Puasa, Senjata Ampuh dari Tuhan untuk Hadapi Pertempuran Abadi

Kamis 09 Mei 2019 03:38 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 08 330 2053150 puasa-senjata-ampuh-dari-tuhan-untuk-hadapi-pertempuran-abadi-wsOK0MMOqf.jpg

Dalam sebuah hadis sahih, Nabi menyatakan: “al-shiyamu junnatun,” puasa adalah perisai (HR Muslim). Dalam riwayat lain disebutkan: “al-shiyamu junnatun min al-nar ka junnati ahadikum min al-qital, puasa adalah perisai dari api neraka seumpama perisai seseorang dalam pertempuran (HR Baihaqi dan Nasa’i).

Manusia hidup dalam pertarungan abadi melawan musuh terbesar yaitu hawa nafsu. Nafsu merasuki manusia melalui jenis-jenis kesenangan dunia yang disebut dengan syahwat. Syahwat manusia memusat pada keinginan untuk memenuhi kebutuhan perut (hasrat seksual). Dua jenis syahwat ini memiliki sejarah panjang dan riwayat tertua dalam menyesatkan manusia dari jalan Tuhan.

Moyang manusia, Nabi Adam As dan ibunda Hawa terusir dari surga, tersuruk ke bumi karena kejahatan perut (memakan buah terlarang). Diceritakan dalam al-Qur’an (QS al-Baqarah/2: 30-39), QS al-‘A’raf/7: 19-26, dan QS Thaha/20: 115-123), setelah memakan buah terlarang, aurat (kemaluan) keduanya tersingkap.

Sebagian mufassir menyatakan, Adam dan Hawa melakukan hubungan badan karena dorongan nafsu yang muncul setelah makan buah terlarang. Aurat keduanya tersingkap. Adam pun malu kepada Tuhan kemudian lari dari surga dan menangis sejadi-jadinya (lihat al-Syuyuthi, Ad-Durrul Mantsur fit-Tafsir al-Ma’tsur, juz 1, hal. 108-109).

Nafsu perut dan bawah perut adalah wahana utama yang digunakan setan untuk menyesatkan anak cucu Adam. Keinginan-keinginan yang muncul dari golongan nafsu perut dan kelamin rentan menyeret manusia ke jalan setan dan menjauhkan manusia dari jalan Tuhan. Untuk memenuhi kebutuhan perut, manusia bisa melakukan apa saja, termasuk mencuri, merampok, korupsi, dan cara-cara lain yang tidak halal.

Makanan membentuk aliran darah. Jika makanan yang diasup diperoleh dengan cara yang tidak halal, aliran darah seseorang akan menjadi sarang setan untuk melancarkan kejahatan. Hati manusia, sebagai cermin yang memantulkan cahaya Tuhan, perlahan akan buram tersaput noda.

Jika itu terjadi, cahaya Tuhan tidak bisa dipantulkan oleh cermin yang buram. Hati manusia perlahan akan melapuk dan mengeras, kedap terhadap kebenaran, kebal terhadap hidayah. Kontak terhadap Tuhan terputus. Akibatnya, hidupnya gelisah, batinnya kerontang kendatipun berlimpah materi.

Puasa adalah metode yang ditawarkan Tuhan untuk melawan perangkap-perangkap setan yang mewujud dalam dua kesenangan utama, kesenangan perut dan bawah perut (syahwatul batn wal farj). Dua jenis kesenangan ini penyebab kejatuhan moyang manusia dari surga.

Nabi menyatakan, puasa adalah perisai, seumpama tameng yang digunakan untuk bertempur. Musuh abadi manusia dalam pertempuran hidup adalah setan yang menggoda manusia dengan berbagai macam bujuk rayu.

Godaan setan yang paling dahsyat memusat pada dorongan nafsu perut dan nafsu kelamin. Karena itu, definisi puasa secara syar’i adalah menahan diri dari kegiatan makan/minum dan hubungan seksual dari fajar hingga terbenamnya matahari dengan disertai niat.

Perut kosong merupakan perisai untuk menangkal segala macam pengaruh jahat setan. Inilah makna dari hadits tentang dibelenggunya setan pada bulan Ramadan. Setan terbelenggu karena ruang geraknya menyempit, perangkap-perangkapnya menciut, pintu-pintunya tertutup.

Ketika perut kosong, nafsu seks turun, temperatur batin lebih stabil, emosi berkurang, dorongan untuk melakukan kejahatan menurun drastis. Badan yang lemas karena puasa juga akan cenderung membuat manusia lebih nyaman diam dank arena itu terbuka peluang untuk lebih banyak “bicara” dengan Tuhan.

Mulut yang kering mengurangi hasrat seseorang untuk membicarakan sesuatu yang tidak perlu, bergosip, bergunjing, bertengkar, dst. Ibarat tanah, kondisi manusia pada waktu puasa bukanlah lahan subur bagi setan untuk menyemaikan benih-benih kejahatannya.

Inilah keistimewaan puasa, senjata ampuh yang ditawarkan Tuhan kepada manusia dalam menghadapi pertempuran abadi melawan setan. Karena itu, Tuhan sangat possesif terhadap puasa manusia. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis qudsi: “Seluruh amal anak cucu Adam untuk mereka sendiri, kecuali puasa. Ia milik-ku dan Aku sendiri yang akan mengganjarnya” (HR Bukhari).

Inspirasi Ramadan 1440 H

Oleh Ali Masykur Musa

(Ketua Umum PP ISNU-Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya