KISAH kehidupan para wali Allah untuk mencapai makrifat tentunya harus melalui berbagai ujian dan cobaan. Seperti yang dialami oleh Bisyr bin Harits atau dikenal juga sebagai Abu Nashr Bisyr bin al-Harits al-Hafi. Bisyr al-Hafi lahir di dekat kota Merv sekitar tahun 150 Hijriah /767 Masehi.
Setelah meninggalkan hidup penuh kemewahan, ia mempelajari hadits di Baghdad, Irak. Ia kemudian meninggalkan pendidikan formal untuk hidup sebagai orang biasa.
Meski penampilannya sederhana, banyak orang mengadukan persoalannya kepada Bisyr karena kealimannya. Salah satu yang diadukan tentang seseorang kaya yang rajin beribadah serta hampir tiap tahun menunaikan ibadah haji.
"Orang miskin meninggalkan keadaan dirinya dan memasuki keadaan orang lain. Keadaan orang itu mestilah memberi makan orang lapar dan menginfakkan harta kepada orang miskin. Itu lebih baik baginya daripada membuat perutnya lapar (berpuasa) dan memperbanyak sholat, disertai menumpuk kekayaan dunia dan menghalangi hak orang fakir," jawab Bisyr al-Hafi seperti dikutip dari buku Maariful Auliya', Senin (27/4/2020).
Allah menjadikan kehidupan manusia berbeda-beda. Umat beribadah dan mendekat kepada Allah SWT sesuai perbedaan yang dimiliki. Artinya, Bisyr mengingatkan, jangan menyembah Allah SWT dengan sholat, puasa dan ibadah haji saja. Berbagai amal untuk membantu sesama harus ditunaikan. Allah SWT berfirman:
"Katakanlah, sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya." (al An'am (6): 162-163).
Walhasil, kita menyembah, kita mendekat kepada-Nya dengan tugas amal dan apapun yang telah diberikan Allah kepada setiap individu. Orang kaya yang dianugerahi rezeki melimpah oleh Allah SWT beribadah atau mendekat kepada-Nya dengan menginfakkan harta kepada orang miskin, anak yatim, dan musafir.