nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hukum Menolak Lamaran Pernikahan, Apakah Mendatangkan Dosa?

Novie Fauziah, Jurnalis · Rabu 25 September 2019 18:25 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 25 330 2109286 hukum-menolak-lamaran-pernikahan-apakah-mendatangkan-dosa-UdUuuU2zJR.jpg Perempuan terpaksa menolak lamaran (Foto: Zoom Islamic)

Sebelum melaksanakan akad pernikahan, lazimnya laki-laki melamar perempuan yang akan jadi istrinya. Yakni datang ke rumah orangtua si perempuan, meminta izin mempersunting anaknya. Namun lamaran ada yang diterima, ada juga yang ditolak. Kalau tak suka, terpaksa perempuan menolak lamaran yang diajukan kepadanya.

 Perempuan terpaksa menolak lamaran

Tak sedikit banyak pria yang kecewa dan merasa sakit hati karena telah ditolak lamarannya. Lalu, bagaimana dalam pandangan Islam jika seorang perempuan menolak lamaran laki-laki yang ingin mempersuntingnya?

Ketua Forum Komunikasi Dai Muda Indonesia (FKDMI) untuk Jakarta Timur, Ustadz Asroni Al Paroya mengatakan, hukum menolak lamaran pada dasarnya diperbolehkan. Namun, dalam penolakan tersebut haruslah dengan tata cara yang halus dan lembut tanpa menyinggung perasaan si pelamar.

Namun jika perempuan ingin menolak, lakukan saja. Hal ini dilakukan supaya tidak menimbulkan fitnah dalam Islam dan tidak menyakiti hati orang lain.

"Tapi intinya tetaplah menolak lamaran. Hal tersebut agar tidak menimbulkan fitnah dalam Islam dan tidak menyakiti hati orang lain. Karena seperti yang kita tahu, hukum menyakiti orang dalam Islam adalah dilarang dan dapat menimbulkan dosa," ujar Ustadz Asroni saat dihubungi Okezone, Rabu (25/9/2019).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, ada seorang sahabat yang memiliki sifat saleh. Dan dijamin masuk surga oleh Nabi SAW, yakni Tsabit bin Qais bin Syammas.

Tsabit bin Qais menikahi Jamilah bintu Abdillah. Suatu ketika, Jamilah pernah melihat suaminya berjalan bersama deretan para sahabat Nabi lainnya. Ia heran, mengapa tidak ada lelaki yang lebih jelek daripada suaminya. Lalu Jamilah pun takut ia tak bisa menunaikan hak suaminya.

Dalam riwayat Bukhari 5273 dan Nasai 3476, Jamilah mengaku takut menjadi kufur karena tidak bisa menunaikan hak suaminya. Muslimah pasti paham hak suami untuk melakukan persetubuhan dengan istrinya. Akhirnya Nabi Muhammad SAW pun menyuruhnya mengembalikan mahar kepada suaminya. Lalu Tsabit bin Qais diminta menjatuhkan talak.

Berikut hadistnya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ أَمَا إِنِّى مَا أَعِيبُ عَلَيْهِ فِى خُلُقٍ وَلاَ دِينٍ وَلَكِنِّى أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِى الإِسْلاَمِ

"Ya Rasulullah, Tsabit bin Qais, saya sama sekali tidak keindahan akhlak dan agamanya yang bagus. Namun saya khawatir kufur dalam Islam" (HR. Bukhari 5273, Nasai 3476, dan yang lainnya).

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini