nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pelajari Tiga Ciri Ikhlas, Kunci agar Ibadah Diterima Allah SWT

Rabu 22 Mei 2019 14:18 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 22 330 2058965 pelajari-tiga-ciri-ikhlas-kunci-agar-ibadah-diterima-allah-swt-p0pN4gm4SH.jpg Ilustrasi seorang hamba ikhlas beribadah karena Allah

“Segala sesuatu ada kuncinya dan kunci ibadah adalah ikhlas. Allah tidak akan menerima suatu amal kecuali yang ikhlas dan hanya mengharap ridho-Nya” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).

Apakah ikhlas itu? Ikhlas berasal dari kata khalasha yang artinya murni. Sesuatu yang murni disebut dengan khalish seperti terungkap dalam ayat Alquran “ala lillahi –ddin al-khalish (QS an-Zumar/39: 3) (Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni). Juga terungkap dalam ayat Qur’an (QS an-Nahl/16:66) labanan khalishan sa;ighan lis syaribin (susu murni yang segar untuk diminum).

Ikhlas berarti memurnikan. Pelakunya disebut dengan mukhlish. Secara terminologis, ikhlas adalah memurnikan niat dan amal perbuatan hanya untuk Allah dan tidak berharap pujian atau ganjaran selain dari-Nya. Penyakit yang menggerogoti ikhlas adalah riya’ dan sum’ah. Riya’ berasal dari kata ra’a yang artinya melihat. Sum’ah berasal dari kata sami’a yang artinya mendengar. Secara terminologis, riya’ dan sum’ah adalah hasrat untuk dilihat dan didengar manusia dalam amal perbuatannya.

Allah akan menghapus amal perbuatan yang disertai riya’ dan sum’ah karena Allah membenci segala bentuk penyekutuan. Allah menyatakan: “la in asyrakta layahbathanna amaluka (QS al-Zumar/39: 65) (jika engkau menyekutukan Allah, akan hapuslah amal perbuatanmu).

Kenapa riya’ dan sum’ah disebut bagian dari syirik? Karena riya’ dan sum’ah telah merampas hak Allah atas ibadah manusia. Dengan riya’ dan sum’ah, manusia menyandingkan Allah dengan makhluk dalam ibadah-Nya. Orang tidak menempatkan Allah sebagai satu-satunya tujuan ibadahnya.

Ia ingin dilihat manusia, takjub dengan pujian mereka, bangga dengan popularitas karena kebaikannya dan tidak mencukupkan Allah sebagai pemeriksa amal perbuatannya. Jika pujian makhluk berbalik menjadi cercaan, dia menjadi risau dan tidak terdorong lagi melakukan kebaikan karena kebaikannya tidak dianggap oleh manusia.

Dzun Nun Al-Mishri, seorang sufi besar, menyampaikan tiga ciri ikhlas; (1) tidak peduli dengan pujian dan cercaan manusia; (2) Kalau beramal tidak pernah diingat-ingat; dan (3) hanya mengharapkan Allah dan akhirat. Bulan Ramadan yang kita isi dengan banyak amalan ibadah mahdhah dan ghoiro mahdhah, semoga terhindar dari benalu yang akan menggerogoti amal kita, yaitu riya’.

Inspirasi Ramadhan 1440 H

Oleh Ali Masykur Musa

(Ketua Umum PP ISNU-Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama)

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini