Puasa dan Persamaan Manusia di Muka Hukum

Jum'at 10 Mei 2019 16:36 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 10 330 2054113 puasa-dan-persamaan-manusia-di-muka-hukum-H6knhRv6nl.jpg

DALAM QS al-Baqarah/2: 83, perintah puasa dimulai dengan seruan: “Hai orang-orang yang beriman (ya ayyuha- I Iadzina amanu). Redaksi yang digunakan adalah amanu, kata kerja aktif.

Dengan redaksi ini, Allah mengundang semua orang yang di hatinya ada iman, tanpa kecuali, tanpa diskriminasi, baik mereka yang imannya sudah kuat atau masih lemah, yang teguh atau rapuh, yang kaya atau miskin, semuanya tunduk kepada perintah wajib puasa.

Orang yang di rumahnya penuh aneka makanan berlimpah atau orang yang setiap harinya nyaris setengah berpuasa karena memang tidak mempunyai makanan, semuanya diwajibkan berpuasa di bulan Ramadan. Dengan demikian, ayat puasa dimulai dengan pelajaran tentang persamaan di muka hukum.

Dewasa ini kita menyaksikan penegakan hukum yang timpang. Hukum ibarat pedang tajam yang menohok orang-orang yang lemah, tetapi tumpul menghadapi orang-orang yang kuat. Kita pernah mendengar berita tentang seorang pencuri kain sarung dihukum dua tahun penjara.

Di sisi lain, ironis kita menyaksikan masih banyak koruptor yang menggondol uang Negara puluhan atau bahkan ratusan milliard masih bebas melenggang, atau pun kalau dihukum, dihukum ringan dan sama sekali tidak memenuhi rasa keadilan dalam masyarakat.

Gejala ini dapat membahayakan fondasi bernegara. Sebab, jika hukum tidak lagi berwibawa, orang tidak akan percaya kepada hukum dan akibatnya orang akan memilih untuk main hakim sendiri. Selanjutnya terjadilah anarki, masyarakat tanpa hukum dan tanpa tertib politik. Kekacauan akan terjadi dimana-mana.

Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari Muslim, Rasulullah mengingatkan tentang bahaya hukum yang diskriminatif. Suatu saat, masyarakat Quraisy digemparkan oleh kasus seorang wanita suku Makhzumiyyah (salah satu suku terpandang) yang mencuri. Mereka membujuk Usamah ibn Zaid, salah seorang yang dikasihi Rasulullah, untuk memohonkan pengampunan atau keringanan hukum, mengingat pencurinya adalah seorang wanita bangsawan.

Rasulullah yang mendengar permintaan itu sontak berdiri di tengah-tengah dan berbicara tegas: “Sungguh, umat sebelum kalian hancur karena ketika di antara mereka ada yang mencuri dari kalangan terpandang, mereka membiarkannya; sementara jika pelakunya kalangan rendahan mereka menjatuhkan hukuman.” Rasulullah kemudian mengucapkan kalimat yang sangat terkenal: “Demi Allah, seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya” (wa aymullah, law anna fathimat binta Muhammad saraqat, laqatha’tu yadaha).

Perhatiakn redaksi yang digunakan Rasulullah, law anna fathimat binta Muhammad, bukan, misalnya, binta Rasulillah. Di situ Rasulullah menempatkan dirinya sebagai manusia yang setara dengan manusia lain. Beliau berbicara sebagai Muhammad, pribadi yang punya anak, yang juga harus tunduk pada hukum tanpa pengecualian. Rasulullah tidak menggunakan otoritasnya sebagai rasul, yang anak-anaknya memiliki privelege untuk kebal hukum.

Dewasa ini, kita sering prihatin karena pejabat dengan jabatannya atau anak-anak pejabat yang berlindung kepada jabatan orangtuanya, memiliki privelege tertentu untuk menjadi lebih kebal hukum dari orang kebanyakan. Jika ini mewabah, waspadalah, ini sinyal dari keruntuhan sebuah negara. Marilah, semangat dan moral Ramadan ini kita jadikan sebagai momentum untuk menyelenggarakan penegakan hukum tanpa diskriminasi, tanpa makelar kasus, tanpa suap, agar pemerintahan menjadi bersih dan berwibawa. Jika pemerintahan bersih dan berwibawa, rakyat punya hak lebih cepat untuk makmur dan sejahtera.

Inspirasi Ramadhan 1440 H

Oleh Ali Masykur Musa

(Ketua Umum PP ISNU-Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama)

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini