Ramadhan di Tengah Corona Momentum Menciptakan Pesantren Keluarga

Selasa 05 Mei 2020 04:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 04 330 2208914 ramadhan-di-tengah-corona-momentum-menciptakan-pesantren-keluarga-piHs6QGHYY.jpg

Faktor utama tidak bahagianya rumah tangga sebagian disebabkan ketidakseimbangan pola dan gaya komunikasi pasangan suami istri. Di tengah musibah pandemi virus Corona ini saat yang tepat menciptakan Pesantren Keluarga.

Gambaran ideal Pesantren Keluarga dapat terlihat dari sebuah keluarga kecil yang saya kenal di sebuah kampung pinggiran Kota Depok, Jawa Barat. Keluarga sederhana terdiri dari ayah, ibu dengan dua putra dan satu putri. Putra pertama laki-laki menjadi guru favorit, putri keduanya menjadi dokter, dan putra bungsunya lulus cumlaude dari perguruan tinggi ternama.

Keberhasilan keluarga sederhana ini berkat keistiqomahan dalam mengamalkan Alquran. Mereka rutin mengadakan tilawah, tadarus, dan khotmil Alquran di rumah.

Rumah tersebut tidak pernah lepas dari lantunan ayat Alquran yang dibaca bergiliran sesuai kesepakatan anggota keluarga. Inilah yang menurut ibu ketiga anak tersebut menjadi jalan kesuksesan penanaman akhlak dan keimanan disertai doa beserta keyakinan orangtua.

(Baca Juga Humor Gus Dur: Doa Mustajab Porter Bersorban)

Di beberapa pojok rumah tertulis slogan “Bening Bersama Qur’an”. Dari slogan inilah terlihat keluarga ini berkarakter dan telah mewujudkan sebuah pesantren di rumahnya.

Belajar dari kisah tadi, kesempatan mewujudkan pesantren di rumah sangat terbuka pada Ramadhan 1441H. Apalagi Ramadhan kali ini sangat berbeda karena banyak waktu tercipta dalam membangun hubungan antara orangtua dan anak di tengah kebijakan pemerintah untuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah.

Inilah momentum mengubah budaya dan menambah kualitas kesalehan diri dan keluarga yang akan berimbas pada anak cucu di masa depan. Karakter anak keturunan akan terbentuk dengan dasar pola pendidikan dan kebiasaan serta tatanan dimulai dari rumah masing-masing.

Baiti Jannati (rumahku surgaku) tidak lagi menjadi slogan, tetapi sudah saatnya dibuktikan, dirasakan, dan ditingkatkan.

(Baca Juga : Kisah Nabi Zakaria Mati Syahid karena Halangi Pernikahan Terlarang)

Momentum ini harus dimanfaatkan untuk mengembalikan tatanan keluarga inti demi membangun kualitas keimanan sesuai dengan QS. Lukman : 13.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

Bulan Ramadhan menjadi waktu yang sangat tepat dan berharga meningkatkan kualitas keimanan dan ibadah setiap anggota keluarga. Caranya dengan memperbanyak ibadah sholat dan bacaan Alquran, bersedekah dan berempati sosial. Seperti sabda Rasulullah : نوروا منازلكم با الصلاة و قراءة القران, “Sinarilah rumah-rumah kalian dengan sholat dan bacaan Alquran.”

Jelaslah ajakan dan ajaran ini harus dimanifestasikan dalam kondisi normal untuk menciptakan keluarga yang kuat akidah, keimanan kepada Allah dan sikap mandiri, kokoh, kuat, sabar, tekun, telaten, teliti, ulet yang akan mencetak watak dan karakter anak keturunan di masa yang akan datang.

Allahu A’lam.

Oleh : Hj.Azzah Zumrud,S.Ag,M.Pd

(Anggota Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Pengurus Bidang Tenaga Kerja PP Muslimat NU, Pengawas Sekolah Kemenag Jakarta Selatan)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya