Sains dalam Alquran, Mahluk Hidup Tersusun dari Air

Viola Triamanda, Jurnalis · Sabtu 07 Desember 2019 17:00 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 06 614 2138792 sains-dalam-alquran-mahluk-hidup-tersusun-dari-air-suqYQfFTpw.jpg Foto: Istimewa

TIADA satu pun makhluk hidup yang bertahan tanpa air, sebab air adalah sumber kehidupan. Itu makanya kekeringan merupakan bencana yang paling dahsyat.

Air sebagai sumber kehidupan juga selarang dengan firman Allah:

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

"Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air." (Al-Anbiya ': 30),

Ayat tersebut menunjukkan bahwa semua makhluk hidup yang ada di permukaan bumi tersusun dari air. Namun, masing-masing berbeda satu sama lain. Akan tetapi kadar air pada tiap makhluk berbeda-beda satu sama lain. Jadi air adalah asal-usul kehidupan, darinya tercipta tumbuh-tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia.

Ayat ini sejalan dengan berbagai penemuan ilmiah kontemporer. Para ahli telah menyatakan bahwa semua makhluk hidup tersusun dari 80 persen air-70 persen tubuh manusia tersusun dari air, sehingga manusia tidak dapat hidup tanpa air lebih dari empat hari. Adapun tumbuh-tumbuhan terbukti makan dari air, bukan dari tanah, di mana ia mampu tumbuh di air yang jauh dari tanah.

Ilustrasi. Foto: The Nation

Banyak penyakit yang menyerang manusia disebabkan oleh kondisi kekurangan air atau kekeringan. Maka, jika sebagian jaringan tubuh mulai terasa kering, timbullah gejala-gejala penyakit. Dokter kadang-kadang salah dalam mendiagnosis kondisi seperti ini. Padahal, obat yang sesungguhnya atas kondisi demikian adalah minum air. Semua manusia, baik yang sehat maupun yang sakit harus meminum air setidaknya dua liter dalam sehari.

Semua fungsi organ tubuh makhluk hidup berhenti seiring dengan menghilangnya air. Organ-organ itu tidak bisa beraktivitas tanpa air. Jadi, air bukan hanya unsur pembentuk tubuh semua aktivitas kehidupan dalam tubuh manusia, hewan, dan tetumbuhan tergantung pada air. Tubuh tidak bisa melakukan aktivitas kehidupannya tanpa air.

Air adalah tempat pertama diciptakannya kehidupan. Telah terbukti secara ilmiah bahwa makhluk hidup di laut dan samudra serta sungai yang lebih dulu ada jutaan tahun daripada makhluk hidup yang ada di tempat kering. Sewaktu kehidupan sudah berkembang di lautan, daratan masih sepi dari jenis kehidupan apa pun. Allah telah berfirman,

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

"Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui tentang langit dan bumi dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya, dan apakah Kami jadikan dapat menemukan sesuatu yang hidup dari udara; lalu apakah mereke tidak beriman?" (Al-Anbiya ': 30).

Ayat di atas menjelaskan bahwa bentuk fisik semua makhluk hidup diciptakan dari air, bahwa fungsi-fungsi organ penunjang kehidupan tidak bisa bekerja tanpa adanya air, dan bahwa kehidupan pada awalnya diciptakan di air kemudian di tempat kering. Ayat di atas merupakan ayat yang teliti dan mengagumkan dalam membicarakan suatu fakta alam semesta yang baru beberapa tahun belakangan ini dimengerti oleh para ahli.

Kita tahu bahwa bumi adalah planet yang paling kaya akan air. Para ahli pun menamainya "planet biru" atau "planet air" karena memiliki banyak air. Para ahli sejak dahulu kala dibuat bingung dengan asal-muasal air yang ada di permukaan bumi tersebut. Barulah belakangan ini diketahui bahwa air di permukaan bumi berasal dari perut bumi.

Alquran telah mendahului penemuan ini lebih dari 1.400 tahun, di mana ayat Alquran yang mulia telah menyatakan,

وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَاهَا

أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا

"Dan setelah itu bumi Dia hamparkan. Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhnya." (An-Nazi'at: 30-31).

Ketika menganalisis uap-uap dan gas-gas yang keluar dari kawah gunung-gunung berapi, para ahli menemukan bahwa sebagian besar uap dan gas tesebut adalah air. Kandungan air tersebut mencapai 70 persen.

Allah telah berfirman,

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar darinya. Ada pula yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya. Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan." (Al- Baqarah: 74).

Dalam ayat ini, air dimasukkan ke dalam dua perumpamaan. Tentu saja pancaran atau infijar yang mengakibatkan terbentuknya sungai itu terjadi akibat aktivitas gunung berapi, di mana bumi meletus dan memancarkan uap air.

Adapun tasyaqquq (mata air yang keluar karena terbelahnya bumi) dalam ayat di atas, terjadi akibat terbelahnya bumi atau merekahnya bumi. Yang dimaksud pembelahan di sini adalah perpindahan lapisan yang mengandung uap air yang ada di dekat permukaan suatu benda ke lapisan yang tidak mengandung air. Jadi, begitulah proses terjadinya mata air. Dengan demikian, ada air yang muncul akibat letusan bumi dan ada pula air yang muncul karena terbelahnya bumi.

Dalam Surah al-Waqi'ah pun Al-Quran berbicara mengenai air. Dia berfirman,

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ

أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ

لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ

"Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin. Lalu mengapa kamu tidak mau bersyukur?” (Al-Waqi'ah: 68-70).

Era sekarang adalah era puncak kemajuan ilmu pengetahuan. Namun, tak seorang pun bisa menjelaskan bagaimana air hujan turun. Ada banyak teori dibuat untuk menjelaskan fenomena ini, namun tak satu pun yang bisa memastikan bagaimana proses turunnya air hujan.

Pada suatu hari, Rasulullah kembali dari perjalanan dari Makkah ke Madinah. Lalu, beliau melaksanakan shalat Subuh dengan para sahabat yang menyertainya. Kemudian beliau berkata, "Pagi ini ada yang kafir dan ada yang mukmin, wahai utusan Allah?"

Beliau pun bersabda, "Barang siapa berkata, Hujan turun karena bintang ini dan itu, ia menjadi kafir. Dan barang siapa berkata, Hujan turun karena nikmat dan anugerah dari Allah, dia termasuk orang-orang mukmin".

Jadi, hujan adalah nikmat dan anugerah dari Allah, tak ada yang menurunkannya selain Dia. Allah berfirman,

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ

"Dan tidak ada sesuatu pun,melainkan dari Kamilah sumbernya; Kami tidak menurunkannya (hujan) melainkan dengan ukuran tertentu." (Al-Hijr 21).

Ayat ini berbicara tentang turunnya hujan. Allah juga berfirman,

أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ

"Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan?" (Al-Waqi'ah: 69).

Kata al-muzn pada ayat di atas yang berarti awan tebal yang membawa uap air. Akan tetapi,awan tebal kadang- kadang mandul, tidak menurunkan hujan. Jadi, Allah-lah yang menganugerahkan kepada kita hujan yang menurunkan air tawar yang menyegarkan. Dan, orang-orang pun mengetahui bahwa Rasulullah menyambut hujan dengan kedua telapak tangannya, seraya bersabda, "Ini anugerah dari Tuhan baru saja turun."

Setelah air dikeluarkan dari perut bumi melalui kawah-kawah gunung berapi, kemudian turunlah hujan. Lalu, hujan itu memenuhi kubangan-kubangan laut dan samudra. Dari sini, dimulailah proses daur ulang (metamorfosis) air, cahaya matahari menguapkan air di permukaan laut dan samudra lalu uap tersebut naik ke atas, kemudian uap itu menjadi awan dan menurunkan air hujan.

Pada lapisan bawah dari uap air yang naik ke atas itu, Allah telah membuatnya dingin. Lalu, uap itu menebal membentuk awan. Arus-arus listrik -positif dan negatif- berinteraksi satu sama lain, sebagaimana dikatakan oleh sebagian teori. Lalu, turunlah air dri awan itu dalam bentuk hujan. Jadi, beginilah siklus daur ulang air. Seandainya tidak ada siklus daur ulang seperti ini, niscaya air di bumi akan habis.

Siklus daur ulang ini merupakan suatu mukjizat dan berjalan dengan sistem yang sempurna. Uap air yang berasal dari permukaan laut dan samudra lebih banyak daripada air hujan yang turun diatas laut dan samudra. Sementara itu, uap air yang berasal dari daratan lebih sedikit daripada hujan yang turun di atas daratan. Sisa air yang tidak dibutuhkan lagi oleh daratan akan mengalir kembali ke laut dan jumlahnya persis sama dengan selisih antara uap air yang berasal dari lautan dan air hujan yang turun ke lautan, atau selisih antara uap air yang berasal dari daratan dan air hujan yang turun ke daratan.

Fakta tentang sistem siklus daur ulang air yang sempurna ini menunjukkan adanya suatu kekuasaan dan peciptaan yang tiada tara hebatnya. Selain itu ketika air hujan turun ke daratan, zat garam di dalam air akan mengalir turun ke laut.

Demikian dikutif buku Pintar Sains dalam Al-Quran, Halaman 519-523, Dr. Nadiah Thayyarah.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini