Mengenal Ruqayyah, Putri Rasulullah yang Melakukan Dua Kali Hijrah

Suherni, Jurnalis · Selasa 10 Desember 2019 11:59 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 10 614 2140110 mengenal-ruqayyah-putri-rasulullah-yang-melakukan-dua-kali-hijrah-7Vj2ykeFmO.jpg Menyeberangi padang pasir (Foto: Okezone)

Rasulullah SAW berdiri khusyuk seakan sedang menunaikan salat. Jiwanya berkomunikas─▒ dengan alam semesta. Dari kedalaman dirinya, beliau mengungkapkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT. Air mata bahagia mengucur di kedua pipi beliau.

Istri Rasulullah SAW, Ummul Mukminin Khadijah r.a. melahirkan putri beliau yang kedua, seorang bayi perempuan.

 Kisah Nabi

Rasulullah sangat gembira karena sang istri telah melewati saat-saat melahirkan dengan selamat. Beliau memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah atas limpahan anugerah keturunan yang baik dan suci itu. Keturunan dari ibu yang beriman dan suci.

Rasulullah menggendong sang bayi lalu mendekapnya dalam dada dengan lembut dan penuh kasih sayang. Beliau menitipkan ciuman lembut dan hangat di kedua pipinya. Selanjutnya, bayi itu beliau beri nama Ruqayyah.

Ruqayyah putri dari junjungan seluruh manusia, Muhammad SAW dan dari wanita suci, Khadijah. la seorang putri yang jujur, pemurah, setia, dan ahli bertobat. Putri yang banyak melakukan perjalanan dan menjalani dua kali hijrah.

Hari-hari berlalu begitu cepat. Sang putri tercinta, Ruqayyah, tumbuh dalam kasih sayang sang ayah yang mulia, Rasulullah. Dalam asuhan Ummul Mukminin nan suci, berteman dengan kakaknya yang selalu bersama, Ummu Kultsum.

Kakak beradik Ruqayyah dan Ummu Kultsum selalu bersama dan saling menyayangi. Mereka tumbuh hingga keduanya memasuki usia remaja. Usia yang sudah layak untuk dinikahi.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Para tokoh pembesar keluarga Abdul Muththalib berdatangan ke rumah Rasulullah untuk dapat berbesan dengan putri paman mereka, Muhammad SAW.

Sesepuh mereka Abu Thalib pun datang mendekat kepada Rasulullah seraya berkata, "Wahai keponakanku, engkau telah menikahkan Zainab dengan Abu al-Ash ibn Rabi dan ia merupakan menantu terbaik, tetapi para sepupumu yang lain merasa engkau pun harus memberikan kepada mereka seperti yang telah engkau berikan terhadap lbnu Rabi'. Mereka juga tidak kalah mulia dan terhormat dari Ibnu Rabi'."

Rasulullah pun menjawab, "Engkau benar wahai pamanku."

Seperti kebiasaan Rasulullah dalam menikahkan para putrinya, beliau meminta izin kepada mereka untuk bertanya kepada kedua putri itu tentang pernikahan mereka dengan putra paman mereka Abdul 'Uzza, 'Utbah dan 'Utaibah putra Abu Lahab.

Kedua putri Rasulullah itu bukankah putri yang berani menentang perintah ayah mereka atau menimbulkan kesulitan bagi keluarga dan sanak familinya. Diam dan tenang adalah jawaban mereka.

Beberapa hari kemudian, pernikahan mereka pun berlangsung dengan tenang dan tentram. Ruqayyah dinikahi oleh Utbah ibn Abi Lahab sementara Ummu Kultsum dinikahi oleh saudaranya, Utaibah.

Sang ayah yang penyayang, Muhammad SAW memberkahi pernikahan ini. Beliau serahkan perlindungan kedua putrinya tersebut kepada Allah SWT.

Demikian pula Sayyidah Khadiah yang melepaskan kedua putrinya dengan tetesan air mata. la pun lebih banyak meluangkan waktu untuk memberi perhatian kepada sang suami yang terpercaya dengan menjamin ketenangan dan kedamaian saat beliau melakukan ibadah kepada Allah SWT.

Di samping itu, Khadijah merawat putrinya terakhir yang tinggal bersamarnya, yang menjadi penghibur dan penyejuk hati baginya. la adalah Fathimah yang pada saat itu masih kecil, manja, dan dicintai oleh sang ayah.

Begitu Muhammad SAW menerima risalah dari Allah SWT dan menyeru umat manusia kepada agama yang benar, berkumpullah kaum Quraisy dan mulai menyusun konspirasi jahat terhadap Rasulullah. Salah seorang juru bicara mereka berkata, "Sesungguhnya, kalian telah melepaskan beban Muhammad. Karena itu, kembalikanlah putri-putrinya agar ia sibuk mengurus mereka!"

Mereka segera menemui ketiga menantu Rasulullah dan mengatakan, "Ceraikanlah istrimu dan kami akan menikahkanmu dengan wanita Quraisy mana saja yang engkau kehendaki!"

Abu al-'Ash menolak untuk memulangkan Zainab kepada Rasulullah karena ia telah memilih Zainab melebihi seluruh wanita Quraisy. Adapun kedua putra Abu Lahab segera mengiyakan tawaran mereka. Utbah memilih calon istri untuk menggantikan Ruqayyah binti Sayyidul Mursalin Muhammad SAW. Ia memilih seorang gadis dari keluarga Sa'id ibn 'Ash.

Akhirnya, kedua putri Rasulullah itu pun kembali kepada keluarganya sebelum sempat dipergauli.

Ummu Jamil, Hammalat al-Hathab, adalah wanita yang berada di balik pemulangan para putri Rasulullah ini. Tidak hanya sampai di sini, ia juga terus bekerja menemanisuaminya, Abu Lahab, untuk menyakiti Rasulullah dengan berbagai cara yang bisa ditempuh demi memadamkan cahaya agama Islam. Hal itu terus berlangsung sampai akhirnya Allah SWT menurunkan surat yang berkaitan dengan ummu Jamil dan suaminya. Allah menurunkan sebuah surat dalam Alquran:

"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak ia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut." (QS. Al-Lahab: 1-5)

Ibnu Ishaq mengatakan, "Aku mendengar bahwa Ummu Jamil, si wanita pembawa kayu bakar itu, saat mendengar ayat Alquran yang turun tentang dirinya dan suaminya, ia datangi Rasulullah yang sedang duduk di Masjidil Haram di dekat Kakbah, bersama Abu Bakar ash-Shiddiq. Ummu Jamil datang dengan membawa segenggam batu. Ketika ia berdiri di dekat Rasulullah dan Abu Bakar, Allah membuatnya tidak bisa melihat Rasulullah hingga ia hanya melihat Abu Bakar. Ia berkata: 'Wahai Abu Bakar, di manakah temanmu? Aku mendengar bahwa ia telah menghardikku. Demi Allah, jika menjumpainya, aku akan menyumpal mulutnya dengan batu ini. Demi Allah, aku adalah seorang penyair.' Setelah itu, Ummu Jamil melantunkan syair:

"Sejak kapan kami durhaka

Kami menolak perintahnya

Terhadap agamanya kami membenci."

Setelah itu, ia pun pergi dan Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah: 'Wahai Rasulullah, apakah ia tidak melihatmu?' Rasulullah menjawab: 'Allah telah membuatnya sama sekali tidak bisa melihatku'."

Bagi keluarga Rasulullah yang jujur dan beriman, ujian dan cobaan di jalan Allah itu hanya semakin meningkatkan ketabahan dan keteguhan mereka.

Sejak masa-masa awal bi'tsah (pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul), Rasulullah telah mengatakan kepada Khadijah, istrinya, "Waktu istirahat telah lewat wahai Khadijah."

Sayyidah Khadijah pun mengerti yang dimaksud oleh kalimat Rasulullah ini. la pun meneguhkan hati untuk selalu berdiri di samping sang suami, Nabi yang mulia.

Khadijah selalu menguatkan Rasulullah dan meringankan beban yang beliau hadapi hingga hilanglah duka yang beliau rasakan.

Kedua putri Khadijah, Ruqayyah dan Ummu Kultsum, juga mengerti apa yang sedang dikerjakan oleh kedua orangtua mereka. Mereka tahu sejauh mana penderitaan yang dihadapi oleh keluarga Muhammad akibat berbagai bentuk penindasan, gangguan, dan siksaan yang diperbuat oleh kaum dan sanak keluarganya.

Si wanita pembawa kayu bakar dan suaminya, Abu Lahab telah salah mengira, demikian pula dengan seluruh kaum Quraisy.

Rasulullah tidaklah menderita karena dipulangkannya kedua putri beliau. Perceraian mereka tidaklah menyusahkan bagi beliau karena Allah justru telah menyelamatkan mereka dari ujian untuk hidup bersama dua putra Abu Lahab dan istrinya, si wanita pembawa kayu bakar yang jahat.

Tidak lama kemudian, datanglah orang untuk melamar putri Rasulullah SAW, Ruqayyah. Orang yang lebih baik dan lebih mulia daripada kedua putra si musuh Allah dan musuh Islam, Abu Lahab.

Ia adalah seorang laki-laki saleh dan mulia. Salah satu pemuda Quraisy dari keturunan yang paling terhormat. Salah satu dari delapan orang yang paling awal masuk Islam dan salah satu dari sepuluh orang yang diberi kabar gembira akan masuk surga.

Ia adalah Utsman ibn Affan ibn Abi al-'Ash ibn Umayah ibn Abdi al-'Ash ibn Umayah ibn Abdi Syams. Dari jalur ayah, Utsman ibn Affan bertemu nasab dengan Rasulullah s.a.w pada Abdi Manaf ibn Qushay. Adapun dari jalur ibu, ia bertemu nasab dengan Rasulullah pada Abdul Muththalib ibn Hasyim karena neneknya dari pihak ibu adalah al-Baidha' Ummu Hakim binti Abdul Muththalib, kakek Rasulullah.

Tentang Utsman, Abdullah ibn Mas'ud mengatakan, "Utsman adalah orang yang paling rajin menyambung tali silaturahmi di antara kami. Ia adalah salah seorang yang beriman, bertakwa, dan selalu mengerjakan kebaikan. Sesungguhnya, Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."

Di samping memiliki nasab yang terhormat dan memiliki sifat-sifat yang baik sebagaimana dikatakan orang tentang dirinya, Utsman adalah orang yang berwajah cerah, berbudi pekerti mulia, hartawan, dan sempurna secara fisik.

Ketika Utsman ibn Affan mendatangi kediaman Rasulullah untuk menjadi menantu beliau dengan menikahi putri Ruqayyah binti Rasulullah, beliau pun menerima dan menikahkan Utsman dengan putrinya.

Beliau memberkahi mereka dalam pernikahan yang berbahagia itu. Ada yang mengatakan bahwa tidak pernah ada pasangan suami istri yang lebih sempurna dan lebih menyenangkan dibandingkan dengan mereka. Dalam pernikahan itu pun, para wanita melantunkan bait-bait syair yang paling indah:

"Pasangan terbaik yang pernah dilihat manusia adalah Ruqayyah dan suaminya, Utsman."

Reaksi kaum musyrikin terhadap pernikahan ini adalah dengan semakin keras dalam menindas dan menyiksa setiap orang yang memeluk Islam, bahkan termasuk kepada Rasulullah.

Namun, semua cara yang digunakan oleh kaum Quraisy itu sama sekali tidak menggoyahkan kesabaran kaum muslimin yang beriman kepada agama kebenaran dan agama hidayah itu. Tidak ada sesuatu pun yang mampu membuat mereka meninggalkan agama ini.

Bahkan, sampai-sampai setiap kabilah berusaha. menerkam setiap kaum muslimin yang ada di tengah mereka.

Para kafir itu menawan dan menyiksa kaum muslimin dengan memukul, membuat mereka kelaparan dan kehausan, serta dengan menjemur mereka di bawah terik matahari Makkah yang sangat panas saat itu.

Semua itu mereka lakukan agar kaum muslimin mau meninggalkan agama mereka. Namun mereka lebih memilih mati daripada murtad.

Ketika Rasulullah melihat siksaan yang diderita oleh para sahabat semakin berat, beliau bersabda, "Jika kalian pergi ke tanah Habasyah, kalian akan bertemu dengan seorang raja yang di sisinya tidak seorang pun mendapat kezaliman. Negeri itu adalah tanah persahabatan hingga Allah memberikan jalan keluar dari apa yang kalian alami."

Utsman ibn Affan adalah orang pertama melakukan hijrah menuju Habasyah ditemani sang istri, Ruqayyah, yang baru beberapa saat ia nikahi.

Hijrah ke negeri Habasyah itu diikuti oleh beberapa orang Quraisy yang telah mendapat cahaya dengan agama lslam. Beberapa waktu kemudian, Rasulullah berusaha mencari tahu tentang kabar putri beliau Ruqayyah dan suaminya Utsman ibn Affan di negeri hijrah pertama ini.

Akhirnya, datanglah seorang wanita yang mengabarkan kepada beliau bahwa dirinya pernah melihat Ruqayyah dan suaminya, Utsman ibn Affan, di negeri Habasyah.

Rasulullah pun berdoa, "Semoga Allah menganugerahi mereka berdua. Sesungguhnya, Utsman adalah orang pertama yang hijrah bersama istrinya."

Di negeri Habasyah, Ruqayyah dan Utsman dikarunia seorang putra yang diberi nama Abdullah ibn Utsman. Bagi keduanya, kehadiran seorang putra yang saleh di tengah keluarga kecil nan bahagia itu merupakan hadiah dan anugerah terbesar dari Allah SWT. Sang putra itu pun ikut bersama mereka saat kembali ke tanah air, Makkah al-Mukarramah.

Kini Ruqayyah dan suaminya beserta orang-orang yang ikut bersama mereka dalam hijrah itu sedang dalam perjalanan kembali kepada Rasulullah. Hal itu terjadi setelah mereka mendengar kabar tentang warga Quraisy dan para tokohnya yang pergi menyusul mereka, serta kabar berkurangnya siksaan terhadap mereka yang memeluk Islam.

Saat menggambarkan situasi kepulangan Ruqayyah ke tempat tinggal Doktor Aisyah Abdurrahman mengatakan, "Ruqayyah telah kembali ke rumah ayahnya dengan penuh kerinduan dan susah payah. Kedua saudarinya, Ummu Kultsum dan Fathimah, sangat gembira bertemu denganya. Mereka merangkul dan mendekap Ruqayyah dengan air mata yang mengalir meski telah berusaha untuk menahan diri. Ruqayyah melepaskan diri dari rangkulan mereka dan bertanya dengan penuh rasa penasaran: "Di manakah ayahku, di manakah ibuku?"

Mereka pun menjawab: Ayahmu baik-baik saja. Beliau sedang keluar untuk menemui mereka yang baru saja pulang bersamamu dari tanah hijrah di Habasyah.' Namun, bibir mereka bergetar dan menyembunyikan ratapan.

Ruqayyah kembali bertanya dengan hati yang mulai khawatir: 'Ibuku, di manakah ibuku?'

Ummu Kultsum menunduk dan diam tanpa menjawab sepatah kata pun. Adapun Fathimah meninggalkan ruangan sambil menangis. Saat itulah, Ruqayyah berhenti bertanya. la berjalan gontai menuju kamar almarhumah ibunya. la pun terbaring di atas ranjang dengan pandangan kosong dan hampa.

Sampai akhirnya, datanglah sang ayah, Rasulullah SAW, yang segera mencairkan kebekuan jiwa Ruqayyah dengan pertemuan yang hangat. Dengan sangat simpatik, Rasulullah menyingkirkan batu-batu kepedihan yang menyesakkan dada putrinya itu.

Air mata kesedihan dan duka mengalir deras dari kedua matanya lalu ia mendekap dada yang mulia dan lapang itu. Ruqayyah kembali menjadi tenang dan sabar.

Datanglah sang suami, Utsman ibn Affan, mengusap air mata Ruqayyah saat air mata itu membasahi jiwanya yang mengalir dalam hati karena kepergian sang ibu, Khadijah junjungan seluruh wanita Quraisy.




Rasulullah mengizinkan keluarga dan para sahabatnya untuk hijrah ke Madinah al-Munawwarah. Salah satu Muhajirin yang paling awal melakukan hijrah adalah Utsman ibn Affan dan istrinya Ruqayyah binti Rasulullah.

Mereka berharap mendapat kehidupan yang lebih baik, bahagia, dan tenang hingga hari-harinya mampu diisi dengan ibadah, baik untuk dunia maupun akhirat.

Hari-hari pertama saat mereka berada di Madinah al-Munawwarah merupakan hari yang penuh kebahagiaan dan ketenangan. Mereka hidup bersama putra tercinta, Abdullah ibn Utsman. Keluarga mereka diselimuti oleh cinta dan kebahagiaan ketika Rasulullah datang sambil menggendong putra mereka dengan penuh kelembutan dan kasih sayang disertai untaian senyum yang menenteramkan hati. Kebahagiaan beliau menimbulkan kebahagiaan bagi seluruh kaum Muhajirin maupun Anshar.

Namur kebahagiaan itu segera sirna saat sang anak tercinta Abdullah ibn Utsman jatuh sakit hingga kemudian meninggal dunia dalam usia enam tahun. Ruqayyah kembali mengalami sedihnya perpisahan sesudah kepergian sang ibu.

la pun menyirami bumi dengan air mata karena merasakan pahitnya duka atas kematian yang begitu menekan jiwanya. Kondisinya itu pada akhirnya menyebabkan Ruqayyah jatuh sakit dan menderita demam yang cukup tinggi.


Pada saat yang sama Rasulullah menyeru kaum Mukminin untuk berjihad di jalan Allah dalam Perang Badar. Orang Pertama yang memenuhi seruan itu adalah Utsman ibn Affan, tetapi Rasulullah menunjuknya menggantikan beliau di Madinah al-Munawwarah, mendampingi sang istri, Ruqayyah, agar bisa merawatnya selama sakit.


Utsman ibn Affan tetap berada di samping istrnya tercinta yang sakitnya semakin parah dan mulai dibayang-bayangi oleh kematian. Utsman memandangi wajah Ruqayyah yang layu dan pucat.

Ketenangan pun hilang dari hatinya, berganti dengan kesedihan yang menyelimuti segenap jiwanya. Napas terengah yang dihirup oleh Ruqayyah dengan susah payah, meski samar-samar, menunjukkan dengan gamblang akan tanda-tanda kematiannya.


la telah menapaki jalan yang sama dengan jalan yang dilewati oleh sang ibu, Ummul Mukminin Khadijah ra, sebelumnya. Jalan menuju keabadian di dalam kerajaan Allah, Tuhan seluruh alam.


Sang suami tercinta yang setia mendampinginya tidak bisa melihat dengan jelas sang istri karena terhalang oleh air mata. Saat itu Ruqayyah sedang menghadapi sakratulmaul untuk menghadap Tuhan Yang Maha Mulia. Begitu suara kaum Muslimin yang pulang dari Perang Badar terdengar menggema di angkasa mengumandangkan kalimat, "Allahu Akbar", pertanda bahwa kemenangan telah berhasil diraih, nyawa Ruqayyah binti Rasulullah itu telah sampai waktunya untuk mengucapkan salam perpisahan pada dunia yang fana ini, berjalan menuju alam akhirat yang penuh keabadian.

Semoga Allah SWT merahmati Ruqayyah nan suci dan diridhai. Wanita yang mengalami dua kali hijrah, putri Rasulullah. Semoga Allah tinggikan kedudukannya dalam naungan rahmat-Nya.

Kisah ini diambil dari Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam, karya Dr. Bassam Muhammad Hamami.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya