Pada hari kiamat, Hajar Aswad akan menjadi saksi bagi siapa saja yang pernah menyentuhnya dengan sungguh-sungguh sebagaimana hadits yang diriwayatkan dalam kitab as-Sunan karya at-Tirmidzi dan al-Ausath karya at-Thabrany.
Hajar Aswad seolah-olah merupakan tangan Allah yang ada di muka Bumi ini. Hadits berikut ini saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya, sehingga menjadi hadits hasan:
إِنَّ الْحَجَرَ الْأَسْوَدَ يَمِينُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ، فَمَنْ لَمْ يُدْرِكْ بَيْعَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَسَحَ الْحَجَرَ، فَقَدْ بَايَعَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ»
Artinya: “Sesungguhnya Hajar Aswad merupakan (seolah) tangan Allah di muka bumi. Barangsiapa yang tidak bisa berbaiat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian mengusap Hajar Aswad, maka ia sedang berbaiat kepada Allah dan Rasul-Nya. (Muhammad al-Azraqi, Akhbaru Makkah wa Mâ Jâa minal Âtsâr, Beirut, juz 1, halaman 325).
Selain keistimewaan, Hajar Aswad memiliki beberapa keutamaan. Keutamaan Hajar Aswad adalah sebagai berikut:
• Merupakan bagian paling mulia di muka Bumi dan berada di sudut timur laut Kakbah, tempat pertama yang dibangun Nabi Ibrahim dan Ismail.
• Menjadi titik awal pelaksanaan tawaf. Seluruh jamaah memulainya dari sudut tersebut.
• Dulunya Hajar Aswad memancarkan cahaya terang, namun cahaya itu kini ditutupi oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat.
(Erha Aprili Ramadhoni)