Kepala eksekutif asrama, Jonathan Sutton, mencap kejadian ini sebagai tindakan 'menyedihkan' dan menggambarkan bahwa perilaku dan bahasa yang dikeluarkan Koker, yang diyakini sedang mabuk, sangat memalukan.
"Hostel St Paul's memiliki nilai yang sangat jelas yang kami harap orang-orang yang tinggal di sini dapat mematuhi peraturan. Salah satunya adalah menghormati orang lain. Itu tertulis di dinding ketika orang-orang masuk. Kami tidak menolerir perilaku bermotivasi rasial seperti ini. Itulah yang orang harapkan," tegasnya.
Kendati demikian, Jonathan Sutton mengatakan Koker memiliki 'kehidupan yang sangat sulit’. Dalam kaitan ini dia mempunyai tanggung jawab di asrama adalah untuk membantu Koker 'merehabilitasi dan bertobat'.
“Kita tidak bisa begitu saja menolaknya atau mengeluarkannya atas dasar ini karena kehidupan di jalan jauh lebih buruk. Dia tidak akan dikeluarkan dari layanan kami karena dia membutuhkan bantuan kami," tambahnya.