Kawin Kontrak untuk Puaskan Nafsu, Ini Hukumnya dalam Islam

Intan Afika, Jurnalis · Rabu 10 Juli 2019 19:15 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 10 614 2077209 kawin-kontrak-untuk-puaskan-nafsu-ini-hukumnya-dalam-islam-lyWwmiyj9A.jpg Nikah yang benar untuk ibadah, bukan hanya sekedar kawin kontrak (Foto: Hiveminer)

Indonesia memang memiliki sejumlah daerah yang penduduknya sudah terbiasa dengan praktik kawin kontrak. Selama ini kawin kontrak juga disebut nikah mut’ah.

Kawin kontrak ini biasanya dilakukan oleh para turis yang berkunjung untuk sekedar berlibur atau berbisnis di Indonesia. Pelakunya kebanyakan pria Timur Tengah yang sedangan ada di Indonesia.

 nikah

(Foto: Pixabay)

Praktik nikah mut’ah biasanya dilakukan para lelaki hanya untuk mencari kesenangan semata. Sedangkan pihak perempuan biasanya karena alasan ekonomi dan motivasi untuk memiliki suami warga negara asing. Lantas bagaimana hukum nikah mut’ah dalam Islam? Berikut telah Okezone rangkum dari berbagai sumber, Rabu (10/7/2019).

Nikah mut’ah adalah sebuah bentuk pernikahan yang dibatasi dengan perjanjian waktu dan upah tertentu tanpa memperhatikan perwalian dan saksi, untuk kemudian terjadi perceraian apabila telah habis masa kontraknya tanpa terkait hukum perceraian dan warisan. (Syarh Shahih Muslim hadits no. 1404 karya An-Nawawi dengan beberapa tambahan).

“Kalau hanya sekedar ingin memuaskan nafsu, atau bahkan untuk menyakiti, maka hukum nikahnya haram. Atau tujuannya supaya bisa gonta-ganti pasangan, kemudian nikah dengan cara kontrak, ini pun menjadi sesuatu yang jauh dari nilai ibadah, maka haram hukumnya,” ujar Ustadz M. Najmi Fathoni, seorang Dai Muda Nahdatul Ulama kepada Okezone, Rabu (10/7/2019).

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Rasulullah bersabda: “Wahai manusia! Sesungguhnya aku dulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Namun sekarang Allah ‘azza wa jalla telah mengharamkan nikah tersebut sampai hari kiamat.” (Hadis Riwayat Muslim)

Pada zaman dahulu, nikah mut’ah memang diperbolehkan oleh Rasulullah SAW di dalam beberapa sabdanya, di antaranya hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu dan Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemui kami kemudian mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut’ah.” (HR. Muslim)

Al-Imam Al-Muzani rahimahullah berkata: “Telah sah bahwa nikah mut’ah dulu pernah diperbolehkan pada awal-awal Islam. Kemudian datang hadis-hadis yang shahih bahwa nikah tersebut tidak diperbolehkan lagi. Kesepakatan ulama telah menyatakan keharaman nikah tersebut.” (Syarh Shahih Muslim hadits no. 1404 karya An-Nawawi)

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Wahai manusia! Sesungguhnya aku dulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Namun sekarang Allah ‘azza wa jalla telah mengharamkan nikah tersebut sampai hari kiamat.” (HR. Muslim)

Nikah mut’ah mulai diharamkan semenjak banyak sekali perzinaan yang mereka kemas dengan nama agama yaitu “nikah mut’ah”. Tentu saja nikah mut’ah tidak bisa disejajarkan dengan perzinaan yang memang benar-benar diharamkan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bila direnungkan secara seksama maka jika praktik ini masih dilakukan, tidaklah berbeda nikah mut’ah dengan praktik atau transaksi yang terjadi di tempat-tempat lokalisasi. Oleh karena itu di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan tentang penentangan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (yang ditahbiskan kaum Syi’ah Rafidhah sebagai imam mereka) mengenai nikah mut’ah.

Beliau mengatakan, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang nikah mut’ah dan daging keledai piaraan pada saat perang Khaibar.” Beliau (Ali radhiyallahu ‘anhu) juga mengatakan bahwa hukum bolehnya nikah mut’ah telah dimansukh atau dihapus sebagaimana di dalam Shahih Al-Bukhari hadis no. 5119. Maka dengan ini, dapat disimpulkan bahwa nikah mut’ah itu hukumnya haram.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya