nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Ummu Sulaim binti Malhan, Perempuan yang Langkah Kakinya di Surga Didengar Rasulullah

Suherni, Jurnalis · Selasa 19 November 2019 19:22 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 19 614 2131805 mengenal-ummu-sulaim-binti-malhan-perempuan-yang-langkah-kakinya-di-surga-didengar-rasulullah-uY9ZPAvOVJ.jpg Ilustrasi surga (Foto: Deen of Geek)

Diriwayatkan dari Anas ibn Malik dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Aku memasuki surga lalu mendengar suara langkah kaki di depanku. Ternyata ia adalah ar-Rumaisha` Ummu Sulaim binti Malhan.”

Ar-Rumaisha` Ummu Sulaiman binti Malhan merupakan seorang sahabat perempuan nan agung pada masa Rasulullah SAW. Ia merupakan seorang juru dakwah yang pandai dan perempuan berakhlak mulia. Dan Rasulullah telah mengabarkan kalau ia merupakan ahli surga.

Kota Madinah

Ar-Rumaisha mendapat nama kinayah Ummu Sulaim binti Malhan ibn Khalid ibn Zaid ibn Haram ibn Najjar al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah. Semoga Allah meridhaimu, wahai Ummu Sulaim. Perempuan yang memiliki kecantikan dan kelurusan pandangan serta kecerdasan dan akhlak yang mulia.

Engkau telah menjadi bahan perbincangan di Makkah dengan segala sifat terpuji yang engkau miliki dan semua lidah memujimu. Sebab segala sifat terpuji yang dimiliki oleh Ummu Sulaim telah membuat para lelaki berlomba untuk melamar dan mendapatkan kehormatan nasabnya.

Suatu hari Ummu Sulaim dipinang oleh saudara sepupunya, Malik ibn Nadhr, dan pernikahan pun segera berlangsung. Dari pernikahan ini, Ummu Sulaim mempersembahkan seorang putra yang bernama Anas ibn Malik. Semua ini berlangsung pada masa jahiliyah sebelum munculnya Islam dan dakwah Nabi.

Begitu cahaya Nabi Muhammad hadir untuk memberi hidayah menuju Islam, Ummu Sulaim bergegas mengikuti ajaran Rasulullah SAW dan mengesakan Allah SWT. Jadi, Ummu Sulaim adalah salah seorang wanita yang paling awal berbai’at untuk masuk Islam.

Ia tidak peduli terhadap segala gangguan kaum musyrik dan kaum kafir yang menimpa dirinya. Ia bahkan ikut dikucilkan dan disiksa oleh suaminya sendiri yang merupakan orang kafir, Malik ibn Nadhr.

Ketika mengetahui istrinya masuk Islam dan menjadi pengikut dakwah Nabi Muhammad, Malik, sang suami, marah dan murka.

Malik pun meneror dan mengancam sang istri. Kepada Ummu Sulaim, Malik berkata, "Apakah engkau cenderung kepadanya?”

Dengan penuh keteguhan dan keyakinan atas apa yang ia imani, Ummu Sulaim menjawab, “Aku bukan sekadar simpati, melainkan aku lelah beriman.”

Selanjutnya, Ummu Sulaim mengajari anaknya yang masih kecil, Anas untuk mengucapkan syahadat:

“Ucapkanlah: `Tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah'.”

Sang suami melarang dan berkata, “Jangan engkau rusak anakku!”

Ummu Sulaim menjawab, “Aku tidaklah merusaknya. Justru aku mengajar dan mendidiknya.”

Ketika sang suami tidak mampu lagi menemukan cara untuk mengeluarkan istrinya dari agama baru ini (Islam), ia mengatakan kepada Ummu Sulaim, ia akan pergi dari rumah dan pergi ke Syam tanpa pernah pulang kembali, meninggalkan sang istri bersama anaknya. Hal itu benar-benar terjadi. Mereka berpisah tanpa bertemu kembali.

Malik pergi dari rumah dan mengembara tanpa tahu ke mana jalan yang ia tempuh hingga bertemu dengan seorang musuh dan tewas dibunuh. Ketika sang istri yang setia, Ummu Sulaim mengetahui suaminya dibunuh, ia sangat bersedih hati.

Ia berkata, “Sungguh aku tidak akan menyapih Anas sebelum ia berhenti menyusu dan aku tidak akan menikah lagi sebelum Anas menyuruhku.”

Menjanda, Ummu Sulaim berusaha keras mendidik anak semata wayangnya menurut ajaran Islam hingga sang anak tumbuh menjadi remaja yang bisa diandalkan. Dengan malu-malu, Ummu Sulaim membawa sang anak dan mengajaknya untuk menghadap kepada Rasulullah al-Habib al-Mushtafa.

Ia tawarkan kepada beliau agar buah hati dan anak semata wayangnya itu diterima untuk menjadi pelayan beliau sekaligus untuk mendapat pancaran dari ajaran-ajaran sunah Nabi yang mulia. Tidak ada yang dilakukan oleh Rasulullah selain menerima dan menyenangkan Ummu Sulaim.

Rupanya hati Abu Thalhah bergetar tatkala mendengar kisah tentang Ummu Sulaim dan anaknya, Anas ibn Malik. Ia yang masih seorang kafir itu pun hendak melamar dan menikahi Ummu Sulaim.

Ia pun menawarkan mahar yang sangat mahal demi bisa menikahi Ummu Sulaim, tetapi kejutan yang begitu besar membuat lidahnya tidak bisa berbicara saat sang mukminah nan saleh itu menolak lamaran Abu Thalhah.

Ummu Sulaim berkata, “Aku tidak mungkin menikah dengan seorang laki-laki musyrik. Wahai Abu Thalhah, tidakkah engkau tahu bahwa Tuhanmu adalah Tuhan yang diukir oleh budak keluarga si fulan dan andaipun kalian nyalakan api di dalamnya, pastilah mereka terbakar.”

Dari Ummu Sulaim binti Malhan dalam riwayat Ibnu Sa’d, disebutkan bahwa Ummu Sulaim berkata, “Wahai Abu Thalhah, tidakkah engkau tahu bahwa Tuhanmu yang engkau sembah itu tiada lain hanyalah batang pohon yang tumbuh dari dalam tanah, yang diukir oleh budak si fulan?”

Abu Thalhah menjawab, “Benar.”

Maka Ummu Sulaim menyahut, “Tidakkah engkau merasa malu untuk menyembah kayu yang tumbuh dari dalam tanah yang dipahat oleh seorang budak ibn fulan? Apakah engkau mau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah lalu aku rela menikah denganmu? Aku tak menginginkan mahar darimu selain hal itu.”

Abu Thalhah menjawab, “Beri aku kesempatan untuk berpikir.”

Abu Thalhah pun pergi dan berpikir beberapa waktu. Setelah itu, ia kembali datang dan mengucapkan, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Ummu Sulaim berkata, “Wahai Anas, bangkitlah dan nikahkanlah Abu Thalhah.”

Ummu Sulaim, sang juru dakwah yang beriman dan setia. Ketika kedudukan, harta, dan pemuda berada di depan matanya, Ummu Sulaim menolak dengan bangga dan penuh hormat.

Ia sadar bahwa Islam yang ada dalam hatinya itu lebih jaya dibandingkan dengan segala nikmat dunia yang fana. Ia pun mampu mengambil mahar dari Abu Thalhah dengan penuh sopan dan hormat saat ia berkata kepada Abu Thalhah: “Wahai Abu Thalhah, orang sepertimu tidaklah layak ditolak. Akan tetapi, engkau adalah laki-laki kafir, sedangkan aku adalah wanita mukminah. Tidaklah patut jika aku menikah denganmu.”

Maka Abu Thalhah menyahut, “Apakah yang engkau inginkan?”

Dengan penuh kesopanan dan keyakinan, Ummu Sulaim menjawab, “Apa yang aku inginkan?”

Abu Thalhah berusaha merayu dengan kenikmatan dunia: “Emas maupun perakkah?

Ummu Sulaim menjawab, “Sungguh aku tidak menginginkan emas maupun perak. Namun, aku ingin engkau memeluk Islam.”

Abu Thalhah bergegas menemui Rasulullah yang saat itu beliau sedang duduk di antara para sahabat. Begitu melihat Abu Thalhah, beliau memberitahu para sahabat, “Abu Thalhah mendatangi kalian dengan cahaya Islam di kedua matanya.”

Abu Thalhah telah tiba di hadapan Rasulullah. Ia pun menceritakan tentang apa yang diminta oleh Ummu Sulaim binti Malhan. Abu Thalhah menyatakan Islam di depan umum lalu menikahi Ummu Sulaim menurut sunah Allah dan Rasul-Nya dengan mas kawin yang tak ternilai dengan harta benda, yaitu islam.

Demikianlah, diriwayatkan dari Anas ibn Malik, ia berkata, “Aku tidak pernah mendengar seorang wanita pun yang mendapat mahar lebih berharga di bandingkan dengan Ummu Sulaim. Maharnya adalah Islam.”

Demikianlah Ummu Sulaim, sang sahabat wanita yang beriman dan agung, ini menjalani kehidupan rumah tangga bersama Abu Thalhah berdasarkan ajaran Islam yang paling luhur.

Ummu Sulaim juga menjadi contoh bagi istri salehah dengan sebaik-baiknya memegang hak-hak suami yang beriman. Sebagai contoh bagi seorang ibu yang pengasih dan salehah, seorang pendidik yang mulia dan pendakwah bagi anak-anaknya.

 Kebun kurma

Anas ibn Malik menceritakan tentang bagaimana cinta Abu Thalhah kepada Islam dan Rasulullah SAW. Ia berkata, “Abu Thalhah adalah sahabat Anshar Madinah yang paling kaya. Hartanya yang paling ia cinta adalah kebun Bairaha dan letaknya berhadapan dengan masjid Rasulullah. Beliau biasa memasuki taman itu dan minum air yang ada di dalamnya."

Allah SWT berfirman,

Surat Ali 'Imran Ayat 92

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Ketika Allah menurunkan ayat di atas, Abu Thalhah mendatangi Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menurunkan ayat ini sementara hartaku yang paling aku cinta adalah kebun Bairaha. Karena itu, kebun ini aku sedekahkan karena Allah dan aku berharap kebaikan serta penyimpanannya di sisi Allah. Karena itu, gunakanlah kebun ini sekehendakmu, wahai Rasulullah.”

Rasulullah bersabda, “Selamat. Itu adalah harta yang menguntungkan. Itu adalah harta yang menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan dan aku menyarankan agar engkau memberikannya kepada orang-orang terdekatmu.”

Abu Thalhah kemudian membagikan kebun tersebut kepada para kerabat dan sepupunya.

Kepada Ummu Sulaim dan Abu Thalhah, Allah mengaruniakan seorang anak laki-laki yang tampan dan diberi nama Abu Umair agar menjadi penyejuk hati dan penghibur bagi mereka dengan segala tingkah lakunya.

Suatu ketika, mereka menangkap seekor burung untuk menjadi mainan si bocah tampan tersebut. Burung itu kemudian mati hingga si bocah sangat bersedih dan menangis. Hal itu dilihat oleh Rasulullah hingga beliau menghibur dan menenangkannya.

Beliau bersabda, “Wahai Abu Umair apa yang dilakukan oleh si pipit kecil ini?”

Namun qadha Allah menghendaki untuk menguji Ummu Sulaim dan Abu Thalhah dengan anak yang tampan dan tercinta ini. Bocah tampan yang manja itu akhirnya jatuh sakit hingga kedua orangtuanya sibuk merawatnya.

Salah satu kebiasaan sang ayah setiap kali pulang mencari nafkah atau salat dan menemui keluarga adalah mengucapkan salam lalu bertanya tentang kesehatan anaknya. Ia tidak merasa tenang sebelum melihat anaknya tersebut.

Suatu hari ia pergi untuk suatu pekerjaan. Saat itulah sang anak beristirahat untuk selama-lamanya. Sang ibu yang beriman dan penyabar itu pun menerima kematian anaknya dengan hati penuh keridhaan dan kepasrahan. Ia pun bangkit untuk memandikan, mengafani, dan merawat jasad anaknya tersebut.

Setelah itu, Ummu Sulaim baringkan si anak di atas ranjang dengan berselimut pakaian kemudian ia mengucapkan, “Inna lillahi wa inna Ilaihi raji`un.”

 

Ia menoleh kepada semua orang yang hadir dan berkata, “Jangan ada seorang pun yang memberitahukan hal ini kepada Abu Thalhah. Biarkan aku sendiri yang memberitahunya!”

Ketika sang suami tercinta telah pulang dari bekerja, Ummu Sulaim pun telah mengeringkan air mata duka dan kasih sayang di kedua matanya. Ia bersiap-siap untuk menyambut kedatangan sang suami dan mempersiapkan hidangan makan malam untuknya.

Abu Thalhah bertanya, “Apakah yang dikerjakan oleh Abu Umair?” Dengan wajah yang tenang, Ummu Sulaim menjawab, “Sekarang ia sudah sangat tenang.”

Abu Thalhah mengira bahwa Allah telah memberikan kesembuhan kepada anaknya yang tampan itu. Ia merasa senang melihat anaknya yang tampak tenang dalam tidurnya dan ia pun tidak berani mendekat karena takut mengganggu tidurnya.

Sang istri menyuguhkan makan malam kepadanya. Abu Thalhah segera makan dan minum kemudian mengucap syukur atas semua itu. Ummu Sulaim telah bersolek dan mengenakan pakaian yang paling indah lalu mendekati sang suami hingga terjadilah sebagaimana yang layaknya hubungan yang terjadi antara suami dan istrinya.

Setelah melihat suaminya telah menyantap hidangan makan, minum, dan menikmati dirinya, hatinya telah merasa tenang terhadap keadaan anaknya maka Ummu Sulaim bersyukur karena tidak mengejutkan sang suami dan menodai makan serta kebahagiaannya. Beberapa saat ia biarkan Abu Thalhah untuk menikmati tidurnya yang pulas.

Ketika malam telah larut, Ummu Sulaim berbicara kepada suaminya, “Wahai Abu Thalhah, jika ada sekelompok orang meminjamkan sesuatu kepada satu keluarga lalu mereka meminta kembali barang tersebut, apakah keluarga itu berhak menghalangi?”

Abu Thalhah menjawab, “Tidak.”

Ummu Sulaim bertanya lagi, “Bagaimana menurutmu jika keluarga tersebut merasa keberatan karena barang pinjaman itu diminta kembali karena mereka telah merasakan manfaatnya?”

Abu Thalhah menjawab, “Itu tidak benar.”

Ummu Sulaim mengatakan, “Sesungguhnya, anakmu adalah pinjaman dari Allah dan Dia telah mengambilnya kembali. Karena itu, bersabarlah!”

Abu Thalhah tidak mampu menahan diri. Dengan marah, ia menjawab kata-kata istrinya: “Engkau biarkan aku dan setelah engkau bujuk aku, baru engkau ceritakan tentang anakku? Sungguh aku akan melaporkan hal ini kepada Rasulullah.”

Ketika pagi telah merekah, Abu Thalhah bergegas untuk menghadap kepada Rasulullah dan menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan istrinya, Ummu Sulaim.

Rasulullah menjawab, “Semoga Allah memberkahi malam kalian.”

Rupanya Allah mengaruniakan seorang bayi lagi kepada Ummu Sulaim. Lalu ia mengutus anaknya Anas ibn Malik untuk menghadap Rasulullah dan mengatakan, “Bawalah bayi dan keranjang berisi beberapa butir kurma itu kepada Rasulullah SAW agar beliau yang memberinya nama.”

Anas ibn Malik menceritakan, “Aku pun membawa si bayi untuk menghadap kepada Rasulullah SAW. Beliau menjulurkan kedua kaki dan membaringkan si bayi lalu mengambil sebutir kurma yang beliau kunyah dan beliau suapkan kepada si bayi. Si bayi pun menelan kurma tersebut.”

Rasulullah bersabda, “Kaum Anshar itu tidak senang selain pada biji kurma.”

Anas ibn Malik berkata, “Berilah ia nama wahai Rasulullah.”

Rasulullah menjawab, “Namanya adalah Abdulllah.”

Setelah bayi Ummu Sulaim tumbuh menjadi remaja, akhirnya Abdullah ibn Abi Thalhah pun menikah dan meninggalkan keturunan yang saleh. Ia dikarunia sepuluh orang anak. Kisah ini Dikutip dari Buku 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini