nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Nabi, Saat Rasulullah Menolak Permintaan Sahabatnya

Novie Fauziah, Jurnalis · Senin 02 Desember 2019 04:38 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 12 01 614 2136654 kisah-nabi-saat-rasulullah-menolak-permintaan-sahabatnya-ll8EqWkItr.jpg Kisah Nabi (Foto: Shutterstock)

Rasulullah SAW merupakan uswatun hasanah alias panutan terbaik dalam menjalani kehidupan. Ia memiliki akhlak mulia dan merupakan rahmat semesta alam.

Diriwayatkan dalam hadis shahih, suatu ketika ada sahabat yang datang kepada Rasulullah SAW untuk mengadukan kaum musyrikin yang mengganggu umat muslim. Sahabat tersebut meminta Rasulullah untuk mendoakan agar diturunkan laknat kepada kaum musyrikin.

 Kisah Nabi

Sahabat itu berharap laknat ditimpakan kepada musuh mereka, mengingat doa Rasulullah adalah doa yang mustajabah. Namun ternyata keinginan sahabat initidak terpenuhi.

Nabi Muhammad SAW tidak berkenan untuk memintakan laknat kepada Allah ta’ala untuk kaum musyrikin. Malah sebaliknya, Nabi menegaskan bahwa beliau diutus sebagai rasul bukan untuk menjadi tukang laknat. Tetapi sebaliknya, diutusnya beliau adalah untuk menebar rahmat. Menebar kasih sayang untuk semesta alam.

Kisah ini terdapat dalam riwayat hadis shahih riwayat Imam Muslim (204-261 H):

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ قَالَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً (رواه مسلم)

Artinya: Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra., dimintakan kepada Rasulullah SAW untuk melaknat orang-orang musyrik, maka Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya aku diutus bukan untuk menjadi pelaknat, tetapi aku diutus untuk menjadi rahmat.” (H.R. Muslim)

Imam al-Nawawi (631-676 H) dalam kitab Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis di atas merupakan bukti bahwa melaknat bukanlah kebiasaan seorang muslim. Sebaliknya, seorang muslim harus senantiasa menebar rahmat dan kasih sayang kepada sesama. Baik sesama muslim ataupun dengan pemeluk agama lain.

Bahkan dalam teks hadist di atas, jelas ditunjukkan bahwa melaknat orang musyrik pun, Nabi Muhammad SAW tidak berkenan.

Kisah ini merupakan sekelumit kisah kecil dari keteladanan Nabi. Hingga kini, contoh ini sangat relevan. Penting bagi kita selaku umat Nabi Muhammad untuk selalu mengingat suri teladan mulia ini.

Menjaga tutur kata

Dalam segi tutur kata, Nabi Muhammad SAW juga telah mencontohkan. Disebutkan bahwa karena ketepatan gaya bahasa yang dipilih, semua orang yang pernah bertemu dan berinteraksi dengan Nabi merasakan kedekatan. Hal ini tercemin dari keyakinan setiap sahabat merasa menjadi orang dekat Nabi.

Tutur kata dan sikap Nabi membuat setiap orang yang berkomunikasi dengan beliau merasa dekat. Merasa dihormati dan dihargai.

Hal ini ditegaskan dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat 159, andaikata Nabi bersikap keras dan berhati kasar, niscaya orang yang diajak oleh Nabi akan lari menjauh.

Mereka tidak akan terkesan dan berkenan untuk masuk Islam. Dakwah mestinya dimulai dengan hati yang lembut, serta ucapan yang santun. Bukan dengan perkataan yang isinya menyakiti atau merendahkan orang lain.

Tidak aneh jika dalam sebuah riwayat hadis shahih riwayat Imam al-Bukhari (194-251 H), Nabi Muhammad menegaskan bahwa barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaknya berkata dengan perkataan yang baik. Atau jika tidak bisa, maka sebaiknya diam. Inilah akhlak yang semestinya senantiasa diingat oleh masyarakat muslim.

Seperti dilansir website Jatman, selain menjaga lisan, Nabi Muhammad SAW juga mencontohkan agar selalu berbuat baik kepada orang lain. Ditegaskan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah orang yang paling bermanfaat untuk orang lain.

Sebaliknya, Rasulullah melarang keras untuk merugikan atau menyakiti orang lain. Baik dengan lisan ataupun dengan kedua tangan kita. Baik dengan ujaran kebencian ataupun dengan menyebarkan isu yang kurang bertanggung jawab.

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قاَلَ سَمِعْتُ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ (رواه البخاري

Artinya: Dari Shahabat Jabir ra., saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lain merasa aman (tidak terganggu) dari lisan dan tangannya.” (HR. al-Bukhari).

Imam Badr al-Din al-‘Aini (885 H) dalam kitab ‘Umdah al-Qari, syarah kitab Shahih al-Bukhari menjelaskan bahwa hadist di atas memberi penegasan bahwa perilaku tidak menyakiti kepada sesama muslim merupakan bagian integral dari keimanan seseorang.

Artinya, kuat lemahnya iman di lubuk hati dapat dilihat dari apakah ia terbiasa menyakiti orang lain dengan perkataannya atau tidak.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini