nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Susahnya Berbuka Puasa di Hongkong, Tak Semua Restoran Melayu Berlisensi Halal

Gurais Alhaddad, Jurnalis · Jum'at 24 Mei 2019 21:23 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 24 615 2060134 susahnya-berbuka-puasa-di-hongkong-tak-semua-restoran-melayu-berlisensi-halal-TFEEAqiV20.jpg Warga Hong Kong tengah beraktivitas

HONG KONG - Tiba di Bandara Udara Internasional Chek Lap Kok, Hong Kong, dari Jakarta, Indonesia, pukul 16.45 waktu setempat (Jum’at, 17/5/2019), saya bersama tim Dompet Dhuafa, Dedi Fadlil, segera mencari musala atau masjid untuk salat Ashar. Tentunya setelah melewati beberapa proses administrasi untuk keperluan imigrasi yang Alhamdulillah berjalan cepat dan lancar tanpa suatu kendala.

Kemudian kami mendapati suatu ruang ibadah yang sama sekali tidak terlihat seperti musala atau masjid pada umumnya, pun seperti di Indonesia. Tampak suatu ruang dengan luas sekitar 7x5 meter, seperti kelas dengan beberapa jajaran kursi, terdapat lemari penitipan barang, dan ruang berwudhu dengan satu kran air. “Di sini tidak hanya untuk tempat salat (muslim), ibadah apapun, campur menjadi satu. Bahkan digunakan untuk orang istirahat, dan lainnya,” terang Imam Baihaki, General Manager Dompet Dhuafa Cabang Hong Kong, yang mendampingi kami saat itu.

Restoran Indonesia di Hong Kong

“Maaf ya, di ruang ini memang tidak tersedia sajadah. Oh ya, di Hong Kong waktu berbuka puasa itu jam 7 malam,” lanjut Imam Baihaki.

Kami lanjutkan perjalanan dari Bandara Chek Lap Kok menuju Kantor Dompet Dhuafa Cabang Hong Kong yang bertempat di Leighton Road, Causeway Bay. Menggunakan bus dengan kocek seharga $40 DHK. Menempuh perjalanan selama satu jam, kami disuguhkan pemandangan Kota Negeri Beton ini yang bersih dan rapih. Bangunan gedung-gedung tinggi yang mewah menjulang, saya sedikit bahkan hampir tidak melihat sampah yang berserakan, tanpa polusi, dan tidak ada pedagang kaki lima yang sembarangan membuka lapaknya. Pun rambu pejalan kaki yang sangat aktif di Hong Kong tampak teratur.

Kebersihan sebagian dari iman, seandainya Indonesia juga bersih seperti di Hong Kong, gumam saya di perjalanan, yang tanpa sadar telah melewatkan waktu masuk maghrib karena sama sekali tidak melihat penumpang lain yang sedang menanti berbuka puasa dan tidak terdengar suara adzan. Ya, saya juga belum melihat masjid di sepanjang perjalanan kami.

Suasana pejalan kaki di Hong Kong

“Di sini memang tidak terdengar suara adzan. Masjid sedikit sekali, hanya ada 3 atau 4 di Hong Kong, itupun tidak mengumandangkan suara adzan keras seperti di Indonesia,” jelas Imam Baihaki.

Sesampainya di Causeway Bay pukul 19.30 malam, kami berjalan kaki menelusuri beberapa blok area Leighton Road untuk mencari asupan makan malam di sebuah restoran dengan lisensi halal. Sesampainya di tempat makan, menu dan para penjual makanan tersebut berasal dari Indonesia.

Suasana Hong Kong di malam hari

Walau banyak terdapat warga muslim dan Indonesia, namun mereka juga menyarankan agar lebih teliti mencari makanan di Hong Kong. Pasalnya, ada kedai atau penjual makanan dengan menu dan orang Indonesia, tetapi belum tentu bersertifikasi halal.

Adalah kali pertama perjalanan saya singgah di Hong Kong dalam misi ekspedisi kisah sosial dan dakwah Dompet Dhuafa. Tentunya turut menjalankan ibadah puasa Ramadan sebagai minoritas di Negeri Naga Kecil Asia ini. Menjadi suatu hikmah dan rasa syukur hidup di Indonesia dengan keberagaman dan toleransi di dalamnya. Namun pengingat, tatkala kesombongan hadir hidup sebagai mayoritas.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini