Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Ibu Ciptakan Hijab Aktif, Jilbab Khusus untuk Olahraga

Irma Ibrahim , Jurnalis-Kamis, 06 Februari 2020 |09:25 WIB
Kisah Ibu Ciptakan Hijab Aktif, Jilbab Khusus untuk Olahraga
Nazira Bermath dan putrinya. Foto: Nazira Bermath/diambil dari laman About Islam
A
A
A

SEORANG wanita Muslim membuktikan kepada anaknya bahwa hijab atau jilbab bukan suatu halangan untuk melakukan aktivitas apapun, termasuk untuk berolahraga.

Dilansir dari About Islam pada Kamis (6/2/2020), hal itulah yang dilakukan Nazira Bermath saat putrinya yang bernama Malaika mengatakan kepadanya bahwa beberapa temannya tidak mau berolahraga karena hijab yang biasa mereka gunakan tidak cocok dipakai untuk kegiatan tersebut.

"Dia (Malika) pulang ke rumah untuk membicarakannya dengan saya dan mengatakan bahwa banyak dari teman-temannya yang benar-benar ahli dalam olahraga, tetapi tidak berpartisipasi dengan baik karena mereka mengenakan jilbab" ujar Bermath kepada Metro.co.uk sebagaimana dilansir dari About Islam.

Sebagai ibu yang peduli, Bermath memutuskan untuk turun tangan dan menciptakan solusi untuk masalah anaknya itu dengan menciptakan hijab aktif, yaitu hijab baru untuk perempuan yang ingin berolahraga.

 

"Putri saya Malaika adalah atlet yang tajam dan merupakan duta olahraga," kata ibu dari tiga anak itu

Tidak hanya untuk mendorong putrinya agar tetap berolahraga, Bermath juga ingin membantu gadis-gadis lain atau hijabers yang memiliki masalah serupa.

“Gadis-gadis saya sangat sporty, itu sebabnya terungkap. Lebih penting lagi, saya berusaha mendorong gadis-gadis Muslim untuk masuk kegiatan olahraga, ”katanya.

Hijab Aktif bukan merek hijab pertama yang menargetkan atlet wanita Muslim. Pada Desember 2017, suatu perusahaan perlengkapan olahraga yang populer di dunia, telah meluncurkan produk ramah hijabers.

Namun, Bemath yakin mereknya memiliki peluang untuk bersaing dengan brand olahraga tersebut.

Islam melihat bahwa hijab merupakan pakaian wajib, bukan hanya simbol agama yang menunjukkan afiliasi seseorang.

Di tingkat dunia, para atlet Muslimah sering menghadapi hambatan budaya dan stereotip untuk bersaing di tingkat tertinggi olahraga seperti sepak bola, angkat besi, basket, hoki dan banyak lagi.

Pada 2016, ada 14 atlet Muslimah yang meraih medali di Olimpiade Rio, termasuk pemain anggar Amerika Serikat Ibtihaj Muhammad. Ia merupakan menjadi atlet Muslimah pertama yang mewakili Negeri Adi Daya tersebut di podium perhelatan olahraga terakbar itu.

Namun di cabang olahraga lain para atlet Muslimah terus mengalami diskriminasi karena hijab, seperti dalam cabang olah raga judo. Contohnya judoka Indonesia Miftahul Jannah dilarang ikut serta di Asian Para Games beberapa waktu lalu. Ia menolak melepas hijab sehingga terpaksa meninggalkan gelanggang.

(Abu Sahma Pane)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement