Belajar dari Kisah Nabi Musa dan Khidir

Iqbal Dwi Purnama, Jurnalis · Rabu 10 Juli 2019 06:02 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 09 614 2076766 belajar-dari-kisah-nabi-musa-dan-khidir-ZGcn7TWHOj.jpg Ilustrasi Nabi Khidir melubangi kapal (Foto: Classic Sailing)

Ilmu memiliki peran penting dalam menjalankan kehidupan. Apapun kegiatannya jika didasari dengan ilmu pasti akan bermanfaat. Terutama dalam melaksanakan sebuah ibadah, kita harus belajar dari ilmu para nabi.

Suatu ketika Nabi Musa AS bertemu dengan Nabi Khidir AS. Pertemuan tersebut merupakan teguran dari Allah SWT atas kelalaian Nabi Musa. Ketika itu Nabi Musa sedang bebicara di hadapan kaumnya dan mengatakan "Siapakah orang yang paling banyak ilmunya? Nabi Musa pun menjawab sendiri, 'Akulah orang yang paling banyak ilmunya'."

 Tembok

(Foto: Istock)

Maka dari itu Allah mempertemukan Nabi Musa kepada orang yang mempunyai ilmu yang lebih lebih tinggi darinya, yaitu Nabi Khidir AS. Nabi Khidir pun memberikan syarat jika ingin belajar kepadanya.

Syaratnya hanya satu, selama berguru dengan Nabi Khidir, Nabi Musa harus bisa bersabar ketika melihat keanehan-keanehan yang akan terjadi. Melihat persyaratan yang tidak begitu sulit, akhirnya Nabi Musa pun mengikuti perkataan Nabi Khidir.

Ilmu yang diberikan Nabi Khidir kepada Nabi Musa merupakan contoh dari Ilmu Ma'rifat. Ketika sedang bersama, Nabi Musa melihat Nabi Khidir sedang melubangi kapal yang yang sebelumnya mereka tumpangi dengan gratis. Hasilnya kapal milik seorang nelayan itu bocor dan tidak bisa ditumpangi lagi.

Nabi Musa pun bertanya, "Kapal ini telah mengangkut kita tanpa meminta imbalan, tetapi kenapa engkau sengaja melubangi kapal mereka?"

Nabi Khidir pun menjawab, seperti yang terdapat pada Alquran Surat Al-Kahfi Ayat 72-73. "Bukankah aku telah berkata, sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersamaku. Musa berkata janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku."

Nabi Khidir pun memaafkan kelalaian Nabi Musa atas perjanjiannya di awal. Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan dan bertemu dengan seorang anak yang sedang bermain dengan teman-temanya. Kemudian Nabi Khidir menghampiri salah satu anak dan membunuhnya.

Melihat kejadian aneh ini, Nabi Musa pun bertanya, "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar." (QS. Al - Kahfi : 74)

Kemudian Nabi Khidir menjawab seperti pada ayat selanjutnya. "Bukankah sudah aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku." (QS Al-Kahfi : 75)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Maka keduanya kembali melanjutkan perjalanannya hingga Sampailah pada suatu desa. pada desa tersebut terdapat rumah warga yang hampir roboh temboknya. Dengan inisiatif, Khidir pun membetulkan tembok yang hampir rubuh tadi.

Setelah kejadian yang membuat banyak Nabi Musa bertanya-tanya. Kemudia Nabi Khidir pun menjelaskan maksud dan tujuannya. Ketika Nabi Khidir melubangi perahu yang menjadi tumpangannya secara gratis, sebenarnya Nabi Khidir mengetahui akan ada perompak yang menjarah kapalnya di perjalanan nanti.

Kemudian khidir pun menjelaskan alasan dirinya membunuh anak yang sedang bermain bersama temannya. Menurutnya anak kecil itu merupakan anak nakal dan jahat ketika besar kelak. Mungkin membunuh anak itu merupakan hal terbaik untuk mencegah kemungkaran. Dan hal yang perlu dipahami adalah ketika Nabi Khidir melakukan semua tindakan di atas, semata-mata itu adalah perintah Allah SWT.

Selanjutnya ketika Nabi Khidir membangun tembok yang ingin roboh sebenarnya itu adalah harta warisan untuk anak yatim yang harus dijaga. Namun ketika sedang membangun, Khidir pun berkata dalam QS Al Kahfi 77- 78, Khidir berkata bahwa, melalui tangannya, dia menegakkan dinding itu. Musa berkata, jika kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu. Khidir berkata, inilah perpisahan antara aku dengan kamu.

"Ada pelajaran berharga yang bisa diambil dari kisahnya Nabi Musa yang belajar dengan Nabi Khidir yakni tentang akhlak dan tentang ilmu hakikat. Kita harus bersikap sopan dan santun pada ulama dan orang yang lebih tua," ujar Ustadz Ahmad Firdaus, Pengajar Pondok Pesantren Nurul Hijrah, saat dihubungi Okezone.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya