Kisah Soekarno Sowan ke Kiai Hasyim Asy'ari sebelum Memproklamasikan Kemerdekaan RI

Senin 19 Agustus 2019 12:55 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 19 614 2093765 kisah-soekarno-sowan-ke-kiai-hasyim-asy-ari-sebelum-memproklamasikan-kemerdekaan-ri-8HWHaueBif.jpg Bung Karno selalu meminta nasihat ulama sebelum membuat keputusan penting (Foto: NU Online)

Bangsa Indonesia berjuang keras demi kemerdekaan NKRI. Dari penjajahan Belanda berusaha melepaskan diri, hingga akhirnya dijajah oleh Jepang.

 Bung Karno minta nasihat Kiai Hasyim

Perjuangan rakyat Indonesia dari memakai bambu runcing untuk melawan penjajah Belanda hingga akhirnya mengenal senjata untuk menghalau penjajah Jepang dari Tanah Air. Perjuangan meraih kemerdekaan membutuhkan pengorbanan jiwa dan raga.

Saat terjadi Perang Dunia II, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang pada Agustus 1945. Akibatnya pemerintahan Jepang di Indonesia jadi porak poranda.

Para pemuda Indonesia memanfaatkan momen ini untuk mendeklarasikan kemerdekaan RI. Saat itu Presiden Soekarno sempat galau memikirkan perjanjian Jepang dan sekutu itu. Namun akhirnya dia memutuskan untuk memproklamasikan kemerdekaan.

Soekarno saat mau melakukan hal-hal penting termasuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia selalu meminta nasihat para ulama. Termasuk pada saat itu ia meminta nasihat sekaligus restu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari terkait waktu dan tanggal kemerdekaan yang tepat.

Beberapa hari sebelum proklamasi kemerdekaan, Bung Karno sowan ke Kiai Hasyim Asy’ari. Lalu beliau memberikan masukan, Sebaiknya proklamasi dilakukan pada hari Jumat pada Ramadhan. Jumat itu Sayyidul Ayyam (penghulunya hari), sedangkan Ramadhan itu Sayyidus Syuhrur (penghulunya bulan). Hari itu tepat 9 Ramadhan 1364 H, bertepatan dengan 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.

Seperti dilansir NU Online, ini sesuai dengan catatan Aguk Irawan MN dalam Sang Penakluk Badai: Biografi KH Hasyim Asy’ari (2012) yang menyatakan bahwa awal Ramadhan, bertepatan dengan tanggal 8 Agustus, utusan Bung Karno datang menemui KH Hasyim Asy’ari untuk menanyakan hasil istikharah para kiai, sebaiknya tanggal dan hari apa memproklamirkan kemerdekaan?

Akhirnya dipilih hari Jumat (sayyidul ayyam) tanggal 9 Ramadhan (sayyidus syuhur) 1364 H tepat 17 Agustus 1945, dan lihatlah apa yang dilakukan Bung Karno dan ribuan orang di lapangan saat itu, dalam keadaan puasa semua berdoa dengan menengadahkan tangan ke langit untuk keberkahan NKRI.

Sementara itu, Kiai Hasyim Asy’ari sering melakukan surat-menyurat dengan Mufti Besar Palestina Syekh Muhammad Amin Al-Husaini. Beliau memberikan dukungan bagi Indonesia untuk segera memprokamirkan kemerdekaan.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Dari kisah itu kita tahu, pemilihan hari kemerdekaan Indonesia dikonsultasikan terlebih dahulu kepada KH Hasyim Asy’ari. Lalu Kiai Hasyim mengumpulkan para ulama secara bersama-sama untuk melakukan munajat kemudian istikharah agar Allah memberi petunjuk hari yang tepat.

Usai para ulama memusyawarahkan hasil istikharahnya, lalu dipilihlah tanggal 9 Ramadhan 1364 H yang secara kebetulan itu pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945. Angka Sembilan adalah simbol numerik tertinggi, hari Jumat adalah penghulu atau raja-nya hari dalam sepekan dan Ramadhan adalah rajanya bulan dalam setahun.

Adapun naskah proklamasi disusun dinihari jelang 17 Agustus 1945, di rumah Laksamana Tadashi Maeda (kini Jalan Imam Bonjol Nomor 1). Penyusunan teks Proklamasi dilakukan oleh Soekarno, M. Hatta, Achmad Soebardjo dan disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah, Sudiro dan Sayuti Melik. Beberapa orang Jepang, selain Maeda, juga ada di sana.

Sejatinya para tokoh pergerakan nasional, termasuk para ulama dan santri berjuang keras untuk mempersiapkan diri melahirkan sebuah negara besar. Di sini KH Hasyim Asy’ari berperan besar.

Sesungguhnya peran NU dalam mempersiapkan berdirinya NKRI dilakukan lima tahun sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dengan resmi menunjuk Soekarno dan Mohammad Hatta untuk memegang tampuk kepemimpinan nasional dalam Muktamar ke-15 NU pada 15-21 Juni 1940 di Surabaya, Jawa Timur.

Dalam Muktamar ini, NU membahas sekaligus memutuskan perihal kepemimpinan nasional.Ini ditindaklanjuti dengan menggelar rapat tertutup guna membicarakan siapa calon yang pantas untuk menjadi presiden pertama Indonesia.

Rapat rahasia ini hanya diperuntukkan bagi 11 orang tokoh NU yang saat itu dipimpin oleh KH Mahfudz Shiddiq dengan mengetengahkan dua nama yaitu Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta.

Rapat menghasilkan kesepakatan Soekarno calon presiden pertama, sedangkan Mohammad Hatta yang saat itu hanya mendapat dukungan satu suara, terpilih jadi wakil presiden.

Pembahasan calon presiden pertama dalam Muktamar ke-15 NU tersebut menunjukkan kematangan NU dalam mengkaji masalah-masalah sosial-politik kala itu.

NU tegas mempertahankan konsep kepemimpinan nasional berbasis negara bangsa. Sikap ini dipertahankan oleh NU hingga saat ini demi menjaga pesatuan dan kesatuan NKRI sebab NKRI merupakan harga mati!

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya