Kisah Mualaf, Masuk Islam Gara-Gara Belajar Gamelan

Restu Prihargayu, Jurnalis · Senin 16 Maret 2020 10:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 16 614 2183886 kisah-mualaf-masuk-islam-gara-gara-belajar-gamelan-Tcgm4r2pPt.jpg Ilustrasi. Foto: Cheltladiescollege

ARON (nama samaran) tinggal di New York, Amerika Serikat. Dia berasal dari keluarga Yahudi dan jadu Mualaf setelah menjalani pertukaran pelajar di Indonesia. Ini adalah ceritanya.

Nenek moyang Aron berasal dari daerah Eropa Timur yang sekarang menjadi Polandia. Mereka meninggalkan wilayah itu ketika Kekaisaran Rusia yang semakin anti Yahudi. Setelah perjalanan panjang, mereka memutuskan untuk tinggal di New York.

Keluarga Aron tidak pernah Yahudi ortodoks (yahudi radikal), namun dirinya tetap mengikuti ritual dan perayaan seperti biasanya.

Musiklah Aron ke Indonesia

Sejak kecil dia memang sangat menyukai musik dan terus mengembangkan hasrat untuk bermusik. Pada saat remaja, Aron sudah menyukai musik eksperimental terutama musik tradisonal dan alat musik dari berbagai wilayah di dunia.

Suatu hari temannya memberitahu tentang Indonesia, dan Aron dapat belajar musik Etnomusikologi di sana. Sejak saat itu ia bertekad untuk datang ke Indonesia dan mendaftar di institut seni yang mengajar tentang bidang musik Etnomusikologi.

Aron Menyembunyikan Identitas Yahudi

Ketika tiba di Indonesia, ia langsung mendaftar ke institut seni. Aron tidak memberi tahu kepada siapapun identitasnya sebagai seorang Yahudi. Ia berpura-pura beragama tertentu yang diakui di Indonesia dan itu adalah pilihan termudah saat itu. Ia khawatir orang akan menunjukkan permusuhan jika mengaku sebagai

Pertama-tama Aron Tidak Tertarik kepada Islam

Ia tinggal selama lebih dua tahun di Indonesia. Selama itu Aron sudah bergabung ke berbagai klub musik dan selalu menghindari bahasan tentang keagamaan sebisa mungkin. Ia berkonsentrasi pada musik kesukaannya, bahkan tradisi agama Yahudi terliat semakin jauh darinya. Jauh dari keluarga dan jauh dari komunitas Yahudi yang selalu mendukungnya.

Islam seperti agama yang membuang-buang waktu baginya kala itu, sebab Muslim dinilai menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berdoa daripada melakukan hal-hal yang produktif.

Gamelan dan Islam

 

Kemudian suatu hari Aron bergabung dengan komunitas Gamelan Tradisional. Gamelan adalah instrumen perkusi tradisional di Jawa yang terbuat dari logam.

Di sebelah Aron duduk seorang laki-laki agak tua, dia mulai berbicara kepada Aron. Dia menjelaskan bagaimana hubungan gamelan dan Islam. Dia memberitahu tentang ansambel (kumpulan musik) Gamelan Kerajaan Kuno yang satu-satunya mempunyai tujuan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Ada lagi namanya Gamelan Sekaten, ukurannya lebih besar dari gamelan lainnya dan hanya digunakan setahun sekali. Lelaki tua itu menjelaskan bahwa permainan gamelan ini seharusnya mewakili pujian terus menerus atas Nabi Muhammad SAW.

Kisah itu mengesankan bagi Aron karena dirinya tidak pernah mimikirkan aspek spiritual dari musik itu sendiri. Penjelasan gamelan untuk memperingati Nabi Mumahaad menempel di otaknya.

Saya Mulai Belajar Tentang Islam

Aron kemudian terus membuat musik eksperimiental dan rekaman gamelan yang direkam menjadi bagian dari dirinya. Aron mulai mempelajari tentang aspek spiritual Islam, terutama yang disebut mistis Islam di Indonesia.

“Dan jujur, itu menyentuhku, itu mempengaruhi saya. Saya mulai mengerti Islam adalah agama yang hidup dan penuh dengan spirilitualitas yang saya inginkan dalam hidup saya,” ujar Aron sebagaimana dilansir dari laman Aboutislam pada Senin (16/3/2020).

Membaca tentang Islam di Indonesia, membuat persepsi Aron jauh dari kenyataan. Semakin banyak yang ia baca, semakin ia tertarik. Aron juga membaca buku-buku Islam di tempat-tempat lain di dunia dan itu menakjubkan.

Mengikuti Kata Hati

Aron tertarik dengan Islam, tetapi tidak dengan keluarganya. Hal itu membuat Aron khawatir dengan keluarganya, yaitu tentang apa yang akan mereka katakan jika seorang Yahudi menjadi Muslim. Aron tidak ingin kehilangan keluarganya.

Namun pada akhirnya Aron mengikuti kata hatinya, ia membaca shahadat di pusat komunitas Muslim kecil di kota New York. Membaca syahadat merupakan sarat untuk masuk Islam atau jadi mualaf.

Aron selanjutnya mulai berdoa dan berzikir. Ingatan ritmis tentang Allah ini dirasa luar biasa, kata dia, seperti musik spiritual yang menenangkan hati dan pikiran.

Berbicara kepada Keluarga

Aron tidak memberi tahu keluarganya bahwa ia sudah masuk Islam. Karena ia tidak tinggal bersama mereka lagi, cukup mudah untuk menyembunyikannya.

Namun ketika Aron memberi tahu keluarganya, mereka hanya diam. Ibunya bertanya apakah ia bahagia, dan Aron berkata: "Iya!" Sampai sekarang, Aron masih bisa melihat dan mengunjungi keluarganya. Alhamdulilah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini