nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bagaimana Hukum Membayar Ojek Online dengan Go-Pay?

Novie Fauziah, Jurnalis · Kamis 14 November 2019 11:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 14 330 2129705 bagaimana-hukum-membayar-ojek-online-dengan-go-pay-a7AN4h2CKI.jpg Pelanggan sering membayar ojek online dengan Go-Pay maupun OVO (Foto: Okezone)

Selama ini banyak pelanggan ojek online yang membayar biaya perjalanan mereka melalui aplikasi Go-Pay maupun OVO. Ini dilakukan agar pembayaran lebih mudah dan tak ribet membutuhkan uang tunai.

 Membayar ojek online via Go-Pay

Namun rupanya ada ustadz yang menyatakan membayar ojek online dengan Go-Pay itu haram dalam sebuah ceramah yang disiarkan melalui aplikasi Youtube.

Lalu, bagaimana sebenarnya hukum membayar ojek online degan Go-Pay menurut Tarjih Muhammadiyah?

Perlu diketahui bahwa pada dasarnya, semua bentuk muamalah adalah dibolehkan, kecuali jika ada dalil yang melarang atau mengharamkannya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kaidah fikih.

Hukum asal dalam semua bentuk muamalah adalah boleh dilakukan, kecuali jika ada dalil yang mengharamkannya.

Termasuk dalam muamalah adalah bagaimana hukum Go-Pay. Sebelum menjelaskan tentang hukum GoPay, perlu diinformasikan terlebih dahulu tentang Go-Pay.

Seperti dilansir dari website Suara Muhammadiyah, Go-Pay adalah dompet virtual untuk menyimpan kredit ojek online yang bisa digunakan untuk membayar transaksi-transaksi yang berkaitan dengan layanan di dalam aplikasi ojek online.

Go-Pay ini pada dasarnya mirip dengan kartu ATM yang bisa dipakai untuk transaksi jual beli. Bedanya, ATM memiliki bentuk fisik berupa kartu, sedangkan Go-Pay menggunakan aplikasi dalam smart phone.

Dalam fikih muamalah, setelah kita mengetahui pengertian sebuah produk bisnis, maka kemudian yang harus dicari adalah takyif (karakteristik/sifat) akad dari bisnis tersebut.

Menurut sebagian ulama yang mengharamkan Go-Pay, keharaman Go-Pay didasarkan pada pendapat bahwa takyif fikih akad dalam Go-Pay adalah akad utang piutang, sehingga dalam akad ini berlaku kaidah yakni, setiap piutang yang mendatangkan kemanfaatan atau keuntungan tambahan adalah riba.

Sebagai konsekuensi, ketika mengatakan bahwa akad antara pengguna dan perusahaan pemilik Go-Pay adalah utang piutang, maka tambahan keuntungan (termasuk dalam hal ini diskon) termasuk hal yang diharamkan karena termasuk riba. Qiyasnya adalah sama dengan bunga bank.

Dalam pendapat ini, haramnya Go-Pay hanyalah ketika adanya diskon (keuntungan), sehingga jika menggunakan Go-Pay tanpa adanya diskon, hal itu diperbolehkan. Diskon dalam Go-Pay yang (menurut pendapat ini) sudah dihukumi dengan riba, maka berlaku ayat,

Surat Al-Baqarah Ayat 275

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Namun demikian, skema Go-Pay sebenarnya bukan akad utang piutang (qardh), melainkan diidentifikasikan dengan skema akad jual beli jasa.

Indikasi akad jual beli ini adalah pihak pelanggan mendepositkan uangnya dalam Go-Pay (mirip dengan deposit di e-money), dan costumer bertransaksi langsung ke ojek online dengan mendepositkan sejumlah dana tertentu di Go-Pay untuk pembayaran atas jasa ojek online yang akan dimanfaatkan di kemudian hari.

Oleh karena itu, substansi akadnya bukan utang piutang, tetapi jual beli jasa. Deposit itu sebagai upah yang dibayarkan di muka.

Dalam hal ini costumer tidak dianggap bermuamalah dengan bank melainkan dengan pihak ojek online layaknya e-money. Dengan demikian, maka skema ijarah maushufah fi dzimmah lebih tepat untuk kasus Go-Pay, yaitu bayaran atau fee (ujrah) nya dibayarkan di muka.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan, selama ijarah berupa akad muawadhah (berbayar), maka boleh bagi penyedia jasa meminta bayaran (upah) sebelum memberikan layanan kepada pelanggan, sebagaimana penjual boleh meminta uang bayaran (barang yang dijual) sebelum barangnya diserahkan. Jika upah sudah diserahkan, maka penyedia jasa berhak untuk memilikinya sesuai kesepakatan, tanpa harus menunggu layanannya diberikan (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 1/253).

Ini seperti akad salam, hanya saja, objek transaksi akad salam adalah barang. Konsumen membeli barang, uangnya dibayar tunai di depan, namun barang datang kemudian. Seperti juga e-toll atau e-money untuk pembayaran beberapa layanan yang disediakan oleh penyelenggara aplikasi. Akadnya adalah jual beli, dengan uang dibayarkan di depan, sementara manfaat atau layanan baru didapatkan menyusul sekian hari atau sekian waktu kemudian.

Pemilik barang secara prinsip berhak menentukan harga, dan berhak pula memberikan diskon bagi konsumen yang membeli dengan pembayaran cash di muka sebelum barang diserahkan.

Jika hal ini berlaku pada barang, tentu berlaku pula untuk jasa sehingga boleh bagi konsumen yang memiliki Go-Pay memperoleh diskon dari pihak penyedia aplikasi. Dengan demikian hukum bertransaksi menggunakan Go-Pay dalam aplikasi ojek online adalah boleh.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini