Mengenal Lebih Dekat Gus Baha, Sosok Sederhana yang Kaya Ilmu dari Mbah Moen

Novie Fauziah, Jurnalis · Kamis 16 April 2020 13:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 16 614 2200095 mengenal-lebih-dekat-gus-baha-sosok-sederhana-yang-kaya-ilmu-dari-mbah-moen-EROBL1o8uW.jpg dok: NU

KIAI Ahmad Bahauddin atau akrab disapa Gus Baha saat ini tengah menjadi salah satu ulama Nahdlatul Ulama (NU) paling populer. Ia dikenal dengan sebagai kiai penghapal Alquran.

Dilasir dari laman Ladunu, Kamis (16/4/2020), Gus Baha lahir pada 1970, merupakan putra dari Pengasuh Pondok Pesantren Alquran Kragan, Narukan, Rembang Kiai Nur Salim. Ayahnya ini adalah murid dari Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam, Kajen, Pati. Nasabnya bersambung kepada para ulama besar. Bersama Kiai Nur Salim inilah, Gus Miek (KH Hamim Jazuli) memulai gerakan Jantiko (Jamaah Anti Koler) yang menyelenggarakan semaan Al-Qur’an secara keliling.

Kemudian, Jantiko berganti menjadi Majelis Nawaitu Topo Broto (Mantab), lalu berubah jadi Dzikrul Ghafilin. Namun terkadang ketiganya disebut bersamaan, yaitu Jantiko-Mantab dan Dzikrul Ghafilin.

Gus Baha lebih memilih Yogyakarta sebagai tempatnya memulai pengembaraan ilmiahnya. Kemudiam pada 2003, ia pun menyewa rumah di kawasan Yogyakarra. Kepindahannya tersebut diikuti oleh sejumlah santri yang ingin terus mengaji bersamanya kala itu.

Pendidikan

Sejak kecil Gus Baha menempuh keilmuan dan hafalan Alquran di bawah asuhan ayahnya sendiri, Kiai Nursalim Al-Hafidz.. Hingga pada usia yang masih sangat muda, Gus Baha dapat mengkhatamkan Alquran beserta Qiro'ahnya dengan pengawasan ketat dari ayahnya sendiri. Hal ini dikarenakan, karakteristik bacaan dari murid-murid Mbah Arwani menerapkan keketatan dalam tajwid dan makhorijul huruf.

Ketika Gus Baha beranjak remaja, Kiai Nursalim menitipkan anaknya (Gus Baha) untuk mondok dan berguru kepada Syaikhina Kiai Maimoen Zubair (Mbah Moen) di Pondok Pesantren Al Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang jaraknya sekitar 10 km arah timur Narukan.

Di Al Anwar inilah Gus Baha semakin terlihat menonjol dalam ilmu Syari'at seperti Fikih, Hadits dan Tafsir. Hal ini terbukti karena beberapa amanat prestisius keilmiahan yang diemban olehnya selama mondok di Al Anwar, berhasil menghafal dan menamatkan berbagai kitab, seperti Rois Fathul Mu'in dan Ketua Ma'arif di jajaran kepengurusan Pesantren Al Anwar.

Ketika mondok di Al Anwar, Gus Baha juga mengkhatamkan hafalan Shohih Muslim lengkap dengan matan, rowi dan sanadnya. Selain itu ia mengkhatamkan hafalan kitab Fathul Mu'in dan kitab-kitab gramatika arab seperti 'Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik.

Lebih lanjut, dari sekian banyaknya hapalan tersebut, membuat Gus Baha mendapat predikat sebagai santri pertama Al Anwar yang memegang rekor hafalan terbanyak di eranya.

Bahkan setiap musyawarah yang akan diikutinya malah ditolak oleh santri lainnya. Hal ini bukan karena ada rasa iri, namun Gus Baha telah dianggap tempatnya bukan berada di level santri pada umumnya karena kedalaman ilmu, keluasan wawasan dan banyaknya hafalannya.

Selain menonjol dengan keilmuannya, Gus Baha merupakan sosok santri yang dekat dengan kiainya. Dalam berbagai kesempatan, ia selalu mendampingi gurunya yaitu Mbah Moen. Mulai dari duduk santai, hingga urusan mencari ta'bir dan menerima tamu-tamu ulama-ulama besar yang berkunjung ke Al Anwar. Sehingga ia dijuluki sebagai santri kesayangan Mbah Moen.

Suatu hari, Gus Baha pernah dipanggil untuk mencarikan ta'bir tentang suatu persoalan oleh Mbah Moen. Saking cepatnya ta'bir itu akhirnya ditemukan, tanpa membuka dahulu referensi kitab yang dimaksud hingga gurunya pun terharu dan ngendikan "Iyo ha'... Koe pancen cerdas tenan" (Iya ha'... Kamu memang benar-benar cerdas).

Selain itu Gus Baha juga kerap dijadikan contoh teladan oleh Mbah Moen ketika memberikan mawa'izh di berbagai kesempatan tentang profil santri ideal. "Santri tenan iku yo koyo baha' iku...." (Santri yang sebenarnya itu ya seperti baha' itu....)" kata Mbah Moen.

Dalam riwayat pendidikannya, semenjak kecil hingga ia mengasuh pesantren warisan ayahnya saat ini, Gus Baha hanya mengenyam pendidikan dari 2 pesantren, yakni pesantren ayahnya sendiri di Desa Narukan dan Pesantren Al Anwar Karangmangu, Rembang.

Ayah Gus Baha pernah menawarkan kepadanya untuk mondok di Rushoifah atau Yaman. Akan tetap jawaban Gus Baha cukup mengejutkan, ia lebih memilih untuk tetap di Indonesia setia kepada almamaternya Madrasah Ghozaliyah Syafi'iyyah PP. Al Anwar dan pesantrennya sendiri Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3iA.

Pernikahan

Setelah menyelesaikan pengembaran ilmiahnya di Sarang, Gus Baha akhirnya menikah dengan seorang Neng pilihan pamannya dari keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur.

Namun sebelum Gus Baha menikah, ada cerita menarik. Setelah acara khitbah atau lamaran selesai Gus Baha tiba-tiba menemui calon mertuanya dan mengatakan sesuatu. Ia menyampaikan, bahwa dirinya hanya hidup sederhana, tidak mewah kala itu ia sekaligus meminta calon mertuanya tersebut agar mempertimbangkannya kembali.

Namun calon mertuanya malah tersenyum, sambil berkata "klop" alias sami mawon kalih kulo. Kesederhanaan Gus Baha dibuktikan ketika ia akan berangkat ke pesantren Sidogiri untuk melangsungkan upacara akad nikah yang telah ditentukan waktunya.

Gus Baha berangkat sendiri ke Pasuruan dengan menumpang bus regular atau bus kelas ekonomi. Berangkat dari Pandangan menuju Surabaya, selanjutnya disambung bus kedua menuju Pasuruan. Kesederhanaannya itu bukanlah kebetulan, namun merupakan hasil didikan ayahnya semenjak kecil.

Akhlaknya

Gus Baha biasa hidup sederhana bukan karena keluarga miskin. Namun silsilah keluarganya dari pihak ibu, atau lebih tepatnya lingkungan keluarga dimana ia diasuh sejak kecil malah tidak ada satu keluargapun yang dinyatakan kurang mampu, semua serba berkecukupan.

Bahkan kakek Gus Baha dari garis ibunya merupakan juragan tanah di desanya. Gus Baha mengatakan, kebiasaan hidup sederhananha adalah karakter keluarga Quran yang dipegang erat sejak zaman leluhurnya.

Kemudian ada salah satu wasiat dari ayahnya adalah agar ia menghindari keinginan untuk menjadi 'manusia mulia' dari pandangan keumuman makhluk atau lingkungannya. Hal inilah yang kini mewarnai kepribadian dan kehidupan Gus Baha dalam kesehariannya.

Setelah menikah, Gus Baha mencoba hidup mandiri dengan keluarga barunya. Ia akhirnya menetap di Yogyakarta sejak 2003. Selama di Yogya, ia hanya menyewa rumah untuk ditempati keluarga kecilnya, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Semenjak Gus Baha hijrah ke Yogyakarta, banyak santri-santrinya di Karangmangu yang merasa kehilangan induknya.

Hingga pada akhirnya santri-santri itu menyusul ke Yogyakarta dan patungan untuk menyewa rumah di dekat rumah Gus Baha hanya untuk tetap bisa mengaji kepada gurunya itu.

Pada 2005 ayah Gus Baha Kiai Nursalim jatuh sakit. Ia pun harus pulang untuk sementara waktu agar bisa ikut merawat ayahnya bersama keempat saudaranya.

Namun siapa sangka, beberapa bulan kemudian Kiai Nursalim wafat. Gus Baha tidak dapat lagi meneruskan perjuangannya di Yogyakarta, karena ia diamanahi oleh ayahnya untuk melanjutkan tongkat estafet kepengasuhan di LP3IA Narukan.

Banyak yang merasa kehilangan atas kepulangan Gus Baha ke Narukan. Akhirnya para santrinya sowan dan memintanya agar dapat kembali ke Yogyakarta.

Hingga pada gilirannya Gus Baha bersedia, namun hanya satu bulan sekali, dan itu berjalan hingga kini. Selain mengasuh pengajian, ia juga mengabdikan dirinya di Lembaga Tafsir Al-Qur'an Universitas Islam Indonesa (UII) Yogyakarta.

Keilmuannya

Selain Yogyakarta Gus Baha juga diminta untuk mengasuh PengajianTafsir Al-Quran di Bojonegoro, Jawa Timur. Di Yogyakarta minggu terakhir, sedangkan di Bojonegoro minggu kedua setiap bulannya. Semua ini Gus Baha jalani secara rutin sejak 2006 hingga kini. Di UII ia adalah Ketua Tim Lajnah Mushaf UII.

Timnya terdiri dari para Profesor, Doktor dan ahli-ahli Al-Qur'an dari seantero Indonesia seperti Prof. Dr. Quraisy Syihab, Prof. Zaini Dahlan, Prof. Shohib dan para anggota Dewan Tafsir Nasional yang lain.

Pernah Gus Baha ditawarkan menyandang gelar Doctor Honoris Causa dari UII, namun ia tidak berkenan dan menolaknya.

Dalam jagat Tafsir Al-Quran di Indonesia Gus Baha termasuk pendatang baru dan satu-satunya dari jajaran Dewan Tafsir Nasional yang berlatar belakang pendidikan non formal dan non gelar. Meski demikian, kealiman dan penguasaan keilmuan beliau sangat diakui oleh para ahli tafsir nasional.

Hingga pada suatu kesempatan pernah diungkapkan oleh Prof. Quraisy bahwa kedudukan Gus Baha di Dewan Tafsir Nasional selain sebagai Mufassir, juga sebagai Mufassir Faqih karena penguasaan beliau pada ayat-ayat ahkam yang terkandung dalam Alquran. Setiap kali lajnah 'menggarap' tafsir dan Mushaf Al-Qur'an,

Posisi Gus Baha selalu di dua keahlian, yakni sebagai Mufassir seperti anggota lajnah yang lain, juga sebagai Faqihul Quran yang mempunyai tugas khusus mengurai kandungan fiqh dalam ayat-ayat ahkam Alquran.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini