Pendidikan dan Nilai Ketuhanan

Rabu 06 Mei 2020 04:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 05 330 2209576 pendidikan-dan-nilai-ketuhanan-P6YX3Zxyju.jpg Pendidikan dan Ketuhanan (Foto: Okezone)

Setiap bulan Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Pada saat di mana peringatan Hari Pendidikan Nasional jatuh pada bulan suci Ramadhan, tidak ada cara yang lebih tepat selain merenungkan pendidikan dari aspek keagamaan.

Dalam khazanah Islam, konsep pendidikan dikenal dengan istilah tarbiyah. Secara morfologis, istilah ini adalah bentuk nomina (mashdar) dari pentasrifan rabbaa, yurabbii, tarbiyatan. Secara etimologis ia berarti memperbaiki sesuatu menuju kesempurnaan.

Konsep tarbiyah ini sangat istimewa karena ia memiliki satu akar kata dengan suatu konsep paling sentral dalam teologi Islam, yaitu Rabb (Tuhan). Selain Rabb, dalam Islam, konsep Tuhan juga dikenal melalui istilah Ilah. Jika Ilah merujuk pada konsep Tuhan yang “pasif,” yaitu sebagai Yang Disembah, maka Rabb adalah konsepTuhan yang lebih “aktif,” yaitu sebagai pengatur dan pencipta.

Secara leksikal dapat segera disimpulkan bahwa konsep pendidikan sangat erat dengan konsep Tuhan sebagai pengatur dan pencipta. Pendidikan dapat dikatakan sebagai upaya manusia memahami karya, sifat, maupun perilaku Tuhan. Wahyu pertama yang juga diturunkan pada bulan Ramadhan secara implisit menjelaskan esensi pendidikan. Itu adalah surah al-‘Alaq ayat 1-5:

Bacalah dengan namaTuhanmu yang telah menciptakan, Ia menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan Tuhanmu lah yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan manusia dengan qalam, Ia mengajarkan apa yang manusia tidak ketahui.

Ayat-ayat tersebut mengindikasikan tiga aspek dasar pendidikan: tujuan,substansi, dan metode pendidikan. Pertama, dalam hal tujuan, ayat-ayat tersebut jelas menunjukkan bahwa episentrum dari semua proses pendidikan adalah pengenalan akan Tuhan: eksistensi-Nya sebagai pencipta, proses penciptaan yang Ia lakukan, dan sifat-Nya yang Maha Pemurah (selain sifat-sifat mulia lainnya). Gambaran itu terlihat jelas dalam kelima ayat.

(Baca Juga : Viral Kata Corona Ada dalam Ayat Alquran? Ini Penjelasannya)

Kedua, secara substansi, ada dua hal yang semestinya dikandung dalam pendidikan: ilmu pengetahuan dan akhlak. Kita diperintahkan membaca dan meneliti ciptaan Tuhan, terutama ciptaan-Nya yang paling sempurna, manusia. Ini adalah aspek ilmu pengetahuan. Selain itu, Tuhan juga menunjukkan diri-Nya sebagai yang Maha Pemurah. Ini adalah pelajaran tentang akhlak, karena manusia juga dituntut untuk meniru akhlak Tuhan dalam batas-batas kemanusiannya (takhalluq bi akhlaq-i-llah).

Ketiga, mengenai metode, jelas disebutkan pendidikan ditempuh dengan dua cara: membaca (qira’ah) dan mengajar (ta’lim). Dua acara ini semestinya dilakukan secara berurutan. Pendidikan harus didahului dengan membaca, bahkan perintah “membaca” ini diulang dua kali.

Membaca dalam hal ini bisa bermakna denotatif dalam arti membaca tulisan atau bermakna simbolik yang berarti mengamati, memikirkan, atau berimajinasi tentang ciptaan Tuhan. Dalam pendidikan, kebiasaan membaca ini perlu ditanamkan lebih dulu untuk mendorong rasa ingin tahu dan merangsang kreativitas.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Secara naluriah, manusia dianugerahi Tuhan kemampuan untuk belajar secara mandiri. Anak-anak adalah fase dalam kehidupan manusia di mana kemampuan itu berada pada masa-masa keemasannya. Anak-anak belajar lebih banyak hal dan dengan cara yang lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Anak kecil yang ikut orangtuanya pindah ke luar negeri, misalnya, akan lebih cepat menguasai bahasa setempat dibandingkan orang tuanya.

Oleh karena itu, anak-anak harus diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengasah rasa ingin tahu, berpikir kritis, dan mengakses berbagai sumber pengetahuan. Hanya dengan cara seperti ini mereka akan mencintai ilmu pengetahuan. Al-Zarnuji dalam kitab klasiknya Ta’limu-l-Muta’allim Thariqu-l-Ta’allum menekankan bahwa salah satu karakter seorang pelajar adalah mengagungkan ilmu (ta’dzhimal’ilm).

Tahap selanjutnya, setelah membaca, adalah ta’lim atau mengajarkan. Jika membaca adalah proses produksi atau reproduksi pengetahuan, ta’lim adalah proses distribusi pengetahuan. Pengajaran diberikan ketika pengalaman membaca manusia sampai pada batasnya sehingga ia tidak berhasil memproduksi pengetahuan baru (‘allama-l-insana ma lam ya’lam).

Ketidakberhasilan mereproduksi pengetahuan ini boleh jadi karena sang pelajar tidak tahu cara memperolehnya. Atau mungkin karena pengetahuan itu harus diuji kebenarannya oleh mereka yang memang lebih berpengetahuan. Sosok yang berperan dalam tahap ta’lim ini disebut guru (mu’allim).

Peran guru sangat penting dalam pendidikan. Bagi para pelajar, guru bukan hanya sumber pengetahuan (shohibu-l-‘ilm), namunterutama juga sebagai sumber kebijaksanaan (shohibu-l-hikmah). Pengetahuan didapat dari belajar, sedangkan kebijaksanaan dibentuk oleh pengalaman.

(Baca Juga : Bintang Tsurayya Muncul, Tanda-Tanda Wabah Corona Berakhir?)

Salah satu wujud kebijaksanaan guru tercermin dari bagaimana ia mengajar. Hadratusy Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabu-l-‘Alimwa-l-Muta’allim mengingatkan bahwa salah satu dari 14 etika utama seorang guru kepada murid adalah menyesuaikan metode mengajar dengan kondisi muridnya. Dalam pendidikan modern kita mengenal konsep teaching at the right level (mengajar sesuai taraf kemampuan siswa). Konsepinihanyadapatditerapkanjika guru mengenalkondisimasing-masingmuridnya.

Pada praktiknya, guru seringkali melihat murid sebagai kolektivitas dalam satu kelas atau sekolah, bukan sebagai individu-individu dengan potensi yang berbeda-beda. Ini yang membuat proses pendidikan berjalan terbalik: mengajar mendahului belajar. Anak-anak pada usia kreatifnya seringkali dijejali dengan pengetahuan yangseragam dan tidak lagi memperhatikan perkembangan berpikir mereka.

Akibatnya, mereka tumbuh menjadi generasi yang tidak haus rasa ingin tahu dan miskin kreatifitas. Generasi yang kehilangan kesempatan untuk menjadi saksi atas kebenaran Tuhan.

Oleh: Irsyad Zamjani

Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya