nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ummu Aiman, Ibunda Rasulullah yang Tak Pernah Haus Ketika Puasa

Dian Fitriyanah, Jurnalis · Senin 11 November 2019 04:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 11 10 614 2128086 ummu-aiman-ibunda-rasulullah-yang-tak-pernah-haus-ketik-puasa-H8cnZp7HkV.jpg Ilustrasi. Foto: Shutterstock

NABI Muhammad SAW bersabda, "Ummu Aiman adalah ibuku sesudah ibuku." Ummu Aiman adalah ibunda Rasulullah sosok wanita yang sering meratap dan menangis, banyak berpuasa dan qiyamulail, dan yang hijrah dengan berjalan kaki.

Allah telah memberi ibunda Rasulullah ini minum yang membuatnya tidak pernah merasa kehausan, yakni minuman langit yang menyembuhkan dan mencukupi baginya.

Ummu Aiman r.a. bercerita, "Rasulullah SAW pernah menginap di rumahku. Pada tengah malam beliau bangun dan buang air kecil dalam suatu bejana. Setelah itu, aku pun terbangun dalam keadaan kehausan. Tanpa melihat apa yang ada dalam tembikar itu, aku langsung meminumnya. Keesokan harinya Rasulullah SAW bersabda: 'Wahai Ummu Aiman, buanglah yang ada dalam bejana itu! Aku pun menjawab: Wahai Rasulullah, demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku telah meminum apa yang ada dalam bejana itu. Rasulullah SAW tertawa hingga gerahamnya terlihat. Selanjutnya beliau bersabda: 'Sungguh perutmu tidak akan pernah sakit selamanya."

Dikutip dari Buku 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam bahwa ia adalah Barakah binti Tsa'labah ibn Amar ibn Hishn ibn Malik ibn Salamah ibn Umar ibn Nu mân al-Habasyiyyah. Barakah binti Tsa'labah dinikahi oleh Ubaid ibn Hârits al-Khazraji setelah dimerdekakan oleh Rasulullah SAW.

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Dari pernikahan ini, Barakah mendapat seorang putra bernama Aiman dan Aiman ibn Ubaid ibn Hârits al-Khazraji r.a ini memiliki pengaruh besar bagi Islam. Ia ikut melakukan hijrah, berperang, dan berjuang bersama Rasulullah SAW hingga gugur sebagai syahid dalam

Perang Hunain

Ummu Aiman adalah salah seorang budak Abdullah ibn Abdul Muththalib, ayahanda Nabi Muhammad SAW. Ketika siti Aminah melahirkan Rasulullah, sepeninggal ayahandanya, Ummu Aiman mengambil dan merawat beliau hingga dewasa. Ummu Aiman mendidik Rasulullah dengan baik dan tulus.

Karena itu Rasulullah bersabda, "Ummu Aiman adalah ibuku sesudah ibuku." Bahkan, saat berbicara dengannya, Rasulullah saw selalu memanggilnya dengan panggilan: "Wahai ibuku."

Sesudah menikah dengan sayyidah Khadijah, Rasulullah SAW memerdekakan Ummu Aiman. Hal ini sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas ketulusan dan kebaikannya dalam mendidik beliau.

Ummu Aiman yang merupakan ibunda Rasulullah mengumumkan dirinya masuk Islam sejak masa awal dakwah dan menjadi muslimah yang baik. Dengan demikian, ia termasuk salah satu wanita pertama yang ikut hijrah ke Habasyah dan ke Madinah serta mendukung Nabi Muhammad.

Demikianlah, Ummu Aiman telah merasakan begitu banyak siksaan dan penindasan dari kaum musyrikin karena keislamannya yang begitu dini. Walaupun demikian, Allah SWT memberikan keteguhan kepadanya untuk berpegang teguh pada iman dan Islam. Ia sama sekali tak tergoyahkan oleh berbagai persoalan maupun cobaan.

Ketika kaum musyrikin semakin keras dalam menyiksa dirinya beserta orang-orang yang masuk Islam bersamanya, Rasulullah mengizinkan mereka untuk hijrah ke Negeri Habasyah. Dengan demikian, Ummu Aiman merupakan salah seorang wanita yang hijrah untuk menyelamatkan agamanya dari kezaliman dan penyiksaan kaum musyrikin.

Ketika kembali ke Makah, Ummu Aiman tidak lagi menghiraukan dirinya dan bersabar dalam menghadapi cacian, ancaman, dan penyiksaan. Pada akhirnya, datanglah pertolongan dari Allah swt. Ummu Aiman hijrah ke Madinah al-Munawwarah bersama orang-orang yang hijrah bersama Nabi Muhammad SAW.

Pada saat hijrah ke Madinah al-Munawwarah itu, Ummu Aiman berpuasa, bangun malam, dan hijrah dengan berjalan kaki. la tidak memiliki sedikit pun bekal atau pun minuman hingga acapkali tersiksa oleh kehausan karena panas yang begitu menyengat di tengah sahara.

Ketika matahari tenggelam dan waktu berbuka tiba, Allah SWT menurunkan karamah yang besar kepadanya dan tidak bisa terlihat oleh seorang pun yang berjalan bersamanya. Ketika itu Allah menurunkan sebuah ember dari langit bersar yang diselim cahaya putih.

Ummu Aiman segera mengambil ember itu dan meminum airnya hingga kenyang. Ummu Aiman berkata, "Sesudah itu, aku tidak pernah merasa haus. Aku biasa berpuasa di bawah terik matahari dan tidak merasa haus."

Ummu Aiman juga menceritakan "Aku berjalan berkeliling di bawah terik matahari agar merasa haus, tetapi aku tidak pernah merasa haus. Ummu Aiman memiliki kedudukan istimewa di sisi Rasulullah SAW karena ialah satu-satunya keluarga beliau yang masih hidup. Hal ini ditegaskan dengan sabda Rasulullah SAW setiap kali melihat Ummu Aiman.

Rasulullah SAW bersabda, "Ini adalah Ahli Baitku yang masih ada. Selain itu Rasulullah juga telah memberinya kabar gembira dengan kedudukan agung di surga. Beliau bersabda, "Siapa yang ingin menikahi seorang tua penduduk surga maka hendaklah ia menikahi Ummu Aiman. Ketika sabda Rasulullah ini terdengar oleh Zaid ibn Haritsah r.a, ia segera meminang Ummu Aiman kepada Rasulullah saw. dan beliau pun segera menikahinya. Dari perkawinan ini, Ummu Aiman melahirkan Usamah ibn Zaid.

Demikian dikutip dari Buku 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini