Setiap bulan memiliki kebaikan tersendiri, begitu juga bulan Safar yang jatuh pada Senin 30 September, kemarin. Pastinya umat Islam mengharapkan keberkahan di dalamnya.

Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam. Dalam bahasa Arab, Safar artinya kosong.
Ini berawal dari kebiasaan orang Arab ketika zaman dulu, pada bulan tersebut mereka meninggalkan rumah sehingga menjadi kosong.
Selain itu, terdapat mitos bulan Safar menjadi bulan penuh kesialan. Ada juga yang menyebutkan, Safar diambil dari nama sebuah penyakit dipercaya oleh orang Arab jahiliyah. Penyakit tersebut menyerang perut hingga terasa sakit karena ada ulat besar besar yang bersarang di dalamnya.
Namun cerita tentang bulan Safar yang dianggap jadi bulan kesialan terus berkembang. Padahal ini semua hanyalah mitos. Dari Abu Hurairah R.A bahwasanya Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Tiada kejangkitan dan juga tiada mati penasaran, dan tiada juga Safar,” kemudian seorang badui Arab berkata, ‘Wahai Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam, unta-unta yang ada di Padang Pasir yang bagaikan sekelompok kijang, kemudian dicampuri oleh seekor unta betina berkudis, kenapa menjadi tertular oleh seekor unta betina yang berkudis tersebut ?’. Kemudian Rasulullah SAW menjawab: “Lalu siapakah yang membuat unta yang pertama berkudis (siapa yang menjangkitinya)?” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketua Ikatan Sarjana Quran Hadist Indonesia, Ustadz Fauzan Amin mengatakan, beberapa ulama berpendapat bahwa Allah telah menurunkan penyakit pada bulan Safar. Hal tersebut bersamaan dengan kepercayaan orang Arab sejak dulu.
“Akan tetapi bila kita menelusuri teks-teks hadits Nabi, anggapan itu keliru. Nabi justru melarang kita terlalu merisaukan bulan ini. Bahkan berlebihan bila meyakini bahwa Safar adalah bulan sial,” ujarnya pada Okezone, Rabu (2/10/2019).
Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda,“Tidak ada wabah dan tidak ada keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa.” (HR. Bukhari)