Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ini Hukum dan Keutamaan Mencium Tangan Ustadz

Novie Fauziah , Jurnalis-Rabu, 16 Oktober 2019 |16:45 WIB
Ini Hukum dan Keutamaan Mencium Tangan Ustadz
Momen Said Aqil Siroj cium tangan Habib Umar. Foto: Junaidi (Diambil dari laman resmi NU)
A
A
A

وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الْعَالِمِ والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ

"Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan pemimpin yang adil" (Abdullah bin Mahmud Al-Mushili, Al-Ikhtiyar li Ta’lilil Mukhtar, juz 1, h. 659).

Kedua, pendapat Imam Syafei mencium tangan seorang ustadz adalah sunah. Seperti diriwayatkan Imam Al-Qazwini:

وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ

"Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, atau kemuliannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunnahkan" (Abdul Karim bin Muhammad Al-Qazwini, Al-Aziz Syarh Al-Wajiz, juz 12, h. 378).

Ketiga menurut Madzhab Maliki, mencium tangan ustadz hukumnya adalah makruh. Syekh Al-Manufi menyebutkan:ً

(وَكَرِهَ مَالِكٌ) رَحِمَهُ اللهُ (تَقْبِيْلَ الْيَدِ) أَيْ: يَدِ الْغَيْرِ ظَاهِرِهِ، سَوَاءٌ كَانَ الْغَيْرُ عَالِمًا، أَوْ غَيْرَهُ، وَلَوْ أَبًا أَوْ سَيِّدًا أَوْ زَوْجًا

"Imam Malik – rahimahullah – menyatakan kemakruhan mencium tangan, yaitu tangan orang lain bagian luar, baik orang tersebut alim atau tidak, walaupun seorang ayah, pemimpin, atau suami". (Ali bin Khalaf Al-Manufi, Kifayatut Thalib Arrabbani, juz 2, h. 620).

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement