Menurutnya, selama tiga pekan di Australia, peserta akan mendalami metodologi riset, kemampuan menulis akademis (skill academic writing), dan peningkatan publikasi yang bereputasi. "Waktu yang terbatas ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, baik dalam kelas ataupun di perpustakaan, sekaligus membuat jaringan peneliti dan akademisi untuk pengembangan pribadi ataupun perguruan tingginya," tuturnya.
Lebih lanjut, Short Course Overseas Research Methodology 2019 dibuka oleh Direktur Monash Herb Feith Indonesian Engagement Centre, Prof. Ariel Heryanto. Dalam sambutannya, Guru Besar asal Salatiga ini menyinggung beda budaya riset di Indonesia dan negara maju.
Di negara maju, seperti dicontohkan Ariel, rasionalilasi suatu penelitian digambarkan sebagai suatu lingkaran, dimana poin penelitian disampaikan dengan tajam di awal kemudian dibahas secara general, lalu dipersempit dengan suatu argumen. Selanjutnya, rumusan riset dituliskan dengan jelas, tepat, dan sederhana melalui research question (perumusan masalah). Sementara penelitian di Indonesia masih banyak yang terlalu umum, dan kurang fakus.