Rabu Wekasan, Ini Amalan Mbah Moen Agar Terhindar dari Bala

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Rabu 23 Oktober 2019 08:27 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 23 330 2120523 ini-amalan-mbah-moen-agar-terhindar-dari-bala-JYYXL3KDgC.jpg Mbah Moen. Foto: Istimewa

RABU terakhir pada bulan Safar disebut sebagai Rabu Wekasan, hari di mana sebagian orang menggelar ritual keagamaan untuk menolak bencana. Rabu Wekasan juga tak lepas dari cerita tentang datangnya bala bencana berupa puluhan ribu penyakit. Sementara itu Kyai Haji Maimun Zubair (Mbah Moen) punya cara yang Islami untuk menolak bala, semasa hidupnya ia menjalankan amalan Salat Hajat.

“Allah menurunkan Bilahi (bala), supaya selamat mohon kepada Allah dengan Salat hajat,” ujar Mbah Moen seperti tampak dalam video yang diunggah akun Instagram ppalanwar.sarang beberapa waktu lalu.

Mbah Moen menambahkan, Salat Hajat itu diniatkan juga untuk menolak bala. Niatnya dimulai dengan membaca Hajat lidaf'il bala' (menolak marabahaya).

“Ayo sama-sama niat Salat Hajat; Hajat lidaf'il bala' (menolak marabahaya). Nawaitu Sakat Hajat Lidaf'il Bala” ucapnya.

Mbah Moen mengatakan Salat Hajat dilakukan 4 rakaat. “Ada tahiyat awalnya sama seperti Salat Isya. Setiap setelah membaca Surat Al-Fathihah membaca Surat Al-Kautsar sebanyak 17 kali,” tutur Mbah Moen.

Selanjutnya membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak lima kali, Surat Al-Falaq sebanyak satu kali, Surat An-Nas 1 kali.

“Kemudian setelah itu ruku, kemudian bangun lagi membaca Surat Al-Fathihah, kemudian membaca Surat Al Kautsar 12 kali kemudian membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 5 kali. Surat Al Falaq satu kali, Surat An-Nas satu kali,” tuturnya.

Sementara dalam artikel Okezone terdahulu sudah pernah dibahas doa menolak bala. Lafal doa tersebut dikutip dari NU Online yaitu;

اللَّهُمَّ افْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ الخَيْرِ وَأَبْوَابَ البَرَكَةِ وَأَبْوَابَ النِّعْمَةِ وَأَبْوَابَ الرِّزْقِ وَأَبْوَابَ القُوَّةِ وَأَبْوَابَ الصِّحَّةِ وَأَبْوَابَ السَّلَامَةِ وَأَبْوَابَ العَافِيَةِ وَأَبْوَابَ الجَنَّةِ

اللَّهُمَّ عَافِنَا مِنْ كُلِّ بَلَاءِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ وَاصْرِفْ عَنَّا بِحَقِّ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَبِيِّكَ الكَرِيْمِ شَرَّ الدُّنْيَا وَعَذَابَ الآخِرَةِ،غَفَرَ اللهُ لَنَا وَلَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ وَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ

Allāhummaftah lanā abwābal khair, wa abwābal barakah, wa abwāban ni‘mah, wa abwābar rizqi, wa abwābal quwwah, wa abwābas shihhah, wa abwābas salāmah, wa wa abwābal ‘āfiyah, wa abwābal jannah.

Allāhumma ‘āfinā min kulli balā’id duniyā wa ‘adzābil ākhirah, washrif ‘annā bi haqqil Qur’ānil ‘azhīm wa nabiiyikal karīm syarrad duniyā wa ‘adzābal ākhirah. Ghafarallāhu lanā wa lahum bi rahmatika yā arhamar rāhimīn. Subhāna rabbika rabbil ‘izzati ‘an mā yashifūn, wa salāmun ‘alal mursalīn, walhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.

Artinya, “Ya Allah, bukalah bagi kami pintu kebaikan, pintu keberkahan, pintu kenikmatan, pintu rezeki, pintu kekuatan, pintu kesehatan, pintu keselamatan, pintu afiyah, dan pintu surga.

Ya Allah, jauhkan kami dari semua ujian dunia dan siksa akhirat. Palingkan kami dari keburukan dunia dan siksa akhirat dengan hak Alquran yang agung dan derajat nabi-Mu yang pemurah. Semoga Allah mengampuni kami dan mereka. Wahai, Zat yang Maha Pengasih. Maha Suci Tuhanmu, Tuhan keagungan, dari segala yang mereka sifatkan. Semoga salam tercurah kepada para rasul. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam,” (Lihat Perukunan Melayu, [Jakarta, Alaydrus: tanpa tahun], halaman 55-56).

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini