Bukan ke Mesir, Kemenag Kirim Dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam ke Australia

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Selasa 05 November 2019 07:57 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 05 614 2125802 bukan-ke-mesir-kemenag-kirim-dosen-perguruan-tinggi-keagamaan-islam-ke-australia-tfgRCBUZTx.jpg Kemenag kirim 10 dosen PTKI ke Australia. Foto: Kemenag

MESIR, Yaman, atau beberapa negara Timur Tengah biasanya dijadikan sebagai rujukan pengembangan layanan pendidikan agama Islam. Itu makanya banyak pelajar Islam menjadikannya rujukan, namun Kementerian Agama (Kemenag) lebih mengirim dosen untuk Studi Banding ke kampus di Australia.

Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Ditjen Pendidikan Islam Kemenag mengirim 10 dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) lintas keahlian untuk mendalami metodologi riset di Australia.

Pengiriman tersebut merupakan bagian dari acara Short Course Overseas Research Methodology 2019. Diktis mengirim 10 dosen PTKI lintas keahlian untuk mendalami metodologi riset di Australia.

Mereka akan berada di Negeri Kanguru itu pada 4 hingga 22 November 2019. Kedatangan para dosen tersebut diterima oleh Profesor Julian Millie dari Monash University. Pada hari pertama tersebut, para dosen PTKI ini diajak melihat beragam fasilitas kampus, mulai dari perpustakaan, ruang kelas, ruang seni rupa dan beberapa tempat penting lainnya.

Foto: Kemenag

"Julian ini salah seorang ahli kajian Indonesia. Ia sangat memahami budaya Islam di Indonesia terutama di Jawa Barat," tutur Kasi Penelitian dan Pengelolaan Hak Kekayaan Intelektual Diktis Kemenag yang juga pengelola program ini Mahrus El Mawa di Melbeurne, sebagaimana dilansir dari laman resmi Kemenag pada Selasa (5/11/2019).

Menurutnya, selama tiga pekan di Australia, peserta akan mendalami metodologi riset, kemampuan menulis akademis (skill academic writing), dan peningkatan publikasi yang bereputasi. "Waktu yang terbatas ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, baik dalam kelas ataupun di perpustakaan, sekaligus membuat jaringan peneliti dan akademisi untuk pengembangan pribadi ataupun perguruan tingginya," tuturnya.

Lebih lanjut, Short Course Overseas Research Methodology 2019 dibuka oleh Direktur Monash Herb Feith Indonesian Engagement Centre, Prof. Ariel Heryanto. Dalam sambutannya, Guru Besar asal Salatiga ini menyinggung beda budaya riset di Indonesia dan negara maju.

Di negara maju, seperti dicontohkan Ariel, rasionalilasi suatu penelitian digambarkan sebagai suatu lingkaran, dimana poin penelitian disampaikan dengan tajam di awal kemudian dibahas secara general, lalu dipersempit dengan suatu argumen. Selanjutnya, rumusan riset dituliskan dengan jelas, tepat, dan sederhana melalui research question (perumusan masalah). Sementara penelitian di Indonesia masih banyak yang terlalu umum, dan kurang fakus.

Pembukaan Shortcourse ini dihadiri pula oleh Deputi Direktur Monash Herb Feith, Yacinta, Ph.D.

Berikut ini peserta Program Short Course Overseas Research Methodology 2019:

1. Yaser Syamlan, Islamic Banking & Finance

2. Siti Rodiah, Chemistry (catalyst, renewable energy)

3. Mashuri Masri, Science & medicine

4. Mahmudi, Islamic Philosophy & Sufism

5. Nuril Hidayah, Islamic Theology, Linguistics

6. Umma Farida, Islamic Theology

7. Anis Hidayatul Imtihanah, Islamic Law

8. Nurhidayah, Anthropology

9. Miftahul Huda, English Language Teaching & Cultural Studies

10. Ratih Rizqi Nirwana, Chemistry (Natural Products). (ME-Ysr)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini