Kelaparan, Tradisi Berbagi dan Kembali ke Masjid

Rabu 13 Mei 2020 03:45 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 12 330 2212958 kelaparan-tradisi-berbagi-dan-kembali-ke-masjid-ThJ6w4PGGX.jpg Gerakan Kembali ke Masjid Harus Jadi Garda Depan Melawan Kemiskinan (Foto: Shutterstock)

Cerita soal meninggalnya seorang Ibu di Serang, Banten, yang diduga karena kelaparan, membuat miris banyak orang. Meski belakangan kabar tersebut dibantah oleh pihak keluarganya, namun tetap saja kejadian tersebut harus menjadi perhatian kita semua.

Rasulullah bersabda: “Tidaklah beriman kepada-Ku orang yang tidur dalam keadaan kenyang. Sedang tetangganya kelaparan sampai ke lambungnya. Padahal ia (orang yang kenyang) mengetahui,” (HR. Ath-Thabrani).

Kelaparan dan kemiskinan, dalam pandemi Covid-19 menjadi ancaman global. Dalam riset terbarunya, SMERU Research Institute menyatakan bahwa dalam skenario terberat akibat pandemi Covid-19, angka kemiskinan di Indonesia pada Maret 2020 diproyeksi naik hingga 12,4 persen. Jumlah penduduk miskin di seantero negeri pun bertambah menjadi 33,24 juta orang, bertambah 8,5 juta orang miskin baru.

Data tersebut harus dilihat sebagai peringatan awal agar kita lebih waspada. Data tersebut jangan disikapi dengan penuh pesimis. Kita harus tetap optimis. Sesulit apapun keadaannya, kalau dilakukan secara bersama-sama maka akan mudah dilalui. Syaratnya cuma satu, kita harus mau berbagi dengan sesama.

Soal berbagi ini, Turki punya cerita

Di negeri yang terkenal dengan kebabnya itu, ada kebiasaan yang mungkin bisa kita contoh. Yaitu, kebiasaan menitipkan sebagain roti kepada penjual roti untuk diberikan kepada siapapun yang datang ke tokonya dan tidak memiliki uang untuk membeli. Tradisi yang disebut Askida Ekmek (roti di gantungan) atau roti yang ditangguhkan, sudah terjadi dan dilakukan berabad-abad lamanya di negara tersebut.

Biasanya, orang yang ingin sedekah, pergi ke toko roti. Pada saat membayar, ia menyampaikan bahwa kelebihan dari pembayaran (misalnya dia membayar 4 roti tetapi hanya diambil 2 roti) untuk Askida Ekmek.

Selanjutnya sama penjualnya, kontribusi dua roti tersebut akan dikantongi dan digantung bersama sedekah orang lain dalam sebuah keranjang gantung. Apabila ada orang yang datang pada hari itu dan bertanya apakah ada roti di keranjang? (askida ekmek var mi?), lalu penjual tersebut mengambil roti di keranjang yang digantung tersebut secukupnya secara gratis untuk diberikan kepada orang tersebut.

Biasanya, orang yang sedang membutuhkan tersebut tidak akan mengambil melebihi dari yang dibutuhkan. Bahkan apabila penjual tokonya memberi lebih, mereka akan menyampaikan bahwa ini berlebihan untuk dirinya, dan siapa tahu ada orang lain pada hari itu yang juga membutuhkan roti tersebut.

Suatu hari, apabila orang yang tadinya mendapatkan roti gratis tersebut memiliki rezeki lebih, maka dia juga akan melakukan hal yang sama, yaitu membeli roti dan sebagiannya akan di askida ekmek-kan untuk orang lain. Dengan demikian, tidak ada orang yang kelaparan di lingkungan mereka.

Cerita berbagi dengan sesama di Turki tersebut, bisa kita contoh untuk menghindarkan adanya orang yang kelaparan di lingkungan kita. Misalnya, masing-masing dari kita membiasakan diri apabila ada rezeki, membeli nasi 2 bungkus, namun yang diambil hanya satu bungkus. Sisa uang satu bungkus disimpan oleh penjual nasi, lalu penjual nasi menulis di papan atau kaca depan warungnya: “ada satu nasi bungkus gratis bagi yang membutuhkan.”

Bayangkan kalau dalam sehari ada 10 orang yang bersodaqoh masing-masing 1 nasi bungkus. Maka hari itu, di warung itu, ada 10 nasi bungkus gratis. Model sedekah seperti ini, akan memudahkan bagi orang yang mau berbagi rezeki menemukan orang yang betul-betul membutuhkan makanan. Selain itu, model sedekah seperti ini juga akan menghindarkan pemberi sedekah dari sifat riya’.

Mengapa? Sebab antara pemberi dan yang menerima tidak bertemu secara langsung. Penerima makanan tersebut tidak tahu siapa yang hari itu begitu baik memberinya makan. Begitu juga sebaliknya.

Tradisi lain yang bisa dilakukan, untuk menghindari adanya kelaparan di lingkungan kita adalah dengan menghidupkan masjid sebagai pusat peradapan masyarakat. Masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah mahdloh, seperi sholat dan mengaji Alquran, tetapi juga harus menjadi pusat dalam ibadah yang terkait dengan hubungan sosial masyarakat.

Bagaimana caranya? Setidaknya ada dua. Pertama, saat ini, biasanya kotak amal di masjid hanya terkait dengan kotak amal untuk perawatan dan pembangunan masjid, atau kotak amal yang terkait dengan biaya rutin keperluan masjid. Ke depannya harus dipertimbangkan, ada satu kotak amal khusus untuk keperluan menyediakan makanan setiap hari di masjid.

Kotak itu, bisa ditempatkan di depan masjid yang mudah dijangkau oleh jama’ah atau oleh siapapun yang ingin bersodaqoh. Berapapun hasil dari kotak amal khusus tersebut, oleh pihak pengurusmasjid, dibelanjakan makanan untuk diberikan secara gratis kepada orang-orang yang membutuhkan.

Dalam konsep sederhana, di depan masjid disediakan meja atau tempat khusus untuk menaruh makanan, dan siapa pun yang sedang membutuhkan bisa mengambilnya. Tradisi ini apabila dilakukan secara terus menerus, dalam jangka panjang akan mengubah persepsi masyarakat. Apabila ada orang yang sedang kelaparan di lingkungan tersebut, atau kalau ada orang dalam perjalananan yang kelaparan dan tidak memiliki uang, maka ingatan pertama mereka adalah mencari masjid terdekat.

Kedua, dengan memberi imbauan kepada para jamaah atau masyarakat di dekat masjid, untuk melakukan zakat maal ke masjid-masjid terdekat. Hal tersebut saat ini sudah dilakukan, di mana setiap bulan puasa, para pengurus masjid menerima zakat maal dan zakat fitrah untuk selanjutnya disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Untuk zakat fitrah, sudah berjalan efektif. Namun untuk zakat maal, rasanya masih perlu terus didorong agar masyarakat mau membayarkan zakat maal-nya melalui pengurus masjid terdekat.

Mengapa ke Masjid? Karena harus diakui bahwa pengurus masjid lebih mengetahui kondisi masyarakat sekitarnya. Para pengurus masjid, di banyak tempat, biasanya juga adalah tokoh masyarakat yang juga aktif di kepengurusan Rukun Tetangga (RT) atau Rukun Warga (RW) yang day to day mengetahui secara persis siapa-siapa warga di sekitarnya yang membutuhkan dan sedang “kelaparan”.

Oleh karenanya, gerakan kembali ke masjid sebagai garda terdepan dalam mengentaskan kemiskinan dan kelaparan harus terus di dorong, apalagi dalam bulan puasa yang penuh berkah ini. Wallahu A'lam Bishawab.

Oleh : Abdul Ghoffar Husnan

Sekretaris Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP-ISNU) 2018-2023. Alumni Pondok Pesantren Ihyaul Ulum, Dukun, Gresik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini