nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Serunya Ngabuburit Sambil Berburu Udang Galah di Sungai Kapuas

Ade Putra, Jurnalis · Rabu 22 Mei 2019 13:22 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 22 614 2058915 serunya-ngabuburit-sambil-berburu-udang-galah-di-sungai-kapuas-zqeJE44xXP.jpg Ngabuburit sambil mancing udang di Sungai Kapuas (Foto: Ade Putra/Okezone)

BANYAK cara yang bisa dilakukan sambil menunggu waktu berbuka puasa atau lazim disebut ngabuburit. Selain memperbanyak ibadah, bisa juga dilakukan dengan menyalurkan hobi. Salah satunya memancing udang atau ikan di sungai.

Seperti yang dilakukan para jurnalis Kalbar yang tergabung dalam Jurnalis Fishing Club (JFC). Sambil menunggu waktu berbuka puasa alias ngabuburit, mereka memancing di perairan Sungai Kapuas, yang notabene merupakan sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang 1.143 kilometer.

"Sambil nunggu waktu berbuka, kami mancing. Ibadah tetap dong. Makanya biasanya kami mulai mancing selepas Asar, kalau yang lokasinya dekat dengan rumah. Mancing udang ini juga melatih kesabaran," kata Ketua JFC, Andry Soe kepada Okezone, belum lama ini.

Ia menuturkan, sebenarnya keberadaan komunitas ini sudah terbilang cukup lama. Sejak 2014 silam. Namun karena terbentur beragam aktivitas serta kesibukan masing-masing dalam menjalankan tugas jurnalistik, ditambah lagi sejak setahun terakhir fokus mengawal jalannya perhelatan Pemilu 2019, makanya kegiatan komunitas ini sempat vakum.

"Kini pesta demokrasi itu telah selesai. Tiba saatnya Jurnalis Fishing Club akan kembali berpetualang menelusuri daerah aliran sungai di Kalbar untuk berburu udang galah," terang Andry.

Ia menerangkan, biasanya komunitas ini menghabiskan akhir pekan dengan berpetualang menelusuri daerah aliran sungai (DAS) di seantero Provinsi Kalbar. Mulai dari DAS di Kota Pontianak dan Singkawang, Kabupaten Kubu Raya, Mempawah, Bengkayang, Sambas, Sanggau dan Sekadau serta sekitarnya.

"Nah, sempat vakum, sekarang kami mulai aktif lagi. Pasca-pemilu dan pas bulan Ramadan ini, kita mencoba mulai berpetualang lagi. Ini ngabuburit kami," ujarnya.

Nantinya, spot atau lokasi mancing yang bakal dituju bersama komunitas sudah dikompromikan terlebih dahulu. Sekaligus mempersiapkan segala peralatan yang diperlukan menjelang keberangkatan menuju spot potensial si Jepit Biru itu.

Mulai dari menyiapkan piranti memancing seperti reel, joran, mata pancing, benang, headlamp, tang, gunting, timah serta umpang cacing nipah maupun anak udang dan lain sebagainya.

“Saya secara pribadi ketika berangkat menuju spot seolah tak ada aral yang bisa menghadang. Mulai dari cuaca dan lain sebagainya. Bagi saya bicara hasil itu nomor 17 sekian. Yang penting ketika timah sudah menyentuh dasar sungai, terasa adem hati ini. Yuhuuuu,” ucapnya seraya tersenyum. 

Sedangkan sarana mancing sambil ngabuburit yang biasa dipergunakan dalam berburu udang galah di sungai juga beragam. Di antaranya speedboat, kapal motor kayu, sampan bermesin maupun perahu dayung. “Terkadang ketika berada pada spot-spot tertentu, satu unit sampan bermesin bisa menarik hingga belasan perahu untuk menuju spot pemancingan. Inilah yang namanya kebersamaan,” tutur warga Sungai Raya Dalam, Kabupaten Kubu Raya ini.

Menurutnya, hobi mancing udang galah tidak serta merta mengharapkan hasil yang banyak alias berlimpah. Namun baginya ketika sudah berada di atas sampan atau perahu, maka dirinya merasakan sensasi yang luar biasa. Terlebih bisa menikmati indahnya alam serta segarnya udara pagi.

"Tak kalah penting, ini bisa menjadi sarana melatih kesabaran. Pas kan dengan momen lepas pemilu dan bulan Ramadan ini. Kita harus sabar menahan emosi dan nafsu saat berpuasa," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, wartawan desk politik ini berbagi pengalaman seputar memancing udang galah di sungai. Menurutnya, seorang pemancing itu harus senantiasa tenang dan tidak boleh gegabah dalam berbagai situasi dan kondisi ketika berada di sungai. Terlebih ketika berada di atas sampan berkapasitas 1 atau 2 orang.

“Ketenangan dari seorang angler itu penting. Mulai dari mengerek udang galah maupun ketika berjumpa hewan predator saat berada di sungai. Seperti buaya, biawak, ular dan lain sebagainya. Karena kalau kita gopoh (panik) tentu malah bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan,” terangnya.

Tak hanya itu, mantan Presiden Mahasiswa Universitas Panca Bhakti ini juga mengimbau masyarakat senantiasa menjaga sekaligus melestarikan DAS di seantero Provinsi Kalbar. Sehingga kekayaan hayati serta udang dan ikan yang terdapat di dalamnya selalu terjaga demi anak cucu di masa mendatang.

“Saya harap petugas Pol Airud dan BKSDA bisa memberikan sanksi tegas terhadap oknum-oknum masyarakat yang melakukan penangkapan ikan maupun udang dengan cara yang dilarang Undang-undang. Seperti meracun, bom, setrum dan lain sebagainya,” harapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini