Fathimah az-Zahra, Putri Rasulullah yang Jadi Junjungan Perempuan Penghuni Surga

Fadhilah Annisa, Jurnalis · Jum'at 13 Desember 2019 06:08 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 12 614 2141211 fathimah-az-zahra-putri-rasulullah-yang-jadi-junjungan-perempuan-penghuni-surga-HIOGPlcUEQ.jpg Menyeberangi padang pasir (Foto: Pond5)

Fathimah az-Zahra, salah seorang perempuan ahli ibadah yag suci, pilihan orang-orang bertakwa. Ia adalah sang putri yang sangat mirip dengan Rasulullah dan yang paling melekat di hati beliau. Ahli bait yang paling awal menyusul setelah kepergian beliau.

Fathimah az-Zahra adalah wanita yang tak tertarik pada dunia dengan segala perhiasannya. Dirinya sangat memahami akan keburukan dan bahaya dunia yang tersembunyi. Rasulullah s.a.w pernah bertanya kepadanya, “Wahai Putriku, tidakkah engkau ridha untuk menjadi junjungan wanita di seluruh alam?”

Kisah Nabi

Fathimah berkata, “Wahai ayah, lantas di manakah (kedudukan) Maryam binti Imran?”

Rasulullah menjawab, “Ia adalah junjungan wanita pada di alamnya dan engkau adalah junjungan wanita di alammu. Demi Allah, aku telah menikahkanmu dengan seorang junjungan, baik di dunia maupun di akhirat.”

Fathimah az-Zahra’ merupakan putri keempat Rasulullah Muhammad ibn Abdullah. Ibunya adalah Ummul Mukminin Khadijah al-Kubra binti Khuwailid r.a.

Sayyidah Fathimah az-Zahra terlahir ketika Rasulullah genap berumur 35 tahun. Allah menakdirkan bahwa kelahiran ini bertepatan dengan tahun-tahun menjelang pengangkatan Muhammad sebagai Rasulullah.

Sang ayah sangat bahagia dengan kelahiran sang putri dan melihatnya sebagai kebaikan untuknya. Beliau melihat berkah dan anugerah dalam diri sang putri. Oleh karena itu, beliau memberinya nama Fathimah dengan julukan az-Zahra (yang selalu berseri). Fathimah mendapat nama kunyah, Ummu Abiha, karena ia sangat mirip dengan sang ayah.

Sang putri tumbuh dan berkembang di rumah Nabi yang penuh kasih sayang. Beliau memberikan penuh perhatian demi mendidik sang putri agar mendapat bagian yang sempurna dari adab, kasih sayang, dan bimbingan Nabi yang lurus, serta sifat-sifat mulia dan watak terpuji yang dimiliki oleh sang ibu, Khadijah r.a. Dengan demikian, Fathimah tumbuh dengan sifat terpuji yang sempurna, jiwa yang luhur, cinta kebaikan, dan akhlak yang mulia.

Ia menjadikan sang ayah, Rasulullah sebagai model ideal dan panutan terbaik dalam segala tingkah laku. Selain itu, Fathimah memiliki kedudukan istimewa di hati Rasulullah yang menyimpan cinta dan kasih sayang abadi.

Sayyidah Aisyah r.a. menuturkan bahwa dirinya pernah di tanya: “Siapakah manusia yang paling dicintai Rasulullah?” Aisyah menjawab “Fathimah, dari kalangan wanita, sedangkan dari kalangan laki-laki adalah suami Fathimah.”

Fathimah mampu mengisi rumah Rasulullah dengan kegembiraan dan kehidupan yang baik. Hatinya selalu awas dan kedua matanya selalu terbuka, berusaha untuk meniru dan meneladani apa saja yang ia lihat dari lingkungan rumahnya.

Allah SWT memberikan keistimewaan dengan menakdirkannya tumbuh dalam didikan keluarga mulia yang merupakan contoh bagi akhlak mulia. Dia memberinya kesempatan untuk menyerap secara langsung mata mata air yang jernih dan berkilau dari sang teladan hidup, Rasulullah SAW, yang memancarkan kebaikan, kedermawanan, kemurahan, dan hikmah dari Allah SWT.

Fathimah az-Zahra adalah putri Rasulullah yang paling mirip dengan sang ayah dalam cara berjalan, menoleh, nada bicara, berhubungan dengan orang-orang di sekitarnya, dan dalam segala perilaku. Karena itu, wajar jika Fathimah menjadi Ahlul Bait yang paling dekat di hati Rasulullah.

Wajah beliau selalu berseri dan bahagia setiap kali melihat Fathimah. Beliau pun memanggil sang putri untuk mendekat agat bisa menggendong dan mendekapnya dalam kelembutan dada dan kehalusan hati beliau.

Begitu Fathimah az-Zahra memasuki usia lima tahun, tampaklah perubahan besar dalam kehidupan sang ayah, Rasulullah. Perubahan yang terjadi setelah turunnya wahyu kepada belaiu serta tugas dakwah Islam yang diembankan kepada beliau.

Fathimah az-Zahra tercerabut dari masa kanak-kanaknya dan terbangun dari mimpi-mimpinya. Sejak saat itu ia menyaksikan berbagai peristiwa kejam dan agung yang mengiringi pengangkatan sang ayah sebagai utusan Allah.

Fathimah tinggal seorang diri di rumah, tanpa saudari-saudarinya, Zainab, Ummu Kultsum, dan Ruqayyah yang telah lebih dulu menikah dan membangun rumah tangga. Ia sadar dirinya tinggal seorang diri dalam menghadapi gonjang-ganjing kehidupan dan mendampingi sang ayah, Rasulullah, dalam berdakwa melawan kaum Quraisy yang kejam.

 Dalam kesendirian dan kebersamaannya dengan sang ayah, Fathimah ditemani oleh saudara sepupunya, Ali ibn Abi Thalib, anak tiri sekaligus sepupu Rasulullah yang usianya empat tahun lebih tua dari Fathimah.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Ali ibn Abi Thalib hidup di bawah asuhan dan bimbingan Rasulullah. Ali mulai diasuh dan hidup bersama di tengah keberkahan rumah tangga Rasulullah sejak kaum Quraisy mengalami krisis berat dan Abu Thalib ketika itu adalah orang yang menanggung beban hidup keluarga besarnya.

Melihat hal itu, Rasulullah bersabda kepada Abbas, paman beliau, yang merupakan salah satu orang terkaya di antara Bani Hasyim, “Sesungguhnya, saudaramu, Abu Thalib, adalah orang yang berkeluarga besar. Masyarakat telah mengalami krisis sebagaimana yang engkau lihat. Karena itu, marilah kita pergi untuk meringankan beban keluarga Abu Thalib. Aku akan mengambil salah seorang dari anaknya dan engkau ambil satu lagi anaknya hingga kita bisa menanggung keduanya.” Abbas, sang paman pun, menjawab, “Baiklah.”

Mereka segera mendatangi Abu Thalib kemudian berkata, “Kami bermaksud untuk meringankan bebanmu atas keluargamu hingga masyarakat terlepas dari krisis yang mendera.”

Abu Thalib menjawab, “Asal kalian tinggalkan Uqail untukku, lakukanlah apa yang kalian mau.”

Uqail adalah anak yang lemah secara fisik dan tubuhnya tidak sehat. Akhirnya, Muhammad SAW mengambil dan mengasuh Ali yang merupakan anak bungsu Abu Thalib. Sementara itu, Abbas mengasuh Ja’far yang berusia sepuluh tahun lebih tua daripada Ali.

 

Ali terus hidup bersama Rasulullah yang mulia hingga Allah mengangkat beliau sebagai Nabi dan Rasul. Ali segera menjadi pengikut beliau, beriman, dan percaya sepenuhnya pada apa yang beliau bawa.

 

Sementara itu, Ja’far yang berada di bawah asuhan Abbas ketika itu belum masuk Islam dan belum tertarik pada agama ini.

Ali ibn Abi Thalib adalah satu dari tiga orang yang paling awal masuk Islam. Ia sangat ingin jika ayahnya, Abu Thalib, yang merupakan sesepuh Bani Hasyim itu memproklamasikan keislaman dan mengucapkan kalimat syahadat. Karena itu, Rasulullah s.a.w. bersabda kepada Abu Thalib: “Wahai paman, engkau adalah orang yang paling berhak aku beri nasihat dan aku seru pada hidayah. Engkau adalah orang yang paling layak memenuhi seruanku dan membelaku untuknya.”

Ali dan Fathimah tumbuh dalam asuhan Rasulullah. Mereka tidak pernah berpisah selama-lamanya sampai Allah memanggil Rasulullah untuk menghadap ke haribaan-Nya.

 

Dalam hal ini, Ali ibn Abi Thalib berkata kepada kaumnya. “Kalian tahu posisiku di sisi Rasulullah sebagai kerabat dekat dan memiliki kedudukan istimewa. Beliau meletakkanku di pangkuannya saat aku adalah seorang anak kecil yang beliau dekap di dadanya. Tubuhku dibelai oleh alas-alas tidur beliau dan tubuhku bersentuhan juga dengan tubuh beliau hingga aku bisa mencium keringat beliau. Aku tidak pernah melihat dusta dalam ucapan mupun kesia-siaan dalam perbuatannya. Aku mengikuti beliau laksana anak mengikuti induknya. Setiap hari beliau mengangkat panji dari akhlaknya kepadaku dan menyuruhku untuk meneladaninya.

Dalam usianya yang masih sangat belia, Fathimah az-Zahra telah menjalani berbagai peristiwa kenabian bersama ayahnya. Ia telah kehilangan masa kanak-kanak yang penuh dengan permainan dan menjauh dari hiruk-pikuk kondisi zaman di sebuah tempat, di dekat ayahnya, di hati kaum muslimin.

Fathimah keluar meninggalkan rumah demi mengikuti sang ayah yang berjuang untuk menyampaikan dakwah Islam, menyeru untuk memeluk agama kebenaran, agama Islam. Karena tugas ini, beliau mendapat cemoohan dan siksaan dari para diktator dan musuh-musuh Islam.

Sementara itu, Fathimah menyaksikan semua itu dengan dua mata kepalanya sendiri hingga hatinya yang masih beliau nan suci itu pun terbakar oleh karenanya.

Suatu hari Fathimah berjalan ke belakang Rasulullah dan mengawasi sang ayah dari kejauhan. Ketika itu Rasulullah sedang menuju Baitul Haram untuk menunaikan shalat. Saat beliau sujud yang ketika itu berkumpullah kaum musyrikin Quraisy menertawakan salat dan ibadah beliau, datanglah Utbah ibn Abu Mu’ith dengan membawa kotoran kambing dan melemparkannya ke punggung Rasulullah.

Sebelum beliau bangun, Fathimah menghampiri dan mengambil kotoran tersebut serta memanggil siapa yang telah melakukan perbuatan itu. Saat Rasulullah bangun dan sujud, beliau berdoa, “Ya Allah, aku serahkan kepada-Mu khalayak Quraisy itu. Ya Allah aku serahkan kepada-Mu Abu Jahal ibn Hisyam, Utbah ibn Rabi’ah, Syaibah ibn Rabi’ah, Utbah ibn Abi Mu’ith, dan Ubay ibn Khalaf.”

Orang-orang musyrik itu terdiam karena doa Rasulullah. Mereka memejamkan mata hingga beliau selesai salat dan kembali ke rumah di temani oelh sang putri, Fathimah. Selanjutnya, Allah SWT benar-benar mengabulkan doa Rasul-Nya yang mulia. Semua orang yang beliau doakan itu pun tewas dalam Perang Badar.

“Berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat.” (QS. Asy Syu’ara :214)

Ketika Allah menurunkan wahyu di atas kepala Rasulullah, beliau menyeru kaum Quraisy,

“Wahai kaum Quraisy, tebuslah diri kalian (dari siksa Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya). Sedikit pun aku tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan Allah untuk kalian. Wahai Bani Abdi Manaf, sedikit pun aku tidak bisa terbuat apa-apa untukmu di hadapan Allah. Wahai Shafiyah, bibi Rasulullah, sedikit pun aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu di hadapan Allah nanti. Wahai Fathimah binti Muhammad, mintalah kepadaku apa saja yang kau kehendaki, tetapi sedikit pun aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu di hadapan Allah nanti.”

Pada saat itu, Fathimah az-Zahra sedang bersama sang ayah. Ketika mendengar seruan di atas, ia merasa bangga dan terhormat karena Rasulullah mengkhususkan permintaan untuknya dan mendapat kehormatan melebihi seluruh Ahli Bait lainnya. Pasalnya, itu semua adalah untuk menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang mampu membuat orang tidak butuh kepada Allah karena adanya orang yang paling Dia cintai dan paling mulia di sisi-Nya.

Demikianlah, Fathimah telah menyaksikan banyak makar yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap ayahnya. Oleh karena itu, ia sangat berharap andai dirinya mampu menebus sang ayah dengan nyawanya dan melindungi beliau dari gangguan kamu musyrikin. Namun, bagimana ia bisa melakukan semua itu sementara ia masih anak-anak.

Salah satu derita terberat yang ia lalui pada masa-masa awal dakwah adalah pemboikotan kejam kaum Quraiys terhadap kaum muslimin dan Bani Hasyim di kampung Abu Thalib. Pemboikotan itu telah mengakibatkan kelaparan yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kesehatan Fathimah hingga sepanjang hidupnya ia pun memiliki tubuh yang lemah dan tidak sehat.

Begitu lepas dari ujian pemboikotan yang mematikan itu, Fathimah kecil kembali terpukul dengan mangkatnya sang ibu, Ummul Mukminin Khadijah r.a., hingga hatinya dipenuhi dengan duka kesedihan yang mendalam.

Pada saat itu Fathimah memanggil sang ibu tercinta dengan penuh iba. Air matanya berlinang menjatuhi tubuh sang ibu yang terbujur di atas ranjang, menghadapi sakratulmaut. Fathimah tahu apa itu maut, tetapi ia tetap tak berdaya menghadapi kepedihan itu sedang air mata membasahi wajahnya.

Fathimah melihat Ali ibn Abi Thalib menghampiri sang ibu yang suci. Hati Ali pun tercabik oleh duka atas kepergian sang ibu. Begitu matanya menatap Ummul Mukminin Khadijah, Ali merasa detak jantungnya semakin kencang. Ia pun bertanya-tanya dalam hati, "Akankah mata air kasih sayang yang mengalirkan perasaan paling indah sejak ia datang ke rumah ini bersama Rasulullah akan mengering? Akankah sang ibu nan suci itu pergi meninggalkan dunia?" Begitu pikiran itu terdetik dalam hati, Ali menjadi panik dan tertekan.

Ia tidak mampu membayangkan bahwa rumah Rasulullah kini kehilangan sang junjungan nan suci. Pada akhirnya, Ali pun menangis dengan penuh hormat, keberanian, kasih sayang, dan ketulusan hati.

Fathimah az-Zahra kehilangan sang ibu yang suci, padahal dalam usianya itu, ia sangat membutuhkan peran seorang ibu. Fathimah masih seorang anak kecil yang polos. Ia hidup di dunia ini melalui sang ibu hingga ia tak melihat ada yang lebih indah, lebih manis, dan lebih cemerlang daripada sang ibu yang telah membesarkannya dalam dekapan kasih sayang.

Hari demi hari berjalan begitu cepat hingga mengantarkan Fathimah turut menyaksikan reaksi kejam dan perlakukan buruk yang dirasakan oleh Rasulullah SAW dari penduduk Thaif atas dakwahnya.

Fathimah juga menyaksikan berbagai peristiwa ketika sang ayah pulang dari perjalan Isra' Mi'raj dan bagaimana sikap kaum musyrikin antara percaya dan mendustakan, antara mencibir dan mencemooh terhadap sang ayah yang menceritakan apa saja yang beliau saksikan dalam malam Isra ke Baitul Maqdis.

Dalam berbagai peristiwa itu, Fathimah berdiri di sisi ayahnya sebagai seorang wanita mukminah yang sabar dan menyeru kepada Allah. Wanita yang tak mengenal lelah, lemah, maupun jenuh.

Rasulullah SAW mengizinkan para sahabat untuk hijrah dari Makkah ke Madinah. Rasulullah sendiri melakukan perjalanan hijrah setelah meminta Ali ibn Abi Thalib untuk tetap tinggal di Makkah. Ali rela mempersembahkan nyawa demi menebus nyawa Rasulullah yang mulia dengan tidur di atas ranjang beliau pada suatu malam tatkala Rasulullah pergi berhijrah.

Hal itu ia lakukan demi mengelabui para pemuda Quraisy yang berkumpul untuk membunuh Rasulullah. Namun, sungguh merupakan kejutan yang luar biasa bagi kaum Quraiys ketika mereka tahu bahwa Ali ibn Thalib-lah yang tidur di atas ranjang sementara Rasulullah telah meninggalkan Makkah bersama para sahabat.

Ali ibn Abi Thalib tertinggal di Makkah selama tiga hari untuk mengembalikan sejumlah titipan barang-barang milik orang yang ada pada Rasulullah. Sementara itu, Fathimah az-Zahra, Ummu Kultsum, dan beberapa wanita lainnya tetap di Makkah hingga beberapa waktu sampai Rasulullah mengirim beberapa sahabat untuk membawa mereka ke Madinah al-Munawwarah.

Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-13 sesudah bi'tsah (pengangkatan Nabi Muhammad s.a.w. sebagai rasul).

Saat tiba di Madinah al-Munawwarah, Fathimah, Ummu Kultsum dan para wanita Makkah itu disambut oleh sejumlah wanita Anshar dengan sangat senang dan bahagia. Kaum Muhajirin telah menetap di sana dan hati mereka menjadi tenang. Ketika itu tidak ada lagi perasaan terasing karena Rasulullah telah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Ali pun telah mengambil seorang saudara untuk dirinya.

Pada masa kanak-kanak, Fathimah az-Zahra begitu bahagia dalam belaian kedua orang tuanya. Ketika sang ibu, Khadijah al-Kubra junjungan seluruh wanita Quraisy, wafat, Fathimah menumpahkan perhatian kepada sang ayah dan berusaha membalut duka yang dalam dari hati sang ayah karena kepergian istri yang senantiasa menjadi pembela setianya. Karena itulah, Fathimah dikenal dan mendapat nama kunyah: Ummu Nabi.

Ketika Fathimah hijrah dari Makkah ke Madinah, Rasulullah SAW telah menikah dengan Aisyah binti Abi Bakar r.a. Beliau telah memboyong Aisyah di tengah rumah tangga nubuwah.

Fathimah merasakan kecemburuan sebagai anak terhadap orang yang menggantikan posisi ibundanya nan suci, Khadijah. Fathimah merasa sedih karena ayahnya telah mencintai istri barunya, putri Abu Bakar dan semua orang pun tahu bahwa Aisyah adalah istri yang sangat beliau cintai.

Fathimah tidak merasa senang jika ada orang yang membuatnya harus membagi hati sang ayah, tetapi cintanya telah melampaui segala kecemburuan dan perselisihan yang kadang kala terjadi antara dirinya dan Aisyah. Ia yakin bahwa telah tiba saatnya bagi dirinya untuk meninggalkan rumah tangga Nabi dengan senang hati, tanpa perasaan tidak enak. Hal demikian agar rumah itu diisi oleh sang ibu rumah tangga jelita, Aisyah binti Abi Bakar.

Saat itu Fathimah az-Zahra telah berusia delapan belas tahun. Beberapa tokoh sahabat pun mulai berdatangan untuk meminang Fathimah. Mereka di antaranya adalah Abu Bakar ash-Shhiddiq dan Umar ibn Khaththab r.a. Namun, Nabi menolak lamaran mereka dengan sangat halus.

Oleh karena itu, Ali ibn Abi Thalib memberanikan diri untuk menemui Rasulullah dan melamar putri beliau, Fathimah az-Zahra. Ali menceritakan, "Aku ingin melamar putri Rasulullah, tetapi dalam hati aku berkata: 'Demi Allah, aku tidak memiliki sesuatu apa pun.' Aku pun teringat akan hubungan kekerabatan dengan Rasulullah dan hal itu jugalah yang mendorongku berani untuk datang melamar.'

Rasulullah bertanya kepadaku: 'Apakah engkau memiliki sesuatu?"

Aku menjawab: 'Tidak, wahai Rasulullah.’

Beliau bersabda: 'Lalu di mana baju besimu yang dahulu pernah aku berikan?"

Aku menjawab: 'Masih ada padaku wahai Rasulullah?’

Beliau bersabda: 'Berikanlah baju itu kepada Fathimah'!"

Ali ibn Abi Thalib pergi dengan bergegas. Tidak lama kemudian ia telah kembali bersama baju besinya. Rasulullah menyuruh Ali untuk menjual baju tersebut dan menggunakan uangnya untuk mempersiapkan hari pernikahannya.

Selanjutnya baju besi itu dibeli oleh Utsman ibn Affan seharga 74 dirham. Ali ibn Abi Thalib menyerahkan uang itu kepada Rasulullah lalu beliau menyerahkannya kepada Bilal untuk membeli sejumlah minyak wangi. Sisanya ia berikan kepada Ummu Salamah untuk membeli beberapa perlengkapan pengantin.

Rasulullah mengundang para sahabat untuk menyaksikan bahwa beliau hendak menikahkan putrinya, Fathimah, dengan Ali ibn Abi Thalib dengan mas kawin 400 mitsqal perak, menurut sunnah yang berlaku. Beliau tutup khutbah pernikahan dengan memberkahi kedua mempelai dan mendoakan agar mereka mendapat keturunan yang saleh. Setelah itu, beliau menyuguhkan wadah-wadah berisi kurma kepada para sahabat.

Setelah berlangsungnya pernikahan antara Fathimah az-Zahra dengan seorang kesatria Islam, Ali ibn Abi Thalib r.a., Rasulullah memerintahkan Ummu Salamah untuk mengiring kedua mempelai ke rumah mereka.

Beliau berpesan kepada Ali ibn Abi Thalib, "Janganlah engkau berbicara sesuatu pun sebelum bertemu denganku." Setelah itu, Rasulullah pergi untuk menunaikan Salat Isya. Seusai shalat, beliau kembali ke kediamanan Fathimah az-Zahra, sang pengantin. Setibanya di kediaman kedua mempelai tersebut, beliau meminta sedikit air lalu menggunakannya untuk berwudhu dan sisanya beliau tumpahkan kepada Ali dan Fathimah sambil berdoa, "Ya Allah, berkahilah mereka dan limpahkanlah keberkahan kepada keturunan mereka."

Ummul Fadhal, istri Abbas, terbangun dari tidurnya dengan beban yang menekan di dada. Ia telah mengalami mimpi yang menakutkan dan berpikir untuk menceritakan mimpi itu kepada Rasulullah , tetapi bagaimana mungkin ia menceritakan mimpi yang di dalamnya ia melihat sebagian anggota tubuh Rasulullah terputus dan jatuh di rumahnya.

Mimpi yang ia lihat itu sungguh membuatnya takut. Karena itu, ia berniat untuk tidak menceritakan mimpi tersebut kepada Rasulullah. Ia pun mondar-mandir dengan gelisah sementara mimpi yang menakutkan itu tetap hadir dalam hati, membuatnya gelisah dan kebingungan.

Ummul Fadhal berusaha untuk melupakan mimpi itu, tetapi bagaimana bisa sementara mimpi itu telah menguasai seluruh pikirannya. Ketika tidak mampu lagi bersabar, ia pun bergegas menemui Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku telah melihat sebagian anggota tubuhmu jatuh di rumahku."

Sesudah menceritakan mimpi yang telah sekian lama ia pendam hingga membuatnya gelisah, Ummul Fadhal merasa sedikit lega. Ia pandangi wajah Rasulullah untuk melihat bagaimana pengaruh cerita itu kepada beliau.

Namun, ia melihat wajah Rasulullah justru tampak ceria. Beliau tersenyum kemudian bersabda, "Engkau telah mengalami mimpi baik. Fathimah akan melahirkan seorang putra dan engkau akan menjadi orang yang menyusuinya."

Ali memasuki ruangan Fathimah dengan kebahagiaan yang memancar di wajahnya. Jiwanya dipenuhi dengan kebahagiaan yang dialami oleh setiap suami yang menanti kelahiran putra pertamanya.

Ia hampiri Fathimah seraya membelainya. Kebahagiaan pun menyelimuti rumah kecil yang tidak berisi apa pun selain kulit domba yang menjadi alas tidur untuk kedua suami istri itu. Ditambah sehelai kain beludru yang jika dibuat memanjang, terbukalah punggung mereka dan jika digunakan melebar, terbuka kepala mereka berdua.

Saat-saat melahirkan telah tiba. Rasulullah memerintahkan Ummu Ruman dan Ummu Salamah agar mereka segera mendatangi kediaman Fathimah. Sang suami tercinta merasakan kegelisahan yang tidak pernah berhenti sampai Saat-saat melahirkan telah tiba.

Rasulullah mendatangi sang putri, Fathimah az-Zahra. Bayi yang baru lahir itu pun dihadapkan kepada beliau dengan dibungkus kain kuning.

Namun, beliau segera membuang kain itu seraya bersabda, "Bukankah aku telah melarang kalian meletakkan bayi dalam kain kuning?"

Selanjutnya, beliau perintahkan agar bayi tersebut dibungkus dengan kain putih. Mereka pun segera membungkus sang bayi dan menyerahkannya kepada Rasulullah. Beliau segera memotong tali pusar sang bayi sambil berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku serahkan ia ke dalam perlindungan-Mu dari setan yang terkutuk."

Pada hari ke tujuh, Rasulullah kembali datang mengunjungi keluarga yang sedang berbahagia itu. Beliau bersabda, "Perlihatkanlah anakmu, apa nama yang kalian berikan kepadanya?"

Ali r.a. menjawab: "Harb."

Rasulullah bersabda, "Tidak, tetapi Hasan."

Setelah itu, Beliau sembelih seekor kambing. Kepada orang yang datang, beliau berikan satu paha dan 1 dinar. Selanjutnya, beliau bersabda, "Wahai Fathimah, cukurlah rambutnya dan sedekahlah perak seberat timbangan rambut itu."

Hati sang suami, Ali merasa begitu tenteram dan bahagia. Pasalnya, Allah telah memberinya sebuah pemberian yang besar, yakni seorang keturunan dari Rasulullah. Demikian pula dengan sang istri, Fathimah az-Zahra, hatinya merasa begitu senang melihat keberadaan sang buah hati.

Suatu hari terjadilah Perang Uhud. Fathimah az-Zahra turut pergi bersama para wanita yang ikut pergi berperang. Ia menghambur kepada sang ayah dan suaminya.

Fathimah melihat darah dan luka pada waajh sang ayah. Ali ibn Abi Thalib hendak pergi untuk mencari air guna membasuhi darah yang mengotori wajah Rasulullah. Ia berkata kepada Fathimah,

“Hai Fathimah inilah pedang tanpa cela

Aku bukanlah penakut maupun pencela

Sungguh aku telah berusaha membela Ahmad

Taat kepada Tuhan Yang Pengasih kepada hamba.”

Hanya satu bulan setelah peristiwa itu, Fathimah mengandung anak keduanya. Ummul Fadhal adalah wanita yang sangat beruntung mendapat kehormatan untuk menyusui Hasan.

Suatu hari ia membawa Hasan buang air kecil hingga Ummu Fadhal menepuk pundaknya. Rasulullah memandang Ummu Fadhal kemudian menegur, “Engkau telah menyakiti anakku. Semoga Allah merahmatimu.”

Sebelum Hasan genap berumur satu tahun, Husain telah terlahir pada bulan Sya’ban tahun keempat setelah hijrah.

Allah s.w.t. berfirman,

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا...

“Sesungguhnya, Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa darimu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33).

Saat itu Rasulullah s.a.w. sedang berada di kediaman istrinya, Ummu Salamah r.a. Beliau memanggil Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain lalu menyelimuti mereka. Selanjutnya, beliau berdoa,

“Ya Allah, mereka adalah Ahlil Baitku. Ya Allah, hilangkan noda dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.”

Beliau mengucapkan doa tersebut sebanyak tiga kali kemudian dilanjutkan dengan:

“Ya Allah, limpahkanlah anugerah dan berkah-Mu kepada keluarga Muhammad sebagaimana yang telah Engkau limpahkan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya, Engkau Maha Terpuji dan Mahaagung.”

Keturunan yang baik pun berturut-turut lahir setelahnya. Pada tahun ke-5 Hijriah, Fathimah kembali melahirkan seorang putri yang oleh Rasulullah diberi nama Zainab. Dua tahun setelah kelahiran Zainab, Fathimah melahirkan seorang anak perempuan dan Rasulullah memilih nama Ummu Kultsum untuk sang bayi.

Nama-nama ini dimaksudkan untuk mengabadikan nama putri-putri beliau yang telah pergi meninggalkan dunia satu demi satu.

Dengan demikian, Allah telah memilih Fathimah daripada yang lain dengan menganugerahkan berbagai nikmat yang agung. Pasalnya, dalam keturunannya itulah mengalir darah keturunan Rasulullah. Melalui dirinya, Allah hendak melestarikan keturunan terbaik yang pernah dikenal oleh umat manusia.

Rasulullah mencintai putrinya, Fathimah, dengan segenap hatinya. Setiap kali sang putri datang, beliau berdiri lalu mencium sang putri dan mendudukannya di tempat duduk beliau.

Namun, cinta yang begitu besar tidak pernah sesaat pun membuat beliau berpaling dari esensi risalah. Kendati demikian, beliau tidak ridha jika keluarganya hidup dalam kemewahan, sedangkan kaum muslimin lainnya dalam kefakiran.

Suatu hari Fathimah datang dan mengeluh karena beratnya pekerjaan menggiling gandum yang ia kerjakan. Bahkan, sampai-sampai kedua tangannya pun turut terluka karena memikul air.

Fathimah meminta kepada Rasulullah untuk memberinya seorang tawanan sebagai pembantu. Namun, Rasulullah menolak dan bersabda, “bagaimana mungkin engkau meminta hal seperti ini sementaar Ahlu Shuffah tetap dalam kefakiran yang mereka rasakan?”

Suatu hari Rasulullah bertandang ke kediaman Fathimah. Saat itu beliau melihat seuntai gelang emas di tangan Fathimah. Fathimah mengatakan kepada waanita yang ada di sisinya, “Ini adalah hadiah dari Abu hasan.” Rasulullah s.a.w. pun bertanaya “Wahai Fathimah, apakah engkau senang jika orang-orang mengatakan: ‘Putri Rasulullah mengenakan gelang dari api’?” selanjutnya, beliau keluar sebelum sempat duduk.

Fathimah segera mengirim utusan untuk menjual emas tersebut. Dari penjualan itu, ia membeli seorang budak yang kemudian ia merdekakan karena Allah.

Hal itu kemudian terdengar oleh Rasulullah s.a.w. maka beliau mengucap, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fathimah dari api neraka.”

Kebahagiaan menyelimuti keluarga Fathimah az-Zahra karena ia sangat bahagia bersuami seorang pahlawan yang sanggup melemahkan para musuh Islam. Sang suami juga sangat bahagia beristrikan putri Rasulullah, saudaranya dalam Islam sekaligus orang tua asuh, kekasih, teladan, dan harapannya dalam hidup maupun mati.

Sesekali beliau mengunjungi Ali yang tampak berubah perangainya karena suatu persoalan. Sang istri pun merasakan ketegangan yang tidak biasanya terjadi padanya itu. Karena itu, Fathimah pergi menemui sang ayah untuk mengadukan persoalan yang tidak biasa ia lihat pada diri Ali Ibn Thalib.

Rasulullah pun datang untuk mendamaikan mereka berdua dan mengembalikan cinta dan kasih sayang serta kesabaran dalam hati mereka.

Pada suatu sore terlihat Rasulullah s.a.w. sedang berjalan menuju rumah Fathimah dengan wajah yang tampak muram. Setelah melewatkan beberapa waktu di sana, beliau keluar dengan wajah yang memancarkan kebahagiaan.

Seseorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, engkau masuk dalam satu keadaan dan keluar dengan wajah yang tampak bahagia.”

Rasulullah menjawab, “Apa yang menghalangiku untuk itu sementara aku telah mendamaikan dua orang yang paling aku cintai.”

Demikian kisah ini dikutip dari Buku Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam, karya Dr. Bassam Muhammad Hamami.

1
7

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya