JAKARTA - Daftar jamaah haji Indonesia yang meninggal di Arab Saudi terus bergerak naik. Sampai Kamis (27/7/2023) pukul 16.00 WIB, angka jamaah wafat sudah menembus 751 orang. Angka ini merupakan tertinggi setelah tertinggi melewati tahun 2017 dengan 658 orang meninggal di Tanah Suci.
Sebagian besar kematian jamaah terjadi di Makkah. Berdasarkan data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) yang diolah dari Siskohatkes-Kemenkes, total jamaah wafat mencapai 751 orang.
Sebagian besar meninggal di Makkah mencapai 573 orang atau setara 76 persen keseluruhan jamaah yang wafat. Sisanya, 83 meninggal di Madinah, Mina (62 orang), Arafah (16) dan Jeddah (14).
"Jumlah ini tertinggi dalam proses perhajian sejak 2017. Meski, bisa dimaklumi karena karena jamaah haji lansia juga sangat banyak, ditambah kondisi di Arab Saudi, seperti diketahui cuacanya sangat panas mendekati 50 derajat celcius. Seperti saat berada di Arafah rata-rata 44 derajat," kata Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholis Qoumas.
Karena itu, tambah Menag, Kemenag akan melakukan evaluasi dan melakukan komunikasi dengan Kepala Pusat (Kapus) Haji Kemenkes agar mekanisme soal istitha'ah kesehatan ikut menjadi bagian dari perbaikan. Misalnya. Sebelum calon jamaah haji melakukan pelunasan, harus dilakukan check kesehatan lebih dahulu.
"Jika dinyatakan sehat dan kuat untuk diberangkatkan, baru bisa melakukan pelunasan. Sekarang kan tidak. Jamaah melakukan pelunasan Bipih-nya terlebih dulu, baru kemudian ada pemeriksaan kesehatan," tambah menteri yang biasa dipanggil Gus Men tersebut. Menurut Gus Men, tidak menutup kemungkinan, tahun depan prosesnya akan dibalik.
Di mana, jamaah harus melakukan tes kesehatan dulu dan jika memang kondisinya siap melaksanakan ibadah baru diperbolehkan melunasi. "Karena kita tahu ibadah haji adalah ibadah fisik tentu membutuhkan performa fisik yang matang, dan prima," ujarnya. Namun, Syarat tersebut, ditegaskan Gus Men tidak akan memengaruhi kebijakan terhadap lansia.