nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Orang Munafik Bersumpah Atas Nama Allah di Balik Turunnya Surat At Taubah

Novie Fauziah, Jurnalis · Rabu 26 Februari 2020 12:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 02 26 614 2174296 kisah-orang-munafik-bersumpah-atas-nama-allah-di-balik-turunnya-surat-at-taubah-JlwwptvbUF.jpg ilustrasi: muslim howto

PERANG Tabuk yang terjadi pada bulan Rajab tahun ke 9 Hijriyah adalah masa-masa tersulit bagi umat Islam saat itu. Umat Nabi Muhammad Sallallahu 'alaihi wasallam harus berjuang berperang melawan munafik, dan ternyata salah satunya ada di dalam kelompok Rasulullah itu sendiri.

Dilansir dari laman resmi NU Online, Rabu (26/2/2020) salah satu sahabat Nabi Muhammad Sallallahu 'alaihi wasallam, Umair bin Sa’ad yang juga seorang Anshar dikenal sebagai ahli ibadah. Kala itu Umair usianya masih sangat belia, namun ia merupakan sosok pemberani selalu di garis terdepan ketika salat berjamaah dan perang, sebab berharap jika dirinya gugur akan mati syahid.

Saat itu Umair usianya masih 10 tahun dan juga sudah menjadi anak yatim, serta bertepatan dengan persiapan Perang Tabuk. Nabi Muhammad menyerukan kepada seluruh umat Islam di Madinah untuk berperang.

Selain itu, Rasulullah juga meminta tolong kepada umat supaya menyumbang apa saja yang dimiliki untuk bekal melawan pasukan Romawi. Padahal saat itu keadaan sedang genting, atau musim paceklik. Namun umat Islam pun dengan suka rela dan ikhlas menyumbangkan apa yang dimiliki, demi memperjuangkan Islam.

Di saat umat muslim tengan bergotong-royong mendukung persiapan Perang Tabuk, ada sekelompok kaum munafik ingin memecah-belah pasukan muslim dengan cara menyebarkan berita bohong, serta provokasi. Salah satunya Julas bin Suwaid, ia adalah orangtua asuh Umair sejak ayah sahabat Rasulullah itu wafat.

Ketika semua sedang sibuk mempersiapakan Perang Tabuk, tiba-tiba Julas mengatakan sesuatu hal yang tidak pantas tentang Nabi Muhammad. Julas memang sudah memeluk Islam, namun ia jadi mualaf hanya karena terbawa arus lingkungan karena penduduk Madinah banyak yang memeluk Islam dan hijrah bersama Rasulullah.

Mendengar itu semua Umair kesal, tapi juga bimbang. Apakah perbuatan Julas itu harus dilaporkan kepada Nabi Muhammad atau memilih diam saja, karena bagaimana pun Julas sudah dirinya anggap seperti ayah sendiri.

Akhirnya Umair melaporkannya kepada Nabi Muhammad, dan Julas pun diminta untuk mengklarifikasi ucapannya itu karena telah berbicara tidak baik di belakang Rasulullah. Sayangnya, Julas malah menyangkal semua itu dan ia pun bersumpah atas nama Tuhan bahwa ia memang tidak berbohong.

Kala itu posisi Umair terpojok karena ia dianggap oleh sebagian orang karena telah berdusta. Wakil Ketua Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (Madani), Ustadz Ainul Yaqin menuturkan, turunlah wahyu Allah Ta'ala kepada Nabi Muhammad melalui Surah At Taubah

“Dia berkata ‘seandainya orang ini benar, sungguh kita lebih buruk dari pada keledai’. Ucapan itu dilaporkan oleh Umair bin Sa'ad kepada Rasulullah, akan tetapi Julas bersumpah bahwa ia tidak berkata demikian, maka Allah menurunkan Firman-nya Surat At-taubah ayat 74,” katanya saat dihubungi Okezone belum lama ini.

هِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ وَهَمُّوا بِمَا لَمْ يَنَالُوا ۚ وَمَا نَقَمُوا إِلَّا أَنْ أَغْنَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ ۚ فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ ۖ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Yaḥlifụna billāhi mā qālụ, wa laqad qālụ kalimatal-kufri wa kafarụ ba'da islāmihim wa hammụ bimā lam yanalụ, wa mā naqamū illā an agnāhumullāhu wa rasụluhụ min faḍlih, fa iy yatụbụ yaku khairal lahum, wa iy yatawallau yu'ażżib-humullāhu 'ażāban alīman fid-dun-yā wal-ākhirah, wa mā lahum fil-arḍi miw waliyyiw wa lā naṣīr

Artinya: "Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi."

Lebih lanjut, kata dia, bahwa sebenarnya Julas tidak ikut sebagai pasukan Perang Tabuk saat itu. Ia adalah orang munafif yang berkedok orang Islam. “Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu bahwa Al Julas bin Suwaid Ibnu Asshamit merupakan salah seorang yang tidak mengikuti Rasulullah dalam perang Tabuk,” pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini