Dua kebahagiaan yang disebutkan secara langsung itu, berasal dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bersumber dari Abu Hurairah:
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَقُولُ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ: ... وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ، وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهُ
Artinya: "Dari Nabi saw, ia bersabda: Allah berfirman: 'Dan teruntuk orang yang berpuasa itu ada dua kebahagiaan: bahagia ketika berbuka dan bahagia ketika bertemu dengan tuhannya'.”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah
Mazharuddin Az-Zaidani dalam kitab Al-Mafatih fi Syarhil Mashabih, jilid III halaman 9-10, menjelaskan, ada dua hal yang menyebabkan orang yang berpuasa menjadi berbahagia saat berbuka, yaitu: pertama, bahagia sebab sudah diperkenankan makan dan minum. Karena pada dasarnya, manusia akan merasakan kenikmatan makan dan minum setelah ia benar-benar menderita sebab lapar dan haus.
Kedua, bahagia sebab diberikan pertolongan (taufik) untuk menyelesaikan kewajiban puasa di hari tersebut.
Adapun kebahagiaan yang timbul karena pertemuan dengan Allah, Az-Zaidani menyebutkan, hal itu terjadi karena pemberian pahala untuk orang-orang yang berpuasa. Az-Zaidani menegaskan, kebahagiaan yang dirasakan manusia ketika bertemu dengan Tuhan, tidak bisa digambarkan dengan ibarat apapun.