lewat, Nabi Saw kemudian berdiri sebagai tanda penghormatan. Spontanitas para sahabat bertanya, “wahai Nabi, kenapa engkau berdiri, padahal jenazah tersebut adalah seorang Yahudi?”
Baca juga: Wanita Berusia 70 Tahun Jadi Mualaf Setelah Lihat Putrinya Sujud
Jawaban Rasuullah singkat “setidaknya ia adalah seorang manusia”.