nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Viral Video Ustadz di Pesantren Hancurkan HP Santri, Ini Faktanya!

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 24 Juni 2019 12:27 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 24 614 2070142 video-diduga-guru-pesantren-hancurkan-hp-santri-ini-faktanya-oCRiRx6Eo7.jpg HP sering mengganggu konsentrasi belajar (Foto: Pixabay)

Sebuah video mendadak jadi perbincangan hangat netizen Indonesia. Pada video tersebut tampak dua orang pria tengah menghancurkan puluhan handphone menggunakan palu besi. Santer beredar kabar bahwa, video itu diduga diabadikan di sebuah pondok pesantren.

Pada latar belakang video memang tampak ratusan remaja menggunakan seragam hitam putih, lengkap dengan peci yang melekat di kepala mereka. Dua orang pria yang bertugas menghancurkan deretan handphone itu pun terlihat mengenakan setelan jas berdasi, dan juga sebuah peci hitam.

Hape

 (Foto: Twitter)

Belum diketahui secara pasti apa motif mereka menghancurkan handphone yang diduga milik para santri. Namun sejumlah netizen mengatakan, kegiatan seperti ini sudah menjadi hal yang lumrah di beberapa pondok pesantren Indonesia. Hal tersebut tidak terlepas dari peraturan yang telah disetujui para santri dengan pihak pondok pesantren.

Hasil penelusuran Okezone, peraturan seperti sebetulnya ini telah diterapkan oleh Pondok Pesantren Al-Hasanah Darunnajah 9, Pamulang, Banten, Jawa Barat.

Mengutip laman resmi mereka, disebutkan bahwa para santri dilarang membawa HP di lingkungan pesantren agar mereka bisa fokus dan tidak melalaikan tugasnya.

Bagi santri yang kedapatan membawa handphone, mereka akan langsung diberikan hukuman keras. Handphone akan disita dan kemudian dipecahkan di hadapan seluruh santri. Si pembawa HP juga akan dipindahkan sementara waktu ke pondok cabang yang lain. Hal itu dilakukan untuk memberikan efek jera kepada seluruh santri dan diharapkan bisa meningkatkan kedisiplinan.

Benar saja, pada Sabtu 16 Januari 2016, Pondok Pesantren Putri Darunnajah 9 Pamulang sempat mengadakan pemecahan HP di lapangan pesantren. Hukuman ini diberikan kepada seorang santri kelas 5 TMI yang telah mengakui kesalahannya.

Sementara itu, rekam video yang diunggah oleh akun parodi @oneCak ini langsung viral dan tersebar luas ke sejumla media sosial seperti Twitter, Instagram, hingga Facebook. Tak sedikit pula netizen yang menyayangkan keputusan pihak pondok pesantren yang menerapkan kebijakan tersebut.

“Seperti pisau yang bisa digunakan untuk memotong sayuran atau membunuh seseorang, begitu juga dengan handphone. Benda itu netral. Jika ada penyalahgunaan, yang salah ya manusianya. Bukan bendanya,” tulis Dayat Piliang seorang penulis buku dalam cuitannya.

Ia menambahkan, mungkin ada hukuman lain yang lebih tepat daripada menghancurkan benda yang tentu harganya tidak murah.

“Aku cuma menyayangkan saja, benda yang tidak salah apa-apa yang tentu dibeli pakai duit, dihancurkan begitu saja. Bisa disita sampai batas waktu yang ditentukan atau dikembalikan ke orang tua, aku rasa adalah hukuman yang cukup bijak daripada dihancurkan,” timpal Dayat.

Ada juga netizen yang membagikan pengalamannya saat hendak mendaftar pesantren, dan terkejut ketika melihat beberapa paturan yang diterapkan pihak pondok pesantren.

“Dulu saya pas lulus SD, mau daftar di pesantren. Pas diwawancarai ‘Di sini enggak boleh bawa HP dan keluar area pesantren (kecuali ada izin jelas) siap?’ Saya jawab siap pak, dan akhirnya enggak jadi daftar ulang haha,” tulis akun @azizet31

“Jadi inget pas razia temen gue naro hp diplastik di sebelah tong sampah pula. Terus plastiknya diambil sama tukang kebersihan sekolah di bawa ke truk sampah :( ,” tulis akun @XnolepX

Beberapa netizen mengklaim bahwa peraturan seperti ini sudah menjadi hal yang lumrah di lingkungan pesantren. Bahkan, peraturan tersebut sudah lama diterapkan oleh sejumlah pondok pesantren di Indonesia.

“Peraturan kaya gini udah dari jaman baheula, jadi please lah jangan terlalu lebay nanggepinnya. Malah ada yang hapenya disuruh ancurin sendiri pakai batu kalau ketahuan bawa,” tulis akun @Haulahoop1

“Kebanyakan sekolah Islam/pondok pesantren emang kaya gini peraturannya. Jadi udah ada perjanjian tertulis, soalnya kalau enggak diginiin kadang santrinya belum kapok,” tulis akun @Mnthqw

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini