ISRA Mikraj atau peristiwa perjalanan Nabi Muhamad SAW menempuh tujuh lapisan langit dan bertemu Allah terjadi pada bulan Rajab. Ketika bertemu Ilahi, ia mendapat perintah dari Ilahi tentang kewajiban setiap manusia untuk menunaikan salat
“Peristiwa Isra Mikraj, Nabi Muhammad shalallah ‘alaih wasallam menerima perintah salat,” ujar Wakil Ketua Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (Madani) Ustadz Ainul Yaqin kepada Okezone.
Ia mengatakan peristiwa Isra Mikraj tersebut merupakan peristiwa yang besar bagi Islam, sebab Nabi Muhammad meminta keringanan agar umatnya tidak dibebankan salat 50 rakaat setiap hari.
Sementara dilansir dari laman NU Online sebagaimana disarikan dari kitab Imam Bukhari, mengisahkan perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Shahih Bukhari, Juz 5 halaman 52. Secara garis besar, ketika Nabi Muhammad dipertemukan secara langsung dengan Allah, sebagai kekasih paling disayang dan dirindukan Ilahi, Muhammad pun diperintahkan untuk menjalakan salat sebanyak 50 rakaat setiap harinya. Perintah itu juga berlagu bagi umay Muhammad yaitu Muslim.
Kemudian Nabi Muhammad pulang membawa perintah itu. Ketika di perjalanan, sang Rasulullah itu bertemu Nabi Musa. Rasul menceritakan bahwa Allah telah memerintahkan semua manusia untuk melaksanakan salat sebanyak itu.
Nabi Musa mengatakan kepada Nabi Muhammad bahwa umat (umat Muhammad) tidak akan mampu menjalankan salat sebanyak 50 rakaat setiap hari. “Umatku telah membuktikannya,” kata Musa.
Setelah itu Nabi Musa meminta Nabi Muhammad agar meminta keringanan kepada Allah, dan sang Rasul kembali menghadap Allah. Selanjutnya Allah meringankan kewajiban umat Muhammad menjadi sepuluh kali salat dalam sehari. Namun Musa pun tetap memperingatkan Muhammad bahwa itu masih terlalu berat.