Antara Hijrah Nabi Muhammad dengan Hijrah Artis

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Jum'at 29 November 2019 08:59 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 29 330 2135839 antara-hijrah-nabi-muhamad-dengan-hijrah-artis-Q5O1s7ytya.jpg Ilustrasi. Foto: Instagram Zaskia Sungkar

HIJRAH sudah menjadi fenomena di Indonesia, salah satu yang terlihat secara kentara adalah para artis yang kerap mengikuti dan bahkan menggelar pengajian.

Selaras dengan itu umat Muslim juga mulai ikut hijrah. Hal itu tampak dari semakin banyaknya pengajian-pengajian dan bermunculannya dai-dai muda. Lalu apa sebenarnya makna hijrah ini?

Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah Al-Mukaramah menuju Madinah Al-Munawarah, dimaknai beragam oleh umatnya, khususnya umat muslim Indonesia. Tapi paling sering diperlihatkan dan menjadi rujukan publik adalah hijrah sebagaimana yang dilakukan oleh para artis akhir-akhir ini.

Berhenti dan keluar dari hingar-bingar dunia hiburan dan memilih hidup sederhana dengan balutan nilai-nilai agama. Tidak sampai di situ, hampir semua panutan publik yang melakukan hijrah ini juga merubah gaya dan penampilanya.

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Paling melekat adalah memakai baju koko dan memanjangkan jenggot oleh artis laki-laki. Sedang mengenakan gamis besar, hijab besar (red. hijab syari), dan sebagian bercadar dilakukan artis perempuan. Tidak salah memang, namun jika merujuk pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW, hijrah bukanlah sekedar itu.

M Quraish Shihab, penulis Tafsir Al-Misbah menyatakan, bahwa hijrah merupakan perbaikan diri dari yang buruk ke yang baik, disertai niat yang sungguh-sungguh yang merupakan proses yang terus-menerus hingga nafas kita berhenti, karena tiada manusia yang akan berada pada satu titik kehidupan dan menyatakan bahwa hidupnya telah cukup sempurna tanpa lagi perlu memperbaiki diri.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Ia juga memaknai hijrah sebagai upaya untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik di segala bidang. Baik kehidupan pribadi, kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Karenanya penting untuk membaca kembali peristiwa Hijrah Nabi Muhammad dengan detail dan menyeluruh. Di mana dengan hijrahnya tersebut, salah satunya Nabi Muhammad SAW justru bisa melahirkan Piagam Madinah. Yaitu suatu undang-undang dari hasil kesepakatan bersama yang menjadi payung bagi seluruh umat baik muslim maupun non muslim.

Tidak sekadar payung yang menjadi tempat berteduh semua golongan, tapi juga menjadi prasasti optimisme, di mana seluruh masyakat saat itu justru menjadi bersemangat untuk mewujudkan kehidupan ke depan yang lebih baik.

Bisa dikatakan, melalui Piagam Madinah Nabi sebenarnya meletakkan karakter optimisme agar umatnya selalu memiliki semangat juang yang tinggi dalam berdakwah dan menebarkan kebaikan.

Dalam Alquran, Allah SWT menekankan kepada hambanya untuk memiliki jiwa optimis. Di antaranya :

وَلَلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ ٤

Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). (QS Ad-Dhuha ayat 4)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ١٨

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Hasyr ayat 18).

Sayangnya, tidak sedikit yang menafsirkan ‘hari kemudian’ (QS Ad-Dhuha ayat 4) dan ‘hari esok’ (QS Al-Hasyr ayat 18) di atas sebagai hari akhir atau kehidupan selanjutnya manusia setelah alam dunia ini. Karenanya kemudian tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa dunia memang tempatnya orang kafir, makanya wajar sekarang orang kafir yang merajai dunia yang fana ini. Dan sebaliknya sangat percaya bahwa orang Muslim memang menjadi sengsara di dunia tapi akan menang di akhirat kelak. Jika demikian memang diyakini benar, tapi kenapa Allah SWT memerintahkan:

وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ٧٧

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al-Qashas ayat 77)

Tidak salah menafsirkan ‘hari kemudian’ dan ‘hari esok’ sebagaimana di atas. Tapi jangan itu dijadikan sebagai ‘alasan’ bahwa umat Islam layak kalah di kehidupan dunia ini.

Pendapat yang demikian dirasa kurang tepat karena justru menimbulkan pesimisme, sehingga umat menatap kehidupan dunia dengan sudut yang negatif bukan positif.

Bukankah Nabi dengan hijrahnya menyematkan jiwa optimis, hingga beliau kemudian diangkat sebagai kepala negara, yang semua kaum berharap kepemimpinanya membawa kepada kehidupan yang lebih baik? Itu artinya Nabi ingin umatnya menjadi penentu peradaban dunia. Itulah kemenangan yang sesungguhnya yang hanya bisa dicapai dengan mengedepankan jiwa yang optimis.

Bukankah dalam setiap doa selalu terselip kalimat:

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ٢٠١

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Al-Baqarah ayat 201). Hanya orang-orang yang optimis yang mampu meraih kebaikan dunia-akhirat.

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ العَظِيْمِ وَ نَفَعَنِيْ وَ إِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَ تَقَبَّلَ اللهُ مِنّيْ وَ مِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Demikian dikutip dari laman Suaramuhammadiyah sebagaimana ditulis oleh Sri Husodo, Anggota Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman.

Redaksi Okezone menerima foto atau tulisan pembaca berupa artikel tausyiah, kajian Islam, kisah Islam, cerita hijrah, kisah mualaf, event Islam, pengalaman pribadi seputar Islam, dan lain-lain yang berkaitan dengan Muslim. Dengan catatan foto atau artikel tersebut tidak pernah dimuat media lain. Jika berminat, kirim ke redaksi.okezone@mncgroup.com, cc okezone.lifestyle2017@gmail.com.

 

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya