Tausiyah Ramadhan: Mencari Jalan Pernikahan Sakinah

Senin 11 Mei 2020 08:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 10 330 2211966 tausiyah-ramadhan-mencari-jalan-pernikahan-sakinah-74HtnwyNCc.png Pernikahan Sakinah Menjadi Idaman Setiap Orang (Foto: Soundvision)

Tugas berat sosial bagi Nabi Muhammad SAW di Madinah masih menumpuk. Beliau bukan saja harus melawan serangan fisik kelompok yang memusuhinya, tetapi juga struktur sosial yang membelenggu masyarakat.

Kelompok keluarga – mereka menyebutnya sebagai Bani – terpecah-pecah dalam golongan dan strata yang berbeda. Mereka yang berada dalam jalur nasab terhormat merasa tak layak bersanding bersama mereka yang hidup dalam jalur kemiskinan dan perbudakan. Betapapun sepuluh tahun Islam telah hadir dan membawa angin perubahan, darah kesukuan tetap kental mengalir di dalam tubuh bangsa Arab dan belum cukup untuk membuat mereka rela melepas atribut kesukuan dan keturunannya.

Pada suatu siang, Nabi Muhammad SAW berjalan ke rumah sepupunya, Zainab binti Jahsy. Beliau datang membawa serta rencana besar yang menggemparkan. Melamar Zainab untuk dinikahkan dengan anak angkat Rasulullah, Zaid bin Haritsah, mantan budak yang dimerdekakan.

Zainab sontak menolak. “Aku tidak ingin menikah dengannya,” katanya. Bukan hanya Zainab yang menolak, tetapi juga kakak laki-lakinya, Abdullah bin Jahsy.

Seorang perempuan dari galur terhormat, keturunan suku Quraisy dan Bani Hasyim, harus menikah dengan seorang lelaki – yang betapapun ia telah merdeka – memiliki jejak perbudakan dalam statusnya. Bagi keluarga Zainab, langkah ini terasa tak pantas, bahkan menjadi aib di tengah masyarakat.

Tetapi, memang demikianlah strategi sosial Nabi Muhammad SAW untuk memutus tali kekang struktur sosial yang tidak egaliter. Jauh sebelum Eropa menjunjung tinggi kesamarataan. Jauh sebelum masyarakat modern berteriak tentang keadilan akses, kesetaraan jender, dan kesamaan status. Dalam Islam, tidak ada keganjilan dalam ragam suku, warna kulit, kewarganegaraan, tempat lahir, apalagi status pekerjaan dan keluarga. Yang membedakan derajat mereka di sisi Allah SWT adalah ketakwaannya semata.

Maka, memilih Zainab dan Zaid sebagai sepasang suami-istri adalah luncur strategi yang paling aman bagi Rasulullah. Beliau memilih membuat perubahan dari lingkar terdalam keluarganya sendiri, memberi contoh yang membuat mata banyak orang terbelalak dan tersadar penuh.

Membuat perubahan memang harus dimulai dari dalam diri sendiri, dari sumbu terdekat kelompok sendiri, dari dalam partai sendiri, dari ruang-ruang kerja sendiri. Menyerukan perubahan kepada orang banyak tanpa mengubah apa yang ada di sekitarnya hanyalah angan-angan dan omong kosong belaka. Meminta orang lain berpindah haluan tanpa menggeser kakinya sendiri adalah retorika palsu – seberapapun baik dan hebatnya ide perubahan yang diusungnya itu.

Nabi Muhammad SAW kali itu membuktikan hal yang sempurna. Ia didorong oleh wahyu Allah SWT. Bahkan, ketika Zainab dan keluarganya menolak, wahyu Allah serta merta turun untuk menguatkan melalui Surat Al Ahzab ayat 36.

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka."

Jika Allah dan Rasul-Nya telah membuat keputusan, tidak ada ruang untuk menentukan pilihan lain. Satu-satunya jalan adalah dengan mengikuti dan mematuhinya. Zainab pun luluh. “Engkau rela menikahkan Zaid denganku?” tanyanya kepada Rasulullah. Setelah Rasulullah mengafirmasi, Zainab hanya memiliki satu jawaban, “Aku rela dinikahkan dengannya.”

Tetapi, betapapun Zainab merasa rela dengan keputusan Nabi Muhammad SAW, hatinya masih juga gundah gulana. Sekali ia menatap Zaid, sepuluh kali ia berpaling wajah dari Zaid. Baginya, masih ada rasa ketidakpantasan dinikahi oleh seorang mantan budak. Hatinya resah, bahkan berkali-kali disertai kemarahan. Jika Zaid datang kepadanya dengan tutur yang lembut, Zainab membalasnya dengan ketus. Cukup untuk membuat Zaid terpojok, mengkerut.

Mengubah perspektif ternyata teramat berat. Apalagi bagi mereka yang pernah berada di ketinggian, lalu diminta merunduk dan menunduk, Apalagi bagi mereka yang terbiasa duduk dalam kemewahan dan kesenangan, lalu terpaksa bersila sama rata dengan mereka yang sederhana dan kesusahan.

Menikah, bagi Zainab, tak memberikannya ketenangan. Begitupun pada Zaid. Bagaimana mungkin ia merasa sakinah, tenang, tenteram, jika setiap kali masuk ke dalam pintu rumahnya sendiri hanya untuk mendengar keluh kesah dan keangkuhan istrinya yang belum juga rela menikah dengan dirinya?

Telah genap satu tahun pernikahan mereka ketika akhirnya Zaid datang ke hadapan Rasulullah dan menyatakan ketidaksanggupannya untuk meneruskan mahligai pernikahannya. “Aku ingin bercerai darinya,” kata Zaid.

Rasulullah mengabaikan kehendak itu. Amsik ‘alayka wazawjaka wattaqillah, pesannya kepada Zaid. Tahanlah dirimu dan janganlah menceraikan istrimu. Tetapi, teruslah bertakwa kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW tengah berupaya mempertahankan perahu yang retak, juga strategi yang semula diusungnya untuk membenahi masyarakat.

Allah SWT kemudian menegur langsung Nabi Muhammad SAW, seolah ingin menyampaikan bahwa strategi sosial dan kehendak politik manusia tak boleh mengalahkan kehendak dan garis yang ditulis Allah. Watukhfiy fiy nafsika mallaahu mubdiihi watakhsyannaas. Jangan sembunyikan apa yang Allah akan menyatakannya. Jangan kaburkan sesuatu yang kau tahu bahwa Allah telah jelas gariskan. Jangan takut, khawatir, dan merasa rendah diri jika nanti stategi dan pilihan-pilihan manusiawimu sendiri diolok-olok oleh orang lain di kemudian hari. Zaid pun akhirnya bercerai dari Zainab.

Pada titik ini, Nabi Muhammad SAW juga memberi jalan pelajaran baru dalam pernikahan. Pasangan itu diciptakan, kata Allah, litaskunuu ilayhaa.Supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Supaya mengalir dalam dirimu rasa tenang. Supaya tumbuh dalam dirimu dan pasanganmu rasa cinta kasih dan kasih sayang yang saling berbalas. Bukan ketidakrelaan satu sama lain, bukan keterpaksaan satu dengan yang lain, bukan rasa jengah saat yang satu melihat yang lain.

Pada titik itu pula, ada jalur hikmah lain yang menetes padanya. Gelombang pasang surut rumah tangga selalu muncul seperti ombak di laut. Tenangnya adalah kedalaman rasa antara kedua pasangan. Riaknya adalah kedangkalan dan ketidaksamarataan.

Cinta sebesar apapun selalu memiliki ancamannya tersendiri dari perbedaan status antara kedua pasangan, antara kedua keluarga, antara kedua suku, antara kedua garis keturunan, antara kedua derajat keduniawian.

Se-kufu, sederajat, keseimbangan status, memang bukan syarat mutlak pilihan pernikahan, tetapi setidaknya mereduksi potensi buruk agar gelombang pasang tak berubah menjadi pusaran badai yang melumat bahtera pernikahan.

Menikah itu jalan sakinah.

Oleh : dr. Ahmad Fuady, M.Sc.-HEPL

Peneliti di Erasmus University Medical Center, Rotterdam, Belanda. Penulis buku “Negeri Sukun: Kelakar Sang Kiai untuk Negeri”

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya