nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Mualaf, Ibu Masuk Islam karena Anak Bahagia Mendengar Suara Adzan

Novie Fauziah, Jurnalis · Selasa 10 Desember 2019 10:32 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 12 10 614 2140065 kisah-mualaf-ibu-masuk-islam-karena-anak-bahagia-mendengar-suara-adzan-OpSf0n2THF.jpg Ilustrasi. Foto: Istimewa

BAGI mereka yang memutuskan jadi mualaf, proses hijrah bukanlah hal yang mudah, sebab berbagai ujian harus dilalui. Sebut saja Meta (bukan nama sebenarnya), belum lama ini ia memeluk Islam.

Meta pun menceritakan perjalananannya kepada Okezone saat ditemui di kawasan Jakarta Timur, bahwa ia mendapatkan hidayah karena anaknya yang bernama Andi (bukan nama sebenarnya). “Ini karena anak saya, dia yang membuat saya akhirnya menjadi mualaf,” katanya.

Andi sendiri adalah anak berkebutuhan khusus, ia mengalami itu sedari kecil dan anak ini sekarang berusia 13 tahun. Segala indera di tubuhnya tidak bisa langsung merespons, khususnya indera pendengarannya.

Namun ketika mendengar suara adzan atau lantunan kalimat tauhid lainnya, Andi selalu merasa bahagia. Sebagai seorang non-Muslim, saat itu Meta heran mengapa hanya suara-suara seperti itu yang direspons anaknya.

Ilustrasi. Foto: Istimewa

“Waktu kecil kalau dengar suara adzan, ia selalu tersenyum. Wajahnya terpancar rasa bahagia karena anak seperti Andi ini kan kepekaannya lebih tajam,” ujar Meta.

Melihat anaknya selama bertahun-tahun selalu senang ketika mendengar suara adzan, Meta pun mulai merasa terpanggil. Ia mulai befikir apakah sudah saatnya ia harus berpindah keyakinan atau jadi mualaf, sementara seluruh keluarga besarnya tidak ada yang beragama Islam.

“Saya merasa heran dengan tingkah laku anak saya ini. Padahal kalau diajak ngobrol itu harus butuh waktu, kalau dengar suara adzan dia mau,” ucapnya.

Menyikapi hal itu, Meta mulai bertanya-tanya tentang Islam kepada teman-temannya yang Muslim. Berkat jawaban dan pencerahan teman-temanna itu, ia akhirnya, bahkan kemudian sekira pertengahan 2019 ibu ini mengucapkan dua kalimat syahadat dan terus belajar tentang Islam.

Namun keputusannya ini tidak mudah dijalani, sebab hampir seluruh keluarga memusuhinya, terlebih Meta adalah seorang janda karena suaminya sudah lama meninggal dunia. Tapi ternyata ia tidak sendiri, teman-teman satu kajiannya terus memberikan dukungan.

“Ya pasti keluarga besar saya tidak setuju, tapi Insya Allah saya tetap istiqamah demi anak saya,” terang Meta.

Singkat cerita, pada November 2019 lalu anaknya Andi mulai belajar Islam dan diusianya yang sudah terbilang cukup, ia pun menyusul ibunya membaca dua kalimat syahadat. Meski dengan keterbatasan, Andi begitu semangat dan mulai paham apa yang sedang dijalaninya saat ini.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini