Bahkan, sang ibu rela menyediakan menu sahur maupun buka puasa untuk anaknya yang sudah berstatus Muslim. Ayahnya juga menganggap perbedaan antara mereka sebagai bentuk toleransi antar-umat beragama.
"Mamak tanya, kapan sahurnya? Kapan sahurnya? Saya terkejut. Saya bilang sekitar jam 2. Mamak terima kok katanya, itu kan udah pilihan, mamak menghargai itu. Bapak saya bilang enggak apa-apa beda keyakinan, tetapi tetap toleransi," tutur Fatih.
Baca juga: Cerita Mualaf Wanita Amerika, Berawal Takjub Islam Menentang Rasisme
Baca juga: Kisah Wanita Mualaf dari Keluarga Pemuka Agama, Kini Jadi Guru Ngaji Gratis untuk Semua Orang
Dirinya juga tidak perlu risau untuk beribadah di rumah. Ibunya tidak keberatan jika Fatih harus melaksanakan sholat tepat di sampingnya.
Wallahu a'lam bisshawab.
(Hantoro)