Seketika itu pula turunlah rahmat Ilahiyah kepada hamba yang dipilih oleh Tuhan untuk menjadi utusan-Nya bagi seluruh umat manusia. Datanglah Ruh al-Amin menyampaikan risalah kepadanya.
Risalah berat yang tidak sanggup dipikul oleh gunung-gunung sekalipun. Risalah untuk membawa petunjuk bagi seluruh umat manusia serta mengajak umat untuk menyembah Allah SWT saja, dan tidak ada sekutu bagi-Nya.
Muhammad telah kembali pulang ke tengah keluarganya, tanpa membawa pertolongan selain pertolongan Tuhan dan iman kepada-Nya. Seluruh tubuhnya gemetar karena hebatnya hal yang baru saja terjadi antara dirinya dan malaikat Jibril di Gua Hira.
Rasulullah merasa khawatir terhadap dirinya karena besarnya tanggung jawab yang harus diembannya. Dalam keadaan sendiri dan tanpa memiliki persenjataan apa pun, Muhammad diperintahkan untuk melawan kerusakan yang telah merajalela di muka bumi.
Beliau harus melawan kejamnya para diktator, para penindas, dan para pembuat kerusakan hingga Allah menyempurnakan cahaya-Nya. Tidak ada yang meringankan beban ketakutan dalam hatinya, kecuali kabar gembira bahwa Allah telah menjanjikan pertolongan dari sisi-Nya.
Begitu memasuki rumah, sang istri nan suci, Khadijah r.a., mendekapnya. Dengan bahasa lembut sebagaimana biasa, ia berusaha menghibur suaminya itu dan setelah mendengar bahwa wahyu telah turun kepada beliau, Khadijah segera percaya dan beriman kepada dakwah Rasulullah.
Khadijah selalu mendampingi dakwah Rasulullan. la berkata, "Semoga Allah melindungi kita wahai Abu Qasim. Bergembiralah wahai suamiku dan teguhkanlah hatimu. Demi Allah, Dia tidak akan pernah menyusahkan dirimu karena engkau orang yang senang menyambung silaturahim, berbicara dengan jujur, menyampaikan amanah, menanggung segalanya, menghormati tamu, dan membantu orang-orang yang benar."
Mendengar berita itu, Zainab tertegun di tempatnya, diam bergeming. Pikirannya tidak menentu hingga ia tidak tahu dari mana pikiran itu bermula dan ke mana akan berujung. Bahkan, ia membayangkan seolah dirinya sedang dalam samudra yang dalam tanpa tahu ke mana akan berlabuh.
la baru sadar ketika dibangunkan oleh suara saudarinya, Fathimah, yang bertanya, "Wahai saudariku, tidakkah engkau gembira karena menjadi putri dari seorang nabi umat ini?
Zainab menjawab, wahai Fathimah, gadis manakah yang tidak senang mendapat kehormatan yang tiada bandingnya seperti ini? Namun, aku mendengar dari paman kita, Waraqah, bahwa ayah kita pasti akan didustakan, disakiti, diusir dan akan diperangi.
Sang suami yang musafir itu telah pulang untuk bertemu dengan sang istri dan mendekapnya setelah sekian lama pergi. Dengan begitu, ia dapat melepas lelah karena jauhnya perjalanan dan melepas rindu yang begitu mendalam.
la mulai bercerita tentang apa yang ia dengar seputar desas-desus yang ramai dibicarakan oleh para musafir berkaitan dengan kemunculan Muhammad ibn Abdullah dengan agama barunya yang berbeda dengan agama nenek moyang mereka, yakni agama Islam yang mulia.
Zainab segera menyambut cerita suaminya itu dengan menceritakan tentang peristiwa yang baru saja dialami oleh ayahnya, Muhammad Rasulullah SAW, yakni turunnya wahyu Allah kepada beliau di Gua Hira dan perintah untuk menyampaikan agama lslam ke semesta alam.
Zainab juga mengatakan bahwa dirinya telah mengikuti agama Rasulullah, mengikuti agama lslam bersama ibu dan para saudarinya. Abu al-Ash mengatakan, "Benarkah engkau telah berbuat demikian wahai Zainab?" Zainab menjawab, "Aku tidak akan mendustakan ayahku. Demi Allah, sebagaimana engkau kenal, beliau adalah ash-Shadiq al-Amin."
Zainab mengajak suaminya untuk masuk Islam dan tidak lagi menyembah batu dan para berhala sebagaimana yang dikerjakan oleh kaumnya. Zainab juga menyampaikan bahwa beberapa orang terhormat dari kaumnya telah lebih dahulu masuk islam, seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali ibn Abi Thalib, saudara sepupunya Utsman ibn Affan, dan Zubair ibn 'Awwam.
Abu al-Ash sangat gelisah. la berpikir begitu jauh tentang apa yang akan ia dengar dari Keluarga dan kerabatnya bahwa sekiranya dirinya telah meninggalkan agama nenek moyang dan mengikuti agama istrinya.
Dengan suara tertekan, Abu al-Ash berkata kepada istrinya, "Wahai Zainab, demi Allah aku tidaklah meragukan kejujuran ayahmu. Tidak ada yang lebih aku sukai dibandingkan dengan menempuh jalan yang sama denganmu, wahai kekasih. Namun, aku tidak ingin jika dikatakan bahwa suamimu telah mengkhianati kaumnya dan kufur kepada nenek moyang demi menyenangkan istrinya. Apakah engkau telah memikirkan hal ini?"
Keadaan ini berlangsung begitu lama. Sementara itu, dakwah Muhammad tetap berjalan untuk menunjukkan kepada agama Islam.