nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perjuangan Berat Putri Rasulullah Zainab al-Kubra, Terpisah dari Suami Demi Pertahankan Iman

Suherni, Jurnalis · Jum'at 06 Desember 2019 18:20 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 12 06 614 2138886 perjuangan-berat-putri-rasulullah-zainab-al-kubra-terpisah-dari-suami-demi-pertahankan-iman-pIkBAn23pG.jpg Menempuh perjalanan terjal di padang pasir (Foto: {

Wajah sang perempuan suci Ummul Mukminin Khadijah r.a. memancarkan kegembiraan dan penuh kebahagiaan. Tubuhnya berguncang karena bahagia saat membisikkan rahasia kehamilannya. Ia mengandung putri Rasulullah SAW.

Siapa yang tak bahagia mengandung seorang anak dari junjungan semesta alam yang membawa kabar gembira bagi seluruh umat dengan agama Islam, Rasulullah SAW.

Beberapa bulan kemudian, Khadijah melahirkan jabang bayinya. Dalam relung hatinya yang paling dalam, Khadijah merasa bahwa kehamilan dan kelahiran keturunan Rasulullah SAW merupakan sesuatu yang berbeda dari kehamilannya yang sebelumnya.

Sesuatu yang indah dan menyejukkan hati, menyinari jiwa dengan berbagai harapan hesar dan agung. Rasulullah juga merasakan kegembiraan luar biasa atas kabar yang menyenangkan dan agung itu.

Bayi yang dilahirkan itu adalah Zainab al-Kubra. Ia merupakan Ummul Mukminin yang jujur dan tepercaya, putri dari Rasulullah al-Amin.

Bayi cantik itu berambut ikal. Ia memancarkan cahaya cemerlang dari wajahnya yang suci.

Rasulullah SAW menggendong sang bayi dan mendekapnya di dada dengan lembut dan penuh kasih. Beliau lepaskan ciuman lembut dan hangat di kedua pipi sang bayi sesudah didahului dengan ucapan syukur kepada Allah SWT atas anugerah yang diberikan, yaitu keselamatan istrinya dan kelahiran sang wanita suci yang beliau beri nama Zainab.

Zainab binti Muhammad al-Amin ibn Abdullah ibn Abdul Muththalib ibn Hasyim al-Qurasyiyyah al-Hasyimiyah. Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid ibn Asad ibn Abdil 'Uzza ibn Qushayyi al-Qurasyiyah al-Asdiyyah.

Semerbak embusan iman di tengah sahara kekufuran dan kesesatan. Cahaya yang terang di tengah kegelapan. Di sana, terdapat sebuah rumah kenabian yang dihuni oleh junjungan seluruh manusia bersama Sayyidah Khadijah, istri beliau, beserta sang perawan, bayi tercinta, Zainab.

Sebuah rumah yang di dalamnya disebut asma Allah, baik sepanjang siang maupun malam dengan zikir yang memancar dari dua hati beriman dan memahami hakekat melalui agama Islam. Mereka adalah dua hati yang mendapat pancaran cahaya Allah karena zikir yang mereka pancarkan melebihi segala zikir yang dipanjatkan oleh orang-orang saleh, kaum Shabi'un, dan Ahlil Kitab.

Andai iman mereka berdua ditimbang dengan iman seluruh makhluk, niscaya iman keduanya pasti lebih berat.

Rasulullah mendekap Zainab di dadanya dengan penuh cinta dan kasih sayang karena Zainab adalah bayi dari ibu yang tercinta. Wajah beliau memancarkan kebahagiaan dan jantungnya berdetak lebih cepat karena cinta dan kasih sayang hingga sang istri nan suci itu bisa turut merasakan cinta Rasulullah kepada sang buah hati tercinta yang menyatukan dirinya dan Rasulullah. Hati Khadijah pun berdebar, mengalirkan khazanah perasaan yang halus dan lembut.

Ketika memasuki masa kanak-kanak yang suci, Zainab adalah anak yang sangat mirip dengan sang ibu. Namun, hal itu tidak membuat lalai hati sang ayah, Rasulullah dari berzikir akan kebesaran Allah.

Bahkan, beliau selalu merenungkan tentang kedua pelupuk mata sang anak, bagaimana kedua pelupuk itu bisa terbuka dan tertutup. Beliau juga merenungkan kedua mata, lidah, dan kedua bibir, bagaimana indra penglihatan, peraba, dan perasa mampu berfungsi dengan begitu luar biasa.

Rasulullah merenung begitu mendalam hingga terbayang akan kadahsyatan Allah yang telah menciptakan daya ingat, daya pikir, hati, dan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Hal itu membuat beliau sangat kagum dan hormat.

Beliau tidak pernah berhenti merenungkan ciptaan Allah SWT sebagai ungkapan syukur dan keyakinan akan kekuasaan Allah.

Hari demi hari dan tahun demi tahun terus berjalan. Zainab semakin tumbuh menjadi dewasa. Begitu ia telah menjadi gadis dewasa, datanglah Abu al-Ash ibn Rabi', saudara sepupunya, untuk melamar.

Abu al-Ash adalah salah seorang tokoh Makkah yang tiada tertandingi kekayaan dan kehormatannya. Ia adalah laki-laki keturunan Quraisy tulen yang nasabnya dari pihak ayah bertemu dengan Nabi pada Abdu Manaf ibn Qushay dan dari pihak ibu, nasabnya juga bertemu dengan Zainab binti Rasulullah pada kakek terdekatnya, Khuwailid. Hal itu karena ibunya, Halah binti Khuwailid, adalah saudara dari Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah.

Abu al-'Ash ibn Rabi' di samping merupakan keturunan orang-orang terhormat sebagaimana telah disebutkan di atas, ia juga adalah seorang yang mulia dan berkepribadian baik hingga mendapat julukan dari kaumnya dengan al-Amin, sebagaimana julukan yang mereka berikan kepada Muhammad ibn Abdullah SAW. Sifat amanah yang ia miliki telah mendatangkan kepercayaan dan keyakinan masyarakat terhadap dirinya.

Hal itu membuatnya menempati urutan terdepan dalam jajaran para pedagang yang pada saat itu merupakan para konglomerat dan jutawan Makkah.

Makkah

Ummul Mukminin nan suci, Khadijah, memiliki keinginan besar untuk menikahkan putrinya Zainab dengan Abu al-'Ash ibn Rabi'. Oleh karena itu, Khadijah memberi kesempatan dan membantu Ibnu Rabi' untuk meminang sang putri.

Di samping itu, Abu al-'Ash ibn Rabi' merupakan kerabat dekat Khadijah, orang yang memiliki kehormatan dan kemuliaan secara keturunan maupun dari pribadinya sendiri. Semua itu menjadi jalan untuk membersihkan diri di hadapan kedua orang tua yang mulia itu dan mereka pun menyetujui pernikahan Abu al-'Ash ibn Rabi' dengan sang putri.

Ditemani beberapa keluarga akhirnya, Abu al-'Ash ibn Rabi' mendatangi rumah Rasulullah untuk melamar Zainab, putri Rasulullah.

Rasulullah SAW bersabda, "Itu sungguh merupakan besan yang terbaik dan sekufu."

Rasulullah tidak memberikan jawaban atas lamaran Abu al-'Ash sebelum menemui putrinya dan menawarkan lamaran tersebut: "Wahai putriku, sesungguhnya sepupumu Abu al-Ash ibn Rabi' datang untuk melamar dirimu."

Zainab tidak memberi jawaban selain dengan menganggukkan kepala karena malu sementara kebahagiaan tampak bersinar di wajahnya. Kedua matanya berbinar sebelum tertutup oleh kedua pelupuknya.

Rasulullah beralih kepada istrinya, Khadijah, dan memberitahukan akan persetujuan Zainab. Pasalnya, diamnya Zainab menunjukkan persetujuannya untuk menikah.

Kabar menggembirakan itu segera tersebar di seantero Mekah. Binatang-binatang disembelih, hidangan disebarkan, dan para budak wanita berdiri untuk menari. Suara mereka menggemakan senandung pujian hingga kegembiraan menyelimuti seluruh Makkah karena pernikahan penuh berkah itu.

Malam telah tiba. Abu al-'Ash ibn Rabi' memboyong istrinya, Zainab binti Rasulullah ke rumahnya. Rasulullah mengawasi sementara sang ibu memandanginya dengan kedua mata yang terbalut oleh air mata. Dalam hati bersemayam kebahagiaan sementara nuraninya memanjatkan berbagai doa. Dengan segenap doa, Khadijah mengharapkan taufik dan kebahagiaan untuk sang putri.

Di rumah barunya, sang pengantin perawan, Zainab, hidup dengan terhormat, mulia, dan bahagia. la jalani hidup di bawah naungan suami tercinta yang mulia, Abu al-'Ash. Ia merasakan kedamaian dalam hidup baru itu setelah semua yang diimpikan telah terwujud sebagaimana layaknya semua gadis tulen yang menjalani kehidupan di dunia ini.

Zainab menjadi istri yang mulia dan baik. Istri yang mengurus rumah dan patuh serta setia kepada suami. Ia selalu menaati sunnah Allah dan Rasul-Nya bagi makhluk dalam membangun keluarga yang baik dan bahagia.

Abu al-'Ash tidaklah salah ketika memiliki istri yang salehah, putri junjungan seluruh umat ini. Ia berhasil menggapai kebahagiaan keluarga yang bisa ia temukan pada Zainab. Setiap kali tiba saat untuk pergi, ia merasa berat untuk berpisah dengan sang istri.

Kepada suami istri yang mulia itu, Allah menganugerahkan dua orang putra, putra pertama bernama Ali ibn Abi al-'Ash dan yang kedua bernama Umamah binti Abu al-'Ash.

Hari-hari terus berjalan. Sang suami, Abu al-Ash, hampir selalu bepergian ke negeri-negeri Syam dan negeri lainnya, meninggalkan sang istri tercinta, Zainab. Hal itu biasa ia lakukan setiap kali ia pergi untuk mencari rezeki dengan berdagang.

Sementara itu di tempat lain, tepatnya di Gua Hira, saat Rasulullah tenggelam dalam beribadah dan bersyukur kepada Allah, tiba-tiba muncul cahaya Ilahiyah menyelimuti tempat itu.

Seketika itu pula turunlah rahmat Ilahiyah kepada hamba yang dipilih oleh Tuhan untuk menjadi utusan-Nya bagi seluruh umat manusia. Datanglah Ruh al-Amin menyampaikan risalah kepadanya.

Risalah berat yang tidak sanggup dipikul oleh gunung-gunung sekalipun. Risalah untuk membawa petunjuk bagi seluruh umat manusia serta mengajak umat untuk menyembah Allah SWT saja, dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

Muhammad telah kembali pulang ke tengah keluarganya, tanpa membawa pertolongan selain pertolongan Tuhan dan iman kepada-Nya. Seluruh tubuhnya gemetar karena hebatnya hal yang baru saja terjadi antara dirinya dan malaikat Jibril di Gua Hira.

Rasulullah merasa khawatir terhadap dirinya karena besarnya tanggung jawab yang harus diembannya. Dalam keadaan sendiri dan tanpa memiliki persenjataan apa pun, Muhammad diperintahkan untuk melawan kerusakan yang telah merajalela di muka bumi.

Beliau harus melawan kejamnya para diktator, para penindas, dan para pembuat kerusakan hingga Allah menyempurnakan cahaya-Nya. Tidak ada yang meringankan beban ketakutan dalam hatinya, kecuali kabar gembira bahwa Allah telah menjanjikan pertolongan dari sisi-Nya.

Begitu memasuki rumah, sang istri nan suci, Khadijah r.a., mendekapnya. Dengan bahasa lembut sebagaimana biasa, ia berusaha menghibur suaminya itu dan setelah mendengar bahwa wahyu telah turun kepada beliau, Khadijah segera percaya dan beriman kepada dakwah Rasulullah.

Khadijah selalu mendampingi dakwah Rasulullan. la berkata, "Semoga Allah melindungi kita wahai Abu Qasim. Bergembiralah wahai suamiku dan teguhkanlah hatimu. Demi Allah, Dia tidak akan pernah menyusahkan dirimu karena engkau orang yang senang menyambung silaturahim, berbicara dengan jujur, menyampaikan amanah, menanggung segalanya, menghormati tamu, dan membantu orang-orang yang benar."

Mendengar berita itu, Zainab tertegun di tempatnya, diam bergeming. Pikirannya tidak menentu hingga ia tidak tahu dari mana pikiran itu bermula dan ke mana akan berujung. Bahkan, ia membayangkan seolah dirinya sedang dalam samudra yang dalam tanpa tahu ke mana akan berlabuh.

la baru sadar ketika dibangunkan oleh suara saudarinya, Fathimah, yang bertanya, "Wahai saudariku, tidakkah engkau gembira karena menjadi putri dari seorang nabi umat ini?

Zainab menjawab, wahai Fathimah, gadis manakah yang tidak senang mendapat kehormatan yang tiada bandingnya seperti ini? Namun, aku mendengar dari paman kita, Waraqah, bahwa ayah kita pasti akan didustakan, disakiti, diusir dan akan diperangi.

Sang suami yang musafir itu telah pulang untuk bertemu dengan sang istri dan mendekapnya setelah sekian lama pergi. Dengan begitu, ia dapat melepas lelah karena jauhnya perjalanan dan melepas rindu yang begitu mendalam.

la mulai bercerita tentang apa yang ia dengar seputar desas-desus yang ramai dibicarakan oleh para musafir berkaitan dengan kemunculan Muhammad ibn Abdullah dengan agama barunya yang berbeda dengan agama nenek moyang mereka, yakni agama Islam yang mulia.

Zainab segera menyambut cerita suaminya itu dengan menceritakan tentang peristiwa yang baru saja dialami oleh ayahnya, Muhammad Rasulullah SAW, yakni turunnya wahyu Allah kepada beliau di Gua Hira dan perintah untuk menyampaikan agama lslam ke semesta alam.

Zainab juga mengatakan bahwa dirinya telah mengikuti agama Rasulullah, mengikuti agama lslam bersama ibu dan para saudarinya. Abu al-Ash mengatakan, "Benarkah engkau telah berbuat demikian wahai Zainab?" Zainab menjawab, "Aku tidak akan mendustakan ayahku. Demi Allah, sebagaimana engkau kenal, beliau adalah ash-Shadiq al-Amin."

Zainab mengajak suaminya untuk masuk Islam dan tidak lagi menyembah batu dan para berhala sebagaimana yang dikerjakan oleh kaumnya. Zainab juga menyampaikan bahwa beberapa orang terhormat dari kaumnya telah lebih dahulu masuk islam, seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali ibn Abi Thalib, saudara sepupunya Utsman ibn Affan, dan Zubair ibn 'Awwam.

Abu al-Ash sangat gelisah. la berpikir begitu jauh tentang apa yang akan ia dengar dari Keluarga dan kerabatnya bahwa sekiranya dirinya telah meninggalkan agama nenek moyang dan mengikuti agama istrinya.

Dengan suara tertekan, Abu al-Ash berkata kepada istrinya, "Wahai Zainab, demi Allah aku tidaklah meragukan kejujuran ayahmu. Tidak ada yang lebih aku sukai dibandingkan dengan menempuh jalan yang sama denganmu, wahai kekasih. Namun, aku tidak ingin jika dikatakan bahwa suamimu telah mengkhianati kaumnya dan kufur kepada nenek moyang demi menyenangkan istrinya. Apakah engkau telah memikirkan hal ini?"

Keadaan ini berlangsung begitu lama. Sementara itu, dakwah Muhammad tetap berjalan untuk menunjukkan kepada agama Islam.

Adapun kaum Quraisy mulai dan semakin keras dalam memusuhi Rasululah SAW. Kaum Quraisy selalu mengintai Siapa saja yang menjadi pengikut Islam untuk menimpakan siksa dan tekanan kepada mereka, menjauhkan mereka dari harta benda dan rumah-rumah mereka, hingga terjadi pemboikotan mengerikan yang tercatat dalam sebuah lembaran dan digantungkan di pintu Kakbah.

Rasulullah bersama kaum mukminin tinggal di suatu daerah atau lembah yang wilayahnya dikuasai oleh Abu Thalib, di luar Makkah. Mereka tinggal di sana dalam pemboikotan yang berlangsung kurang lebih selama tiga tahun.

Enam bulan setelah catatan pemboikotan itu hancur, paman Rasulullah, Abu Thalib, meninggal dunia. Selanjutnya, tiga hari kemudian, Ummul Mukminin Khadijah al-Kubra, ibu dari para putri Rasulullah SAW, menyusul berpulang ke rahmatullah.

Matahari telah tenggelam di balik pegunungan Makkah. Rasulullah bergegas menuju rumah Ummi Hani' untuk bermalam di sana. Rasulullah berjalan dengan hati yang memendam kesedihan.

Beliau tidak sanggup untuk melewatkan malam itu di rumahnya sendiri setelah kehilangan sang istri nan suci, Khadijah, meski telah kembali menikah dengan Saudah binti Zam'ah.

Demikian pula para putri beliau berusaha keras untuk memberikan ketenangan Kepada sang ayah yang penyabar dan sedang berduka itu. Namun, duka dan kesedihan yang bergejolak dalam hati semakin menambah kasih sayang beliau kepada para putri dan istrinya yang menutup diri setelah kehilangan mutiara termahal nan suci, Ummul Mukminin Khadijah ra.

Dalam perjalanan dakwah Rasulullah menyerukan agama Islam, kaum Quraisy tidak pernah berhenti untuk memburu dan menyiksa beliau agar mau meninggalkan Islam yang beliau emban.

Suatu ketika, pagi Makkah tanpa keberadaan Muhammad s.a.w. dan sahabat setianya Abu Bakar ash-Shiddiq. Hari itu perstiwa hijrah telah terjadi. Rombongan hijrah mengarungi padang pasir di tengah kegelapan malam.

Langit berhias bintang-bintang hingga sepanjang perjalaian pada malam hari itu mereka bisa menyaksikan keindahan alam semesta yang belum pernah mereka saksikan. Hati mereka menjadi jernih dan pikiran menjadi terang.

Dalam sekejap, Allah SWT membukakan rahasia kerajaan langit dan bumi kepada mereka. Sesuatu yang tidak pernah mereka ketahui selama tahun-tahun panjang dari umur mereka yang telah berlalu.

Rasulullah melakukan hijrah diikuti oleh semua sahabat dan semua orang yang beriman kepada beliau. Demikian juga halnya para putri Rasulullah, Fathimah, Ummu Kultsum, dan Ruqayyah, yang hijrah menyusul sang ayah Muhammad.

Zainab menoleh ke kiri dan kanan, ternyata di Makkah ia sudah tidak lagi menemukan ayahnya beserta para saudarinya, seluruh keluarga, dan orang-orang tercinta.

Dalam hati ia berkata, "Di manakah ayah dan ibuku? Di manakah Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah? Di manakah Qasim dan Abdullah? Di manakah keluargaku? Mereka semua telah pergi dan meninggalkan diriku seorang diri di tanah yang gersang dan panas ini, di tengah orang-orang kafir dan durhaka."

Zainab pergi menziarahi makam mendiang ibunya nan suci dan mulia, Khadijah r.a., untuk menyirami tanah kuburan itu dengan air matanya dan membacakan apa yang telah ia pelajari dari madrasah nubuwah sang ayah.

Ibunya yang telah beristirahat dengan tenang di dalam kubur itu kini menjadi orang yang paling dekat dengan dirinya. Sementara itu, orang-orang yang ada di dekatnya kini semuanya menjadi jauh.

Satu pukulan berat bagi Zainab adalah karena sang suami mau masuk agama Islam sehingga suasana rumahnya dipenuhi dengan kegelisahan dan duka nestapa. Nikmat yang mereka rasakan bersama berubah menjadi neraka.

Zainab tetap menjalani kondisi seperti ini di rumah suaminya, di Makkah. Tidak ada lagi orang yang sanggup meringankan bebannya karena terpisan dari kedua orangtuanya. Sang ayah, para sahabat, dan para putri beliau telah hijrah ke Madinah al-Munawwarah, sedangkan sang ibu yang suci telah berpulang ke rahmatullah.

Adapun sang suami tetap kukuh menjadi penyembah berhala-berhala dan batu-batu. Dengan demikian, tidak ada lagi yang ia miliki selain Allah yang kepada-Nya ia merendahkan diri dan berdoa agar diberi kesabaran.

Pecahlah Perang Badar yang terjadi antara kaum muslimin dan kaum kafir. Kaum musyrikin meminta Abu al-Ash ibn Rabi', suami Zainab, untuk pergi bersama mereka memerangi kaum Muslimin dan Rasulullah.

Abu al-'Ash segera memenuhi panggilan itu. la pergi untuk berperang, tetapi dalam perang ini, ia jatuh menjadi tawanan kaum muslimin. Ketika mendengar suaminya tertawan oleh kaum Muslimin, kesedihan Zainab semakin dalam.

la menyesalkan karena sang suami memusuhi ayahnya sendiri, Rasulullah yang tidak pernah memberikan kepadanya selain kebaikan dan kebenaran.

Abu al-Ash adalah seorang jutawan Makkah. Keluarganya tentu rela menebus dirinya meski dengan harga yang mahal.

Namun, sang istri, Zainab menginginkan untuk menebus sang suami dengan sesuatu yang lebih mahal daripada harta benda.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Aisyah r.a, ia menceritakan, "Ketika penduduk Makkah mengirimkan tebusan keluarga mereka yang menjadi tawanan, Zainab binti Rasulullah mengirim sejumlah harta untuk menebus Abu al-Ash ibn Rabi', sang suami. Dari sekian harta benda yang dikirimkan itu, ia kirimkan sebuah kalung miliknya. Sebuah kalung yang diberikan oleh Khadijah saat Zainab diboyong ke rumah Abu al-Ash.

Aisyah mengatakan, "Ketika Rasulullah melihat kalung tersebut, beliau merasa sangat tersentuh. Beliau bersabda: Jika kalian berpikir untuk melepaskan tawanan dan mengembalikan harta benda (Zainab), lakukanlah!"

Mereka menjawab: Baik, wahai Rasulullah. Mereka melepaskan Abu al-Ash dan mengembalikan harta milik Zainab.

Sementara itu, Rasulullah meminta Abu al-Ash untuk berjanji agar melepaskan Zainab sehingga ia dapat menyusul beliau. Janji ini adalah janji yang harus ia tepati sebagaimana la dikenal sebagai orang yang tidak pernah mengingkarı janji.

Rasulullah mengutus Zaid ibn Haritsah dan seorang laki-laki Anshar. Beliau memerintahkan, "Berhentilah kalian dai Ya'jaj (sebuah tempat sejauh 8 mil dari Makkah) hingga kalian bertemu dengan Zainab lalu temanilah ia sampai menemuiku."

Abu al-Ash telah kembali ke Makkah. Orang-orang di sana bergembira karena kepulangan Abu al-Ash yang merupakan salah seorang terkaya, paling amanah, dan pedagang paling sukses di Makkah. la segera menunaikan thawaf tujuh kali mengelilingi Baitullah.

Setelah itu, bergegas pulang menemui Zainab, sang istri yang telah menebus dirinya dengan harta paling berharga yang dimiliki.

Sepanjang perjalanan, ia selalu terbayang wajah Rasulullah dan merasa sangat kasihan kepada Zainab. la tahu betapa besar cinta Rasulullah kepada bibinya, Khadijah, tetapi ia tidak pernah membayangkan bahwa cinta itu mampu meluluhkan hati beliau dengan hanya melihat kalung milik Khadijah.

Abu al-Ash ibn Rabi' melangkah lebih cepat untuk segera bertememu dengan sang istri sementara kerinduan begitu menggebu dalam dada. Hatinya penuh dengan cinta dan harapan.

la hendak melantunkan sebuah syair untuk mengungkapkan betapa berat emosi dan perasaannya itu, tetapi ia segera sadar dan teringat akan janji yang telah ia ucapkan kepada Rasulullah.

Abu al-'Ash mengernyitkan dahi sementara dirinya penuh dengan kesedihan. Abu al-Ash tidak mampu mengingkari janji karena itu akan mengotori sifat amanah yang membuatnya terkenal di tengah kaumnya.

Janji itu merupakan sesuatu yang menyakitkan dan memedihkan hati. Janji yang akan merusak rumah tangganya yang damai, rumah tangga yang sebelumnya tidak pernah terguncang meskipun oleh badai sekalipun.

Setibanya Abu al-Ash di rumah dan begitu melihat kedatangannya, Zainab menyambutnya dengan air mata kebahagiaan yang membasahi wajahnya. Dalam waktu sekejap saja, wajah itu berubah menjadi cermin hati yang memancarkan berbagai perasaan dan emosi. Tidak ada yang mereka rasakan selain napas dan perasaan mereka yang bergelora hingga tertumpah ruah karena haru.

Namun, tiba-tiba gema suara Rasulullah terngiang di dalam hati Abu al-'Ash. la pun melepaskan sang istri dari dekapannya sambil berkata, "Wahai Zainab, bersiap-siaplah untuk menyusul ayahmu!"

Dengan keheranan, Zainab memandang ke arah suaminya. la belum mengerti apa arti kata-kata Abu al-'Ash itu. Sebelum Zainab mengerti, Abu al-'Ash berbicara dengan wajah menunduk ke tanah, "Islam telah memisahkan aku dengan dirimu."

Abu al-'Ash telah berjanji kepada Rasulullah untuk mengembalikan Zainab kepada beliau, ke Madinah. la pun tahu betapa janji itu begitu berat bagi hatinya. Namun, ia segera menceritakan kepada Zainab tentang syarat yang diberikan oleh Rasulullah.

la merasa bahwa hatinya tercabik-cabik dan berkeping-keping tatkala melihat rombongan yang akan membawa pergi Zainab binti Rasulullah.

Zainab berusaha berperang melawan perasaannya sendiri. la berkemas untuk pergi. Dengan kejujuran lidah dan hatinya, Zainab menyatakan untuk siap melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Namun, perasaan membuatnya tidak berdaya hingga tidak mampu ia kendalikan.

Air matanya tidak pernah berhenti mengalir sementara hatinya selalu berdebar merindukan sang kekasih yang merupakan suami terbaiknya sepanjang masa.

Saat berkemas untuk menyusul sang ayah, Zainab bertemu dengan Hindun binti 'Utbah. la adalah wanita yang kehilangan ayah, paman, dan saudara yang tewas dalam Perang Badar.

Hindun berkata, "Wahai putri Muhammad, benarkan bahwa engkau hendak menyusul ayahmu?" Dengan hati-hati, Zainab menjawab, "Aku tidak menginginkan itu."

Hindun kembali berkata, "Wahai saudariku, janganlah engkau lakukan itu. Jika engkau membutuhkan kesenangan atau sesuatu yang bisa menemanimu dalam perjalanan, atau uang untuk bekalmu hingga di tempat ayahmu, aku bisa memenuhinya. Janganlah engkau malu karena tidak akan terjadi di antara wanita apa yang terjadi antara sesama laki-laki."

Zainab merasa bahwa Hindun berkata. Namun, ia takut dan tidak mau mengatakan bahwa dirinya memerlukan semua itu.

Zainab terus berkemas hingga selesai. la segera dibawa oleh saudara iparnya, Kinanah ibn Rabi', yang telah mempersiapkan seekor unta untuknya.

Kinanah membawa busur panah beserta tempat anak panahnya. Ia pergi membawa pergi Zainab pada siang hari. la berjalan menuntun unta sementara Zainab berada di dalam sekedup yang ada di atas punggung unta tersebut.

Para laki-laki dan wanita Quraisy ramai membicarakan kepergian Zainab. Mereka saling mencela dan keberatan jika putri Muhammad pergi dalam keadaan demikian.

Putri orang yang telah membunuh ayah dan anak-anak mereka. Karena itu, mereka pergi untuk mengejar hingga menemukan Zainab di daerah Dzu Thuwa. Orang pertama yang mengejarnya adalah Hubar ibn Aswad ibn Abdul Muththalib dan Nafi' ibn Abdul Qais al-Fahari.

Hubar meneror Zainab yang berada dalam sekedup dengan sebuah tombak. Darah pun mengalir dari tubuhnya karena pada saat itu Zainab sedang mengandung.

Kinanah ibn Rabi', yang saat itu bertugas menjaga Zainab, berdiri sambil membuka wadah anak panahnya. la ambil satu anak panah dan meletakkannya pada busurnya. la berkata, "Demi Allah, tidak seorang pun hari ini mendekati Zainab, kecuali aku tembus tubuhnya dengan anak panahku." Akhirnya, mereka pun mundur dan menjauh dari Kinanah.

Dalam kumpulan kaum Quraisy yang datang saat itu, majulah Abu Sufyan dan berteriak, "Wahai kawan, tahanlah anak panahmu! Kami ingin bicara denganmu!" Kinanah menahan anak panahnya.

Abu Sufyan mendekat dan berdiri di hadapannya. Ia berbicara, "Sunggu engkau telah melakukan kesalahan besar. Engkau pergi membawa perempuan ini secara terang-terangan dan di depan orang banyak sementara engkau tahu bagaimana musibah dan malapetaka yang telah kita alami karena Muhammad, ayah perempuan yang engkau bawa itu. Karena itu, jika engkau membawa pergi putri Muhammad ini untuk menemuinya secara terang-terangan, hal itu akan menunjukkan kerendahan yang kita alami dan kelemahan yang terjadi. Demi Allah, kita tidak perlu menahannya untuk menyusul ayahnya karena ia tidak bersalah, tetapi bawalah kembali perempuan ini sampal keadaan menjadi tenang dan orang-orang menyetujui untuk memulangkannya secara damai dan diam-diam. Setelah itu, bawalah ia untuk menyusul ayahnya."

Dengan perasaan takut, Zainab memandangi darah yang mengalir dari tubuhnya. Kinanah ibn Rabi' segera berpikir untuk membawa Zainab kembali, memenuhi saran Abu Sufyan, dan menyelamatkan nyawa istri saudaranya itu.

Saat orang-orang yang mengejar Zainab itu kembali, Hindun menyaksikan kedatangan mereka. Ia berkata kepada mereka, "Apakah dalam damai para laki-laki menjadi kasar dan kejam, sedangkan dalam perang mereka laksana wanita yang datang bulan?"

Terpaksa mereka kembali ke Makkah, tiba-tiba Zainab mengalami keguguran dan tubuhnya menjadi lemah. Setibanya di rumah suaminya, Abu al-' Ash, semua orang menghambur dan menggotong Zainab yang berlumuran darah.

Abu al-'Ash ibn Rabi' berusaha membalut derita sang istri yang telah dipisahkan darinya karena Islam.

Beberapa hari kemudian, Zainab berhasil memulihkan sedikit tenaganya. Pembicaraan tentang dirinya telah mereda. Karena itu, Kinanah ibn Rabi' segera mengajaknya untuk kembali menaiki unta sementara air mata Zainab bercucuran karena hendak berpisah dengan suaminya, Abu al-Ash.

Kali ini Kinanah membawa Zainab pada malam hari secara diam-diam. la pergi dengan sangat waspada karena takut akan dikejar kembali. Akhirnya, Kinanah ibn Rabi' berhasil membawa Zainab ke tempat yang di situ kedua utusan Rasulullah telah menanti, yaitu di daerah Dzu Thuwa.

la segera menyerahkan Zainab kepada mereka sambil berkata, "Aku heran terhadap Hubar dan kaumnya yang rendah. Mereka menginginkan agar aku berkhianat atas putri Muhammad. Namun, aku tidak peduli berapa pun banyaknya mereka selagi aku hidup, aku tidak akan menyerahkannya (Zainab) kepada mereka."

Kedua laki-laki itu pun membawa Zainab hingga menghadap Rasulullah. Ketika mereka tiba, hati Rasulullah berdebar saat menyambut kedatangan putri tercintanya itu dari negeri yang penuh dengan kesyirikan memasuki negeri lslam yang penuh dengan keimanan.

Beliau melihat bekas darah sang putri yarng telah mengering. Beliau juga mendengar kekejaman yang dilamukan oleh Hubar ibn Aswad terhadap Zainab hingga menyebabkan darah mengalir dari dirinya.

Tak terasa enam tahun telah berlalu, Zainab hidup di bawah naungan sang ayah, Muhammad SAW. Zainab tidak pernah putus asa untuk berharap agar cahaya Islam menembus ke dalam hati suaminya, Abu al-'Ash.

Alhasil, enam tahun kemudian, takdir menghendaki membuka hati Abu al-'Ash untuk menerima agama Islam yang hanif. la pun hijrah ke Madinah menjumpai Rasulullah menyatakan syahadat di hadapan beliau sekaligus mengumumkan bahwa dirinya telah menjadi pemeluk agama yang benar, agama yang diturunkan dari langit dengan membawa hidayah dan cahaya.

Zainab mendengar kabar tentang kedatangan sang suami, Abu al-'Ash, ke Madinah dan menjadi pengikut agama Islam. Ia pun terheran-heran, tetapi hatinya merasa lega dan wajahnya berseri.

Zainab hanya terdiam dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan. Seluruh alam di sekitarnya tenggelam dalam ketenangan nan khusyuk.

Zainab hanya duduk sambil menanti kabar keislaman dan kedatangan sang suami, Abu al-'Ash, ke Madinah.

Begitu sang suami tiba, Zainab segera menyambutnya dengan suka cita dan berkata, "Selamat wahai Abu Ali dan Umamah!"

Sementara itu, suara Rasulullah SAW sedang bergema memenuhi penjuru Madinah dengan lantunan takbir. Beliau mengumandangkan takbir di dalam masjid, diikuti oleh para jamaah.

Setelah mampu menguasai hatinya dan menghimpun segenap tenaga, Zainab melangkah menuju pintu lalu berseru sekeras-kerasnya, "Wahai manusia, sesungguhnya aku telah memberi perlindungan kepada Abu al-'Ash ibn Rabi'." Suara Zainab itu menggema ke seluruh sudut rumah.

Ketika Rasulullah mengucapkan salam sesudah salat, beliau berpaling kepada jamaah dan bertanya, "Wahai manusia, apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?"

Mereka menjawab, "Benar wahai Rasulullah, kami telah mendengarnya."

Rasulullah SAW kemudian bersabda, "Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, aku tidak mengetahui sedikit pun tentang hal itu sebelum aku mendengar apa yang kalian dengar."

Beliau melanjutkan, "Sesungguhnya, ia memberi perlindungan kepada kaum muslimin terdekat dan kita telah melindungi orang yang memberi perlindungan kepadanya."

Sudah selesai melaksanakan salat, Rasulullah menemui Zainab. Beliau mendapati suami Zainab telah berada di sana. Dengan suara penuh harap dan menghiba, Zainab berbicara kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu al-'Ash ini saat dekat adalah keponakanmu dan jika jauh, ia adalah ayah dari anak-anakku. Kini aku telah memberi perlindungan kepadanya."

Beberapa waktu kemudian, Rasulullah memanggil sang putri dengan sikap punuh belas kasih karena terkesan atas sikap Zainab tersebut. Beliau pun kembali mempersatukan Zainab dengan Abu al-Ash setelah beliau yakin akan keislaman Abu al-'Ash dan kasih sayangnya kepada Zainab serta keinginannya agar beliau mengembalikan sang istri kepadanya.

Ada yang mengatakan bahwa Rasulullah mengembalikan Zainab kepada suaminya menurut pernikahan sebelumnya. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa Zainab dikembalikan kepada suaminya dengan akad pernikahan baru.

Satu tahun berselang semenjak pasangan suami istri itu kembali bertemu, kini mereka kembali mesti berpisah. Namun, perpisahan yang kali ini mereka hadapi adalah perpisahan untuk selamanya.

Zainab telah lebih dahulu berpulang ke rahmatullah pada tahun 8 H. Zainab wafat sesudah menderita sakit yang begitu lama sejak mengalami keguguran di tengah padang pasir saat melakukan perjalanan hijrah dari Mekah menuju Madinah.

Kematian Zainab menjadi musibah besar bagi sang suami. Abu al-'Ash mendekati jenazah Zainab seraya mengucapkan salam perpisahan dengan air mata berlinang hingga membuat semua orang yang hadir ikut menangis.

Rasulullah SAW datang dengan penuh kesedihan dan air mata yang berlinang. Beliau mendoakan dan menyerahkan sang putri kepada Allah SWT lalu memerintahkan kepada para wanita yang ada ketika itu: "Mandikanlah jenazahnya dengan jumlah ganjil: tiga atau lima kali. Berikanlah kapur untuk perjanalannya ke akhirat."

Kisah ini dikutp dari Buku Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam, karya Dr. Bassam Muhammad Hamami.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini