Puasa Menyucikan Jiwa dan Raga

Selasa 14 Mei 2019 15:46 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 14 330 2055568 puasa-menyucikan-jiwa-dan-raga-GQEFHo42zO.jpg Ilustrasi puasa (Foto: Shutterstock)

PADA saat berpuasa, kita dilatih untuk jujur pada diri sendiri. Kita pun diajari cara berinteraksi dengan orang lain. Puasa juga menjadi awal yang tepat untuk mengopname jiwa kita yang telah terjangkiti penyakit, baik fisik maupun mental.

Ada dua unsur utama dalam diri setiap manusia: jasmani dan rohani. Keduanya sama-sama membutuhkan suplai makanan. Jasmani memerlukan makanan yang berbentuk dan cenderung kelihatan mata, sementara rohani lebih membutuhkan makanan yang cenderung tak terlihat oleh mata dan hanya dapat dirasa saja.

Pemenuhan kebutuhan makanan jasmani menyebabkan ia menjadi kuat dalam menjalani aktifitas dan rutinitas yang diperlukan. Begitu pula dengan rohani. Ketika kebutuhan yang diperlukan rohani telah dipenuhi, maka rohani akan lebih tahan banting dalam menapaki kehidupannya.

Singkatnya, makanan-makanan itu mutlak diperlukan untuk kesehatan luar-dalam setiap manusia. Selain itu, makanan-makanan ini juga sangat penting untuk keberhasilan proses menuju kesempurnaannya sebagai manusia, baik secara fisik maupun non fisik.

Selain manusia, ternyata banyak makhluk hidup di sekeliling kita yang juga berpuasa, meskipun cara dan waktunya tidak selalu sama dengan yang kita lakukan. Temuan para ahli zoologi memperkuat hal itu. Mereka berhasil membuktikan bahwa ikan, serangga, dan burung pun berpuasa. Pertanyaannya kemudian, mengapa mereka berpuasa?

Temuan di atas semakin jelas menunjukkan bahwa puasa tidak hanya berfungsi sebagai ibadah saja. Puasa justru lebih berfungsi untuk mengembalikan keteraturan hidup dan menormalkan cara kerja organ tubuh. Benar kiranya apa yang dikatakan oleh Rasulullah Saw., “Berpuasalah, maka kalian akan sehat.”

Ternyata apa yang dikatakan Nabi itu tidak hanya berlaku pada manusia, tetapi juga pada hewan-hewan di atas. Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, para ahli menemukan bahwa hewan-hewan di atas mampu menjaga eksistensi dan kelangsungan hidupnya justru di saat mereka menjalani aktivitas puasa. Artinya, hewan-hewan itu berpuasa demi mengikuti tuntutan “batin”-nya agar bisa hidup sehat dan normal. Apalagi, pada waktu-waktu tertentu, semua makhluk hidup—termasuk kita—pasti mengalami masa jenuh mengonsumsi makanan, sekalipun banyak makanan tersedia untuk mereka.

Bagi kita sebagai manusia, puasa tidak dipungkiri lagi dapat menstabilkan kondisi fisik kita. Selain itu, puasa juga dapat mengembalikan kebugaran tubuh dan semangat hidup, yang pada gilirannya akan berpengaruh dalam memperbaiki fungsi tubuh secara umum. Ibadah ini pun mampu memperlambat penuaan dan menjadi terapi diet yang murah nan aman. Itu artinya, puasa tidak hanya untuk kepentingan akhirat saja, tetapi juga untuk kepentingan dunia. Dengan kata lain, puasa bukan hanya untuk Allah, tetapi juga untuk kita.

Orang yang sedang berpuasa pasti dinaungi oleh mendung sepanjang hari... puasa adalah sarana pembersihan jiwa. - Al-Jurjawi -

Selain itu, sebagai makhluk yang menempati ruang dan waktu, setiap manusia “dipaksa” harus mengikuti putaran 12 bulan dalam satu tahun. Selama kurun waktu itu, bagi kebanyakan orang, tampaknya porsi untuk kerja jasmani mendapat bagian jauh lebih besar daripada kerja rohani.

Tidak usah jauh-jauh, putaran waktu yang 24 jam dalam sehari saja, kerja jasmani bagi umumnya manusia lebih dominan dan banyak menyita waktu. Akibatnya jelas, jasmani lebih gemuk daripada rohani dan kekurusan rohani tak terhindarkan lagi. Kekurusan inilah yang nantinya menjadi sebab munculnya penyakit-penyakit sosial yang diidap oleh sekian banyak masyarakat kita, mulai dari tingkat paling bawah sampai yang teratas.

Puasa yang diterima adalah puasa yang memberdayakan

Sebuah Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah menjelaskan, bahwa “Puasa itu perisai. Oleh karenanya, ketika salah seorang di antara kalian berpuasa, ia jangan berkata kotor, jangan berbuat fasik, dan jangan melakukan perilaku bodoh. Jika ada orang lain mengajaknya bertengkar atau mencacinya, maka katakan, saya sedang berpuasa”.

Jadi, seorang yang berpuasa jangan sampai memahami puasanya itu sekedar kegiatan tidak makan, tidak minum, dan melakukan persetubuhan, mulai dari ketika fajar muncul sampai fajar tenggelam kembali. Karena kesempurnaan puasa tidak tergantung pada pengendalian diri dari hal-hal yang bersifat konkret dan nyata. Kesempurnaan puasa lebih bergantung pada pengendalian diri dari sesuatu yang abstrak dan tidak tampak nyata.

Apa pun motivasi serta bentuk dari puasa, ia tidak dapat dipisahkan dari usaha pengendalian diri. Pengendalian akan mengantarkan manusia pada kebebasan dari belenggu “kebiasaan” yang mungkin dapat menghambat kemajuannya. - M. Quraish Shihab

Hadis di atas mengajarkan makna yang mendalam mengenai bagaimana puasa yang sesungguhnya diharapkan Allah dari seorang hamba. Memang, jika puasa hanya dipahami sebagai kegiatan tidak makan, tidak minum, dan tidak melakukan persetubuhan saja, maka puasa tidak akan banyak memberi arti bagi nilai-nilai kemanusiaan secara luas.

Pengendalian diri yang dituntut dari puasa bukan semata-mata bertujuan sebagai bentuk pengekangan. Pengendalian diri saat berpuasa lebih ditujukan sebagai upaya penyucian dari segala sesuatu yang biasa dibebaskan. Makan, minum, dan bersetubuh hanya menjadi sebuah simbol pengendalian, karena ia tampak nyata dan melingkupi kehidupan manusia. Sesuatu yang di balik simbol-simbol itulah sesungguhnya yang menjadi tujuan utama disyariatkannya puasa.

Seperti diketahui, tujuan utama disyariatkannya puasa adalah untuk memecah gumpalan hawa nafsu dan melipatgandakan kadar ketakwaan. Karenanya, arti puasa yang sesungguhnya baru bisa didapat dengan menyerahkan secara penuh anggota tubuh untuk semua yang disukai Allah dan mengendalikannya secara menyeluruh dari segala sesuatu yang dibenci-Nya.

Puasa itu satu-satunya ibadah yang dilakukan dengan serba rahasia. Hanya diri kita dan Allah yang mengetahuinya.... Puasa adalah salah satu wahana pendidikan dan pelatihan untuk teguh pendirian dan tahan godaan. - Rasyad Fuad As-Sayyid -

Mereka yang mengumbar aktifitas nafsunya dan mengenyampingkan ketakwaan selama berpuasa, puasanya tidak akan bermakna. Seorang yang setelah berbuka melakukan “balas dendam” dengan mendobelkan porsi makannya atau seorang yang berpuasa tetapi memakai harta yang tidak halal untuk santap buka dan sahurnya, sungguh puasanya benar-benar telah gagal total. Seorang yang berpuasa, tapi penyakit hatinya, seperti menggunjing, berdusta, berkhianat, mengadu domba, dan kasak-kusuk masih dipelihara, puasanya juga akan sia-sia belaka.

Bahkan dalam sebuah hadis yang kualitasnya masih dipermasalahkan para ulama disebutkan, penyakit-penyakit hati itu dapat membatalkan puasa. Memang terjadi pro-kontra dalam memahami makna hadis ini. Ada ulama yang menyatakan bahwa makna hadis itu tidak hakiki. Namun tidak sedikit ulama yang menyatakan bahwa makna hadis itu hakiki, seperti diwakili oleh Aisyah dan Imam Ahmad.

Terlepas dari pro-kontra mengenai kualitas dan makna Hadis ini, yang jelas Hadis ini semakin menegaskan bahwa puasa bukanlah kegiatan fisik semata. Semangat inilah yang mungkin dapat ditemukan dalam Hadis: “Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi puasanya tidak berarti apa-apa kecuali lapar dan dahaga.”

Puasa menjadi terapi ampuh menghambat stres dan menghentikan kecanduan.

Puasa itu merupakan sarana. Sarana yang telah disediakan Allah untuk mempercepat proses penyucian luar-dalam nilai-nilai kemanusian kita dan menyeimbangkan kembali fungsi jasmani dan rohani. Karena, puasa adalah asas ibadah dan kunci pendekatan diri kepada Allah yang paling utama. Dengan berpuasa, diharapkan penyakit-penyakit yang menjangkiti kita, baik itu yang individu maupun yang sosial, dapat segera hilang. Karena, penyakit-penyakit itu tumbuh sebagai akibat dari rohani yang sakit.

Hikmah puasa yang dapat dipetik akan mengingatkan kita bahwa untuk menuju kemenangan atas diri dan kemanusian kita, kita harus memulainya dengan mengendalikan diri. Penyucian diri tak akan berhasil dengan sempurna tanpa ada proses pengendalian diri terlebih dahulu. Bagaimana mungkin kesempurnaan dapat dihasilkan, sedangkan bagian yang menjadi obyek kesempurnaan itu masih kotor.

Oleh Dr. Moch. Syarif Hidayatullah, Lc.

Dai Ambassador Dompet Dhuafa dan Ketua Umum ADDAI (Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya