Pendapat imam Ibnu Katsir dalam kitab 'Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir II'. Dalam membahas ayat Alquran tersebut, Ibnu Katsir menegaskan bahwa manusia memiliki fitrah bertuhan.
Namun setelah beranjak tumbuh, maka orangtuanyalah yang menjadikannya mengingkari ikrar tersebut, bahkan menantang Allah, sebagaimana firman Allah dalam Surah Yasin Ayat 77.
أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ
Artinya: "Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata." (QS Yasin: 77)
Baca juga: Cece Cantik Ini Yakin Jadi Mualaf Setelah Mimpi Bertemu Rasulullah
"Perlu diketahui bahwa di balik penciptaan manusia dari air yang hina maupun dari tanah yakni untuk suatu hikmah, karena potensi kesombongan keangkuhan manusia itu besar. Sedangkan manusia adalah makhluk paling mulia dengan kesempurnaan akal dan kalbu serta fitrah kesucian yang mampu me-manage dan mengantisipasi semua gejolak dan amarah nafsu yang dapat mengangkatnya mencapai derajat mulia dari semua makhluk ciptaan Allah," papar Ustadz Ady.
Ia melanjutkan, potensi kesombongan yang bernaung di dalam diri manusia tersebut sejalan dengan hakikat diri manusia yang tercipta dari tanah, perintah untuk bersujud ke tanah, dan jika mati dikembalikan ke tanah agar manusia senantiasa sadar diri bahwa ia tercipta dari tanah dan sari pati tanah yang hina.
Dengan begitu potensi tersebut tidak berkembang semakin menjadi-jadi. Itu juga belum cukup menyelamatkan manusia dari sikap kesombongannya kecuali senantiasa memohon perlindungan dan hidayah Allah.
Baca juga: Kemenag Berangkatkan Jamaah Haji 2022 jika Dapat Kuota 100%